Puisi oka swastika mahendra

1
Kedalaman lahir batin kami menunduk sunyi
Di ambang waktu biru bergetar oleh panggilan suci
Puasa menjadi sarana jembatan antara raga dan nurani,
Kami berjalan pelan menakar diri sering lalai,
Dalam desah nafas menyebut nama-Mu
Ada luka, ada khilaf belum termaafkan
Maka kami datang membawa seluruh kerendahan.

2
Bagi sekalian saudara dalam iman mukmin,
Kami titip salam dari hati yang ingin bersih,
Ketundukan puasa mengajarkan arti kehilangan,
Agar kami tahu makna memiliki yang sejati,
Setiap lapar adalah pengingat akan sesama,
Setiap dahaga adalah jalan menuju sabar,
Setiap diam adalah doa mengalir.

3
Hidup dalam endapan makna iman terdalam,
Kami menyelam tanpa suara, tanpa riuh dunia,
Menggali cahaya di antara gelap keinginan,
Menemukan Tuhan dalam sunyi jujur
Tak ada yang lebih dekat selain rasa tunduk,
Tak ada yang lebih luas selain rahmat-Mu,
Tetap memeluk kami bahkan saat kami lupa.

4
Berjuang menahan segala keinginan raga
Adalah perang sunyi yang tak terlihat mata,
Di balik senyum, ada gelombang ditenangkan,
Di balik diam, ada gejolak dipadamkan,
Kami belajar menjadi kecil di hadapan-Mu,
Melepas ego yang sering meninggi,
Kembali menjadi hamba yang utuh.

5
Padamkan jiwa api bakar kesombongan,
Masukl dalam keheningan samudra dzikir,
Di sana tak ada hiruk, hanya gema nama-Mu,
Itikaf menjadi rumah bagi jiwa lelah,
Kami duduk bersimpuh dalam waktu suci,
Menjahit kembali iman yang sempat robek,
Dengan benang doa tak putus.

6
Dalam pakaian hati bersih dan sederhana
Kami berdiri bersaf-saf tanpa perbedaan,
Serentak menyeru dengan satu suara
Allahu Akbar menggema menembus langit
Tak ada yang lebih tinggi selain Engkau,
Tak ada yang lebih layak selain penyembahan,
Kami hanyalah debu yang Kau hidupkan.

7
Kesejukan khutbah meresap dalam rasa bersama,
Menjadi embun bagi jiwa mulai retak,
Kata demi kata menuntun langkah kami
Mengajak kembali pada jalan lurus,
Dalam kebersamaan kami temukan kekuatan
Dalam persaudaraan kami temukan makna,
Bahwa iman tak pernah tumbuh sendirian.

8
Menuju esok lebih bermakna
Kami rapikan niat dan langkah tertatih
Meninggalkan jejak lama penuh noda
Mengganti dengan harap yang baru tumbuh,
Maaf menjadi jembatan antar hati,
Menghapus jarak yang pernah tercipta,
Menyatukan kami dalam cahaya.

9
Maka dari kedalaman lahir dan batin ini
Kami sekeluarga memohon maaf setulusnya
Atas kata yang melukai, sikap yang mengabaikan,
Atas dosa yang tampak maupun tersembunyi,
Semoga Tuhan melembutkan hati kita semua,
Menerima puasa dan segala doa yang terpanjat,
Dan menjadikan kita insan yang kembali suci.

Jogjakarta, 20 Maret 2026

Advertisement
Artikulli paraprakFormalitas Lebaran

Tinggalkan Komentar