Oleh : Radhar Tribaskoro

Ada satu momen dalam hidup sebuah bangsa ketika ia berhenti sejenak—bukan karena kalah, bukan karena lelah, tetapi karena sadar: ada yang harus dibersihkan, bukan di jalanan, bukan di gedung-gedung, melainkan di dalam dirinya sendiri.

Lebaran adalah momen itu.

Ia bukan sekadar perayaan setelah sebulan menahan lapar. Ia adalah jeda yang memberi makna pada perjalanan panjang sebuah kesadaran. Ia adalah ruang sunyi, tempat manusia—dan mungkin juga bangsa—berani mengakui: kita pernah keliru, kita pernah menyimpang, kita pernah terlalu percaya diri pada hal-hal yang rapuh.

Indonesia, dalam banyak hal, seperti manusia yang sedang berpuasa panjang—bukan hanya dari makanan, tetapi dari kejujuran yang utuh.

***

Kita adalah bangsa yang lahir dari harapan yang besar. Dari tangan-tangan yang kosong, dari suara-suara yang nyaris tak terdengar, dari keberanian yang kadang lebih besar dari logika. Kita pernah percaya bahwa kemerdekaan adalah pintu menuju keadilan. Kita pernah yakin bahwa kekuasaan bisa dijaga agar tidak menjadi kerakusan.

Namun waktu mengajarkan sesuatu yang lain.

Bahwa kemerdekaan tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan. Bahwa demokrasi tidak selalu menghasilkan keadilan. Bahwa hukum bisa menjadi alat, bukan penjaga. Dan bahwa kekuasaan, seperti air, selalu mencari celah untuk menggenang.

Di situlah kita mulai lupa.

Lupa bahwa bangsa ini dibangun bukan hanya dengan strategi, tetapi dengan pengorbanan. Lupa bahwa negara bukan sekadar mesin kekuasaan, tetapi ruang moral tempat manusia diuji. Lupa bahwa rakyat bukan angka, melainkan suara yang harus didengar.

Dan dalam lupa itu, kita pelan-pelan membangun sesuatu yang tidak kita sadari: sistem yang rapi, tetapi tidak adil; stabilitas yang tenang, tetapi rapuh; kemajuan yang terlihat, tetapi tidak merata.

Lebaran datang bukan untuk menutup cerita itu.

Ia datang untuk membukanya kembali.

Seperti seorang anak yang pulang ke rumah setelah lama tersesat, Lebaran adalah ajakan untuk kembali. Kembali kepada apa yang pernah kita janjikan, kepada apa yang pernah kita cita-citakan, kepada apa yang pernah kita anggap benar.

Dalam bahasa agama, itu disebut taubat . Dalam bahasa bangsa, mungkin itu adalah koreksi diri.
Sebuah keberanian untuk berkata: kita salah.

Dan lebih dari itu—sebuah tekad untuk tidak mengulanginya.

Tetapi bangsa tidak seperti individu. Ia tidak bisa menangis sendirian di malam hari, lalu bangun keesokan pagi dengan hati yang bersih. Ia terdiri dari jutaan kepentingan, ribuan struktur, dan lapisan-lapisan kekuasaan yang saling bertaut.

Maka pertobatan sebuah bangsa bukanlah peristiwa emosional. Ia adalah proses.

Proses yang panjang, kadang menyakitkan, sering kali tidak populer.

Ia membutuhkan lebih dari sekadar niat baik. Ia membutuhkan keberanian untuk membongkar kebiasaan. Untuk mengubah cara kerja. Untuk menata ulang relasi antara kekuasaan dan rakyat. Untuk mengembalikan hukum pada fungsinya—bukan sebagai alat, tetapi sebagai batas.

***

Lebaran, dalam pengertian itu, bukan akhir dari perjalanan spiritual. Ia adalah awal dari perjalanan politik yang jujur.

Namun di tengah semua itu, kita tidak boleh lupa: Indonesia bukan hanya kumpulan masalah.

Ia juga kumpulan kekuatan.

Di balik kegaduhan politik, ada ketahanan sosial yang luar biasa. Di balik ketimpangan ekonomi, ada kreativitas yang tak pernah padam. Di balik kelemahan institusi, ada masyarakat yang terus belajar, terus bergerak, terus mencari cara untuk memperbaiki keadaan.

Kita adalah bangsa yang sering kali jatuh—tetapi tidak pernah benar-benar berhenti berjalan.

Itulah yang membuat harapan tetap hidup.

Bahwa di antara semua kekhilafan, selalu ada kemungkinan untuk memperbaiki. Bahwa di antara semua distorsi, selalu ada titik-titik kecil kebenaran yang bisa diperbesar. Bahwa di antara semua kepentingan, masih ada ruang untuk kepentingan bersama.

Mungkin, pada akhirnya, Lebaran bukan tentang kembali ke masa lalu.
Ia tentang membawa masa lalu itu ke masa depan—dengan kesadaran yang lebih jernih.

Tentang mengakui bahwa kita tidak sempurna, tetapi tidak menyerah pada ketidaksempurnaan itu. Tentang memahami bahwa kesalahan adalah bagian dari perjalanan, tetapi bukan alasan untuk berhenti memperbaiki.

Dan tentang satu hal yang sering kita lupakan: bahwa sebuah bangsa menjadi besar bukan karena ia tidak pernah salah, tetapi karena ia berani belajar dari kesalahannya.

Selamat Lebaran, Indonesia.

Mari kita mulai lagi—dengan lebih jujur, lebih rendah hati, dan lebih berani.===

CIMAHI, 22 Maret 2026

Penulis :
Pendiri Forum Aktivis Bandung
Anggota Komite Eksekutif KAMI
Presidium KAPPAK
Ketua Komite Kajian Ilmiah Forum Tanah Air

Advertisement
Artikulli paraprakIran Spiritual yang Mematerial
Artikulli tjetërAnatomi Kejatuhan Hegemoni: Lonceng Kematian bagi “Pax Americana”

Tinggalkan Komentar