Oleh: Pril Huseno

Beredar di medsos beberapa hari ini, rakyat Filipina terutama para pekerja kantoran, ramai-ramai berjalan kaki menuju tempatnya bekerja. Hal itu terjadi antara lain disebabkan oleh mahalnya harga BBM di Filipina. Masyarakat Filipina menyebut langkah berjalan kaki adalah pilihan penghematan BBM yang bisa dilakukan. Peristiwa itu, tak pelak merupakan dampak perang Iran vs USA-Israel yang mengakibatkan kelangkaan BBM di seluruh dunia. Tak heran, di Amerika Serikat sana, rakyatnya sudah menjerit karena harga BBM dan gas mendadak melonjak tinggi tinggi sekali.

Krisis energi yang melanda dunia hampir satu bulan terakhir mengiringi gejolak perang di Timur Tengah, menjadi tidak terhindarkan. Semua negara tak terkecuali Indonesia mulai was was dan menyiapkan segala strategi untuk mengatasi mahalnya harga BBM dunia. Saat ini saja harga minyak dunia per barel telah ‘’main’’ di kisaran 100 USD. Sebuah kenyataan yang jauh dari plafon harga BBM dunia yang dicatat di APBN 2026. Repotnya, dari sisi cadangan minyak harian kita hanya bertahan di kisaran 21 – 24 hari saja. Sementara Filipina yang diketahui cadangan minyak hariannya masih 45 hari, sudah buru-buru memesan BBM dari Rusia. Rakyatnya pun kini banyak menerapkan jalan kaki untuk menghemat BBM seperti di sebut di muka.

Cadangan di kilang minyak Indonesia? Kita hanya punya 6 kilang minyak sebagai tempat menyimpan Cadangan BBM. Terakhir kilang yang kita bangun adalah Kilang Balongan pada 1994. Kilang yang lain ada di kilang Refinery Unit (RU) V Balikpapan, kilang RU IV Cilacap, kilang RU VII Kasim, kilang RU II Dumai, kilang RU III Plaju.

Kebutuhan dana kita untuk membeli BBM masih dipasok separuhnya oleh pembelian impor. Kemampuan produksi BBM Indonesia sampai November 2025 berkisar hanya 606 ribu barel per hari. Sementara kebutuhan harian konsumsi BBM kita adalah 1,6 juta barel per hari. Otomatis untuk memenuhi kebutuhan BBM harian ditutupi dengan skema impor BBM.

Mengapa kemampuan produksi BBM kita kok hanya segitu? Itu lain cerita dan tidak usah dikisahkan dulu di sini.

Kembali ke Sepeda

Berkaca dari peristiwa di Filipina dan gejolak krisis energi dunia saat ini, agaknya tidak berlebihan jika kita sebagai rakyat kecil yang jelas membutuhkan BBM untuk hidup keseharian, perlu menerapkan langkah langkah penghematan serupa dengan Filipina.

Agak mengherankan, daripada berjalan kaki ke kantor, mengapa rakyat Filipina tidak menggunakan sepeda atau kereta angin dalam bahasa orang tua kita dulu? Apakah penggunaan sepeda di Filipina tidak begitu popular sebagaimana di Indonesia dulu?

Nah, pilihan menggunakan kembali sepeda sekarang agaknya sangat perlu. Jika perang Iran vs Amerika – Israel terus berlanjut dan memburuk hingga mengakibatkan kelangkaan BBM dan gas dunia, maka bagi rakyat Indonesia pilihan kembali ke sepeda merupakan pilihan rasional.

Sepeda, bagi masyarakat Indonesia dulu sebelum menjamurnya sepeda motor, adalah alat transportasi utama. Bagi negara yang baru merdeka pada 1945 dan seterusnya sampai sebelum 1970an di mana sepeda motor made in Japan mulai merajai jalanan di Jakarta, bersepeda adalah romantika yang mandarah daging dari perkotaan hingga perdesaan. Jika stamina cukup kuat, maka ke mana saja sampai dengan menggunakan kereta angin ini. Berkilo kilo meter jauhnya para orang tua kita dulu, santai saja bersepeda kumbang atau sepeda Omar Bakri kata Iwan Fals.

Apalagi jika hanya sampai ke tempat bekerja atau mencari nafkah bagi pedagang, pekerja lepas harian dan sebagainya. Maka, memang tidak berlebihan jika kita mulai melirik lagi penggunaan sepeda di jaman mahal dan langkanya BBM hari ini dan ke depan. Hari hari belakangan ini saja, pengumuman kenaikan BBM jenis Pertamax sekitarnya telah diumumkan pemerintah. Hanya Pertalite sebagai BBM yang dikonsumsi rakyat banyak, masih dipertahankan di harga Rp10.000 per liter.

Bersepeda, Gaya Hidup dan Pilihan Penghematan

Pada 10 tahun terakhir, kiranya penggunaan sepeda di Masyarakat Indonesia terlihat telah bermetamorfosa dari pilihan penghematan menjadi gaya hidup. Orang bersepeda, tidak lagi menggambarkan sebagai warga tidak mampu yang hanya bisa membeli kereta angin atau sepeda ketimbang mampu membeli sebuah sepeda motor seharga belasan juta.

Pada kisaran 10 tahun kemarin, toko-toko penjual sepeda telah menjual aneka jenis sepeda. Baik yang dikisaran 2-4 juta ataupun kisaran harga puluhan sampai 100 juta ke atas. Dan itu laku keras. Di mana-mana terlihat rombongan orang atau individu bersepeda menengah sampai mahal di jalan-jalan kota besar Indonesia. Tentu saja ada rombongan atau individu yang menggunakan sepeda balap khas atlit sepeda.

Bersepeda, telah menemukan ‘’slot’’nya sendiri di tengah masyarakat. Rasa gengsi tidak terhindarkan jika tak mempunya sepeda merk-merk terkenal seperti Polygon, Coyote, Genio dan lain-lain. Apalagi bagi pemilik Brompton, sepeda kalangan elit perkotaan seharga 75 jutaan ke atas. Hal itu mengiringi kebutuhan akan kesehatan individu yang ditengarai mampu dijaga dengan kegiatan olahraga bersepeda. Maka, kini sepeda telah naik kelas menjadi alat transportasi dan juga pemompa gengsi warga masyarakat yang ingin sekadar jalan jalan atau berolahraga.

Akhirul kalam, bagi kita di Indonesia, kiranya jika tidak terpaksa sekali tidak usahlah berjalan kaki ke kantor seperti warga Filipina, tapi cukup mengeluarkan Kembali sepeda kita masing-masing dari gudang penyimpanan, untuk berlatih Kembali menggunakan sepeda sebagai alat transportasi sehari-hari.

Itu lebih menyehatkan, rasional, dan merupakan pilihan bijak di zaman tidak menentu seperti sekarang. Terlebih lagi, bisa beromantis ria dengan pasangan sambil bersepeda santai.

Foto: smol.id

*) Telah tayang di kompasiana.com













Advertisement
Artikulli paraprakMinimarket Koperasi Desa, Bukan Minimarket Biasa
Artikulli tjetërCerita Tentang Etos Keguruan Dalam Diri Mas Yuwono Sudarsono

Tinggalkan Komentar