Makassar, Kansnews.com – Sejarah dan budaya Sulawesi Selatan tak lagi cukup disimpan rapi di rak arsip atau diperdebatkan di ruang-ruang terbatas. Ia perlu ditarik lebih dekat—ke ruang hidup sehari-hari—agar bisa disentuh, didengar, dan dimiliki oleh semua orang, termasuk difabel dengan beragam kebutuhan akses.
Dari kegelisahan itu, Workshop Co-Creation Inklusif bertajuk “Menjalin Risalah, Menjaga Warisan, Mengukir Hikayat yang Inklusif bagi Semua” digelar pada 4–5 April 2026 di Sekretariat Yayasan PerDIK, Makassar. Kegiatan ini menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan sekaligus mengembangkan Program Riwayat—sebuah platform budaya yang mendorong difabel terlibat aktif dalam produksi konten sejarah dan kebudayaan.
“Workshop ini merupakan bagian dari pengembangan Program Riwayat, sebuah inisiatif platform budaya inklusif yang mengedepankan partisipasi aktif disabilitas dalam proses penciptaan konten sejarah dan budaya,” ujar Ridwan Mappa, penanggung jawab program yang akrab disapa Daeng Maliq.
Kegiatan ini mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Dana Indonesiana. Bagi Daeng Maliq, dukungan tersebut menjadi sinyal penting bahwa upaya membangun ekosistem kebudayaan yang inklusif mulai mendapat tempat.
Pendekatan co-creation yang diusung bukan sekadar istilah teknis. Ia adalah cara pandang—bahwa penciptaan pengetahuan tidak lagi bersifat satu arah. Semua pihak, termasuk difabel, ditempatkan sebagai subjek yang setara untuk merumuskan ide, mengolah pengalaman, hingga melahirkan karya.
Di ruang workshop, gagasan itu dipraktikkan. Dua narasumber dihadirkan: Edy Thamrin, atau yang dikenal sebagai Yudhistira Sukatanya, serta Rusdin Tompo. Eddy, dengan jejak panjangnya sebagai budayawan dan sutradara teater, mengajak peserta membaca ulang lanskap sejarah Sulawesi Selatan dengan perspektif yang lebih terbuka sejak tahap konseptual. Sementara Rusdin Tompo berbagi pengalaman tentang bagaimana ide-ide mentah dapat diolah menjadi karya yang komunikatif, kontekstual, dan tentu saja, inklusif.
“Saya senang diajak berkolaborasi dalam Co-Creation Inklusif ini, sebagai bentuk dukungan terhadap Program Riwayat,” kata Rusdin.
Sulawesi Selatan, dalam kerangka kegiatan ini, dipandang sebagai ruang ingatan yang luas—menyimpan jejak kerajaan, riwayat pelaut, kisah perlawanan, hingga tradisi yang diwariskan lintas generasi. Namun, kekayaan itu belum sepenuhnya hadir dalam bentuk yang ramah bagi semua.
“Bagi ragam disabilitas, akses terhadap pengetahuan sejarah dan budaya masih sering terhalang. Informasi yang tersedia belum sepenuhnya ramah. Banyak yang bergantung pada visual tanpa alternatif, banyak yang tidak menyediakan narasi audio, banyak pula yang menggunakan bahasa yang sulit dipahami,” ujar Daeng Maliq.
Kondisi itu membuat sejarah terasa berjarak. Ia ada, tetapi tidak sepenuhnya bisa diakses. Bagi sebagian difabel, tumbuh tanpa akses memadai terhadap cerita tentang tanahnya sendiri bukanlah hal baru. Padahal, sejarah bukan sekadar kumpulan peristiwa. Ia adalah fondasi identitas, rasa memiliki, dan kepercayaan diri sebagai bagian dari masyarakat.
Di titik inilah teknologi digital membuka kemungkinan. Informasi kini dapat disajikan dalam berbagai format—teks, audio, visual, hingga kombinasi multimodal. Jika dirancang dengan kesadaran inklusi, teknologi bukan hanya alat, tetapi jembatan.
“Jika dikelola dengan pendekatan yang tepat, teknologi dapat menjadi jembatan yang menghubungkan kembali disabilitas dengan warisan budayanya. Berangkat dari kesadaran tersebut, pendekatan Co-Creation Inklusif menjadi penting,” imbuh Daeng Maliq.
Workshop ini pun dirancang bukan sekadar forum diskusi, melainkan ruang kerja bersama. Peserta dari berbagai ragam disabilitas—netra, Tuli, fisik, psikososial, hingga intelektual—diajak menyusuri sejarah, mengenali warisan, lalu mengolahnya menjadi cerita baru.
Cerita yang lebih terbuka.
Cerita yang lebih ramah.
Cerita yang bisa diakses oleh semua.
Dengan melibatkan difabel secara langsung, konten yang dihasilkan diharapkan tidak hanya lebih relevan, tetapi juga lebih adil dan representatif. Program Riwayat tidak sekadar merawat ingatan masa lalu, tetapi juga berupaya membuka jalan menuju masa depan kebudayaan yang lebih inklusif.
“Sejarah tidak boleh eksklusif. Ia harus bisa disentuh, didengar, dipahami, dan dimiliki oleh siapa saja,” tegas Daeng Maliq.
Upaya ini tidak berhenti di ruang workshop. Saat ini, Program Riwayat juga tengah mengembangkan platform website berbasis prinsip Web Content Accessibility Guidelines (WCAG). Prinsip ini memastikan konten dapat diakses oleh berbagai kebutuhan pengguna—mulai dari teks alternatif, deskripsi gambar, dukungan pembaca layar, hingga opsi audio.
Pendekatan tersebut menegaskan satu hal: difabel bukan hanya penerima informasi, melainkan pencipta. Mereka tidak lagi berada di pinggir narasi, tetapi ikut menulis, menyuarakan, dan merawatnya.
Ke depan, Program Riwayat diharapkan melahirkan lebih banyak konten budaya yang inklusif sekaligus membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi masyarakat.
“Sejarah dan budaya seharusnya dapat diakses oleh siapa saja, dan wajib inklusif,” pungkas Daeng Maliq.











