Puisi anto narasoma

xin nien jua ile
ini pancaran lampion
yang memanjang dalam doa-doamu di kelenteng merah

lalu kau bakar sepasang
gaharu yang memancarkan aroma gadis-gadis cantik di sepanjang doamu, siaw cie.

tatkala bibirmu memerah dalam permintaan, asap-asap chen xiang seharum dupa di ruang vihara itu membuka ruang atas kayu-kayu resi aromatik bagi kata hatimu
xin nien jua ile
ini pancaran lampion
yang memanjang dalam doa-doamu di kelenteng merah

lalu kau bakar sepasang
gaharu yang memancarkan aroma gadis-gadis cantik di sepanjang doamu, siaw cie.

tatkala bibirmu memerah dalam permintaan, asap-asap chen xiang seharum dupa di ruang vihara itu membuka ruang atas kayu-kayu resi aromatik bagi kata hatimu

* mama, kuhimpun abu rahimmu yang terkulai setelah doa ini merangkul abu papa yang sudah lebih dahulu berpeluk tanah terakhir, katamu

altar pemujaan itu pun mengulurkan fatwa di antara kemilau wajah-wajah chungkwok jen

o, begitu merekah bunga-bunga bougenvile pada bintik baju cheongsam semerah api

sebab,
keanggunanmu pada krah yang menutupi
cahaya lampion pada wajahmu secantik pandangan ; dikitari ribuan tatapan setelah aku terasing sendiri

* Catatan : Siawcie (gadis), xin nien jua ile (selamat tahun baru), lampion (lampu merah khas Tionghoa), chen xiang (gaharu), chungkwok jen (orang Tionghoa), dan cheongsam (baju tradisional China)

Palembang
16 Februari 2026

Advertisement
Artikulli paraprakPaus yang Digelisahkan oleh (Para Penghasut) Perang
Artikulli tjetërSajak Kotak Cermin 2

Tinggalkan Komentar