us election box vote isolated or realistic empty ballot box with voting paper. eps vector

Oleh: Sobirin Malian (Dosen FH UAD)

Kita sering mengutuk korupsi seolah ia adalah tamu tak diundang, padahal ia adalah anak kandung yang kita besarkan dalam “kehampaan jiwa”. Namun, sadarkah kita bahwa di tengah kegilaan ini, bangsa kita sedang berjalan di tempat—bahkan mundur jauh ke belakang? Sementara bangsa lain berlari mengejar peradaban, kita justru sibuk mengubur diri dalam lubang yang kita gali sendiri.

Pemilu: Pasar Gelap Suara dan Pesta Kecurangan

Setiap lima tahun, kita menggantungkan asa pada kotak suara sebagai titik balik. Namun, bagaimana mungkin kita mengharapkan fajar pembersihan jika prosesnya sendiri adalah kegelapan? Kita harus jujur: Pemilu kita seringkali bukan lagi panggung kedaulatan, melainkan pasar gelap tempat terjadinya buying voters secara masif.

Kecurangan tidak lagi hanya soal uang di dalam amplop, tapi sudah berevolusi menjadi manipulasi sistemik—mulai dari penyalahgunaan fasilitas negara, netralitas aparat yang tergadai, hingga manipulasi penghitungan suara di meja-meja kekuasaan. Pemilu yang kotor secara otomatis akan melahirkan rezim korupsi berulang. Ketika mandat dibeli dengan transaksi dan kecurangan, maka pengabdian kepada rakyat hanyalah dongeng; yang ada hanyalah upaya mengembalikan “modal” melalui korupsi, suap, dan gratifikasi.

Retorika Antartika: Janji yang Membeku

Kita kenyang dengan jargon-jargon heroik. Janji untuk memberantas korupsi hingga ke ujung dunia—bahkan hingga ke Antartika—ternyata hanyalah retorika dingin yang membeku di bawah tumpukan balas budi politik. Faktanya, korupsi elektoral inilah yang menjadi “ibu dari segala korupsi” (mother of corruption), yang membuat kebijakan negara senantiasa sesat arah dan hanya memihak pada pemilik modal serta oligarki.

Dampak Nyata: Ketertinggalan dan Kemiskinan Sistemik

Sadarkah kita? Masifnya korupsi yang lahir dari rahim Pemilu curang telah membuat negara ini tertinggal jauh. Dana yang seharusnya membangun sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur masa depan, justru menguap ke kantong-kantong pribadi. Rakyat miskin tetap miskin bukan karena malas, melainkan karena hak-hak ekonomi mereka dirampok oleh sistem yang dirancang untuk memenangkan para penipu.

Hukum sebagai Pedang, Bukan Pajangan

Kita tidak butuh keajaiban “Ratu Adil”. Yang kita butuhkan adalah hukum yang berani menebas elang-elang kekuasaan, bukan hanya menjerat lalat-lalat kecil. Menghukum keras satu koruptor kakap hasil Pemilu curang jauh lebih bernilai untuk memulihkan memori kolektif bangsa daripada memenjara seribu pelanggar kecil demi angka statistik.

Kembali ke Ibu Pertiwi

Sudah saatnya kita berhenti disuapi janji. Kita butuh “patriotisme feminin”: keberanian untuk merawat kedaulatan dan nyali untuk menolak menjadi bagian dari transaksi buying voters. Disiplin hukum harus menjadi napas, agar kepatuhan menjadi kebiasaan, bukan paksaan. Negara ini takkan bergerak maju selama mahkota kekuasaan masih dibeli dengan kecurangan. Kita butuh lebih dari sekadar memilih; kita butuh memutus rantai perbudakan mental ini agar hukum benar-benar tegak dan cinta kembali pulang ke rumah.

Advertisement
Artikulli paraprakMenggali Energi dengan Lebih Sedikit Manusia dan Empat Tahap Artificial Intelligence
Artikulli tjetërPola Fir’aun

Tinggalkan Komentar