Salah satu cara paling tua yang dipakai kekuasaan besar untuk melemahkan umat Islam adalah dengan menghidupkan kembali luka mazhab.
Perbedaan Sunni dan Syiah, yang seharusnya dapat dibaca sebagai bagian dari khazanah panjang peradaban Islam, sering dipelintir menjadi alat adu domba.
Washington dan Tel Aviv memahami betul bahwa masyarakat yang terpecah oleh kecurigaan internal akan lebih mudah dikendalikan daripada masyarakat yang sadar akan musuh strukturalnya.
Ketakutan mereka terhadap Syiah bukan semata karena Syiah adalah mazhab fikih yang memiliki pandangan tertentu tentang halal dan haram. Lebih dari itu, Syiah mengandung sebuah pandangan dunia. Di dalamnya terdapat penekanan kuat pada keadilan, keberpihakan kepada kaum tertindas, penolakan terhadap tirani, dan kesetiaan kepada nilai-nilai perlawanan.
Dalam sejarah politik modern, pandangan semacam ini tentu dianggap berbahaya oleh setiap bentuk imperialisme dan kolonialisme.
Bagi imperium, agama yang hanya berhenti pada ritual mungkin masih bisa ditoleransi. Tetapi agama yang melahirkan kesadaran politik, keberanian moral, dan pembelaan terhadap mustadh‘afin akan selalu dianggap sebagai ancaman.
Di titik inilah Syiah sering diposisikan bukan hanya sebagai mazhab, melainkan sebagai kekuatan ideologis yang mengganggu tatanan dominasi global.
Namun ada ironi besar di sini. Mereka yang berusaha memerangi dan menghapus pengaruh Syiah sering lupa bahwa yang mereka hadapi bukanlah gagasan baru yang lahir dari ruang propaganda modern. Syiah memiliki akar historis yang sangat panjang dalam tradisi Islam. Dalam sejumlah riwayat yang dikenal dalam khazanah Sunni maupun Syiah, terdapat sabda Nabi Muhammad saw. kepada Imam Ali:
“Ya Ali, anta wa syi‘atuka humul fa’izun.”
“Wahai Ali, engkau dan para pengikutmu adalah orang-orang yang beruntung.”
Kata al-fa’izun bukan istilah biasa. Dalam bahasa Al-Qur’an dan tradisi Islam, ia merujuk pada kemenangan sejati, keberuntungan spiritual, dan keselamatan di hadapan Allah.
Karena itu, penyebutan para pengikut Ali sebagai al-fa’izun mengandung makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar identitas kelompok. Ia menunjuk pada jalan kesetiaan, keadilan, dan keberpihakan kepada kebenaran.
Maka, upaya memusuhi Syiah dengan cara memecah belah umat sesungguhnya tidak akan pernah menyentuh akar persoalan. Sebab yang dilawan bukan sekadar komunitas politik kontemporer, melainkan sebuah ingatan historis dan pandangan dunia yang telah hidup sejak masa awal Islam. Selama nilai keadilan, keberanian melawan tirani, dan pembelaan kepada yang tertindas tetap hidup, selama itu pula spirit semacam ini tidak akan mudah dipadamkan.
Imperium boleh memiliki senjata, media, dan jaringan pengaruh. Tetapi sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa kekuatan material tidak selalu mampu mengalahkan keyakinan yang berakar dalam kesadaran spiritual. Syiah, dalam pengertian pandangan dunia tersebut, bertahan bukan karena ia dilindungi oleh kekuasaan, melainkan karena ia hidup dalam narasi tentang keadilan, pengorbanan, dan perlawanan terhadap penindasan.
Pada akhirnya, adu domba mazhab hanya akan berhasil jika umat Islam kehilangan kejernihan membaca sejarah.
Tugas umat bukan memperpanjang permusuhan yang diwariskan oleh politik imperium, tetapi memahami bahwa perbedaan mazhab tidak boleh menghapus musuh bersama: Kezaliman, penjajahan, dan segala bentuk penindasan terhadap manusia.
(Dirangkum dari Pemikiran Sayuti Assyatri)
Advertisement











