Oleh: Akbar AP

Pada Jumat malam, 15 Mei 2026, menjadi momentum penting bagi Komunitas Sastra Tukar Akar karena Forum Sastra edisi ketujuh digelar via Zoom Meeting. Selama 2 jam, diskusi bertema “Sastra dan Disabilitas Netra” digelar dan dihadiri sejumlah 20 peserta. Sebagai pemantik adalah Alex Sitorus, seorang guru tunanetra berlatar belakang Pendidikan Bahasa Inggris lebih dari setahun sekaligus sekertaris komunitas. Adapun Forum Sastra sendiri merupakan salah satu program bulanan Tukar Akar yang mewadahi berbagai diskursus, kreatifitas, dan ekspresi anggota dalam ragam tema kesusastraan. Demikian yang dapat disimpulkan dari pengantar yang dipaparkan Kei Kurnia, ketua Tukar Akar.

Selanjutnya, Alex menyampaikan sastra dalam perspektif disabilitas netra. Menurutnya, ada 3 kategorisasi dari tema ini. Sastra dan pengalaman pribadi, sastra dan percintaan, serta sastra dan pariwisata disabilitas netra. Dalam sastra dan pengalaman pribadi, Alex memaparkan bahwa karya sastra teman-teman disabilitas netra bisa lahir dari pengalaman sehari-hari, pengalaman emosional, bahkan pengalaman yang unik.

Pada kesempatan itu, Yuda Wirajaya dari Teater Braille diminta Alex untuk mengekspresikan sebuah puisi karyanya. Puisi mahasiswa tunanetra Teater ISI itu berjudul Balada Sang Buta, puisi yang berangkat dari sebuah insiden pada 2024 lalu. Insiden diterjang motor saat Yuda bersama seorang rekan tunanetra hendak menghadiri sebuah pertunjukan di Laboratorium Seni ISI Yogyakarta. Sendal dan tongkat terlempar jauh. Beruntung, keduanya mendapat pertolongan tukang parkir gedung laboratorium. Yuda menganggap sayang kalau peristiwa menyedihkan ini dilewatkan. Akhirnya, dengan modal aplikasi catatan, dia tulis puisi tersebut di gawainya.

Dalam sesi ini, Siti Azizah sebagai perwakilan dari F29 Family juga berinisiatif merespon sewaktu Alex melempar ruang berbagi pada forum. Zizie, demikian sapaannya menceritakan pengalamannya saat 8 tahun lalu, menghadapi bencana tsunami Palu bersama teman-teman tunanetra. Cerita yang menyedihkan memang, tapi baginya menjadi bahan bakar dalam berkarya. Sebuah cerpen lahir dan mendapatkan predikat pertama dalam sebuah perlombaan nasional yang salah satu jurinya adalah GolAgong, seorang penulis senior, Duta Baca Indonesia, dan disabilitas daksa.

Ikhwan Hanafi, salah satu mahasiswa tunanetra dari Bahasa dan Sastra Indonesia UNY juga membagikan pengalamannya menerbitkan 2 buah buku kumpulan cerpen, yaitu Berkilau Dalam Temaram (2021) dan Menuai Hikmah (2022). Menurutnya, menulis kumpulan cerpen tidak harus langsung jadi. Dia mengumpulkan cerita pendek yang ditulis satu demi satu judul sejak kelas 7 MTS. Alex juga menambahkan, dia juga berkarya membuat naskah Salah Doa lalu difilmkan karena pengalaman dirinya sebagai tunanetra mendapat pemberian uang dari orang-orang saat di jalan lalu dimintai doa agar hajatnya terkabul menjadi refleksi bahwa pandangan masyarakat terhadap tunanetra masih keliru. Hal ini diamini Hafizah dari F29 Family, jika lingkungan sekitar masih menganggap tunanetra itu suci sebab orang yang tidak bisa melihat itu tidak bisa apa-apa, termasuk berbuat dosa. Padahal tidak demikian kalau mengacu pada kekayaan pengalaman beberapa tunanetra tersebut.

Sesi selanjutnya, sastra dan percintaan semakin seru karena Alex piawai memantik forum dengan cerita pengalaman pribadi. Baginya, pacaran tunanetra sama seperti orang non disabilitas pada umumnya dalam beberapa hal dan berbeda pada masing-masing pengalaman yang dirasakan. Alex mengisahkan jika seorang tunanetra pacaran, maka pasangan biasanya menjemput atau keduanya saling menyepakati untuk bertemu di lokasi tertentu. Perasaan pahit yang dirasakan ketika si tunanetra itu tidak bisa memboncengkan pasangannya di atas motor biasa dirasakan lelaki tunanetra. Selain itu, ketertarikan tunanetra pada seseorang biasanya dimulai dari sikap, suara, dan gaya interaksi selama mereka berteman.

Sesi ini dimeriahkan oleh Akbar yang mengekspresikan sebuah puisi berjudul Sepenggal Senyum dari Cianjur. Puisi yang ditulisnya tahun lalu itu mengisahkan dan mengapresiasi seseorang yang telah setahun terakhir membersamainya. Pemuda itu menceritakan juga ketika perjalanannya ke Bandung April lalu, bagaimana dia menemui perempuan dalam puisinya, menikmati waktu bersama di alun-alun Cianjur, dan kondisi kebutaan dari keduanya tidak menjadi halangan karena kemampuan orientasi lingkungan mereka yang baik. Meskipun harus menelusuri jalan dengan masing-masing membawa tongkat dan harus llebih rajin bertanya kepada pengunjung lain.

Terakhir, sesi pariwisata tidak banyak yang terbahas karena keterbatasan waktu. Pada sesi ini Alexlebih menegaskan kalau tunanetra bepergian, baik sendiri maupun bersama orang sekarang semakin sering terlihat. Adanya akses informasi, tunanetra bisa mengetahui tempat-tempat yang memungkinkan untuk dikunjungi baik secara individu maupun komunitas. Akses informasi ini juga memudahkan tunanetra untuk memperkirakan seberapa mampu mereka mengorientasi lingkungan yang akan dikunjungi. Alex merefleksi pengalaman bersama seseorang yang dulunya pernah menddatangi hutan pinus dan Candi Prambanan. Orang itu mendampingi dari berangkat sampai pulang. Kuncinya di sini adalah komunikasi dan interaksi dari si tunanetra yang mau bepergian, demikian tukasnya.

Forum Sastra edisi ketujuh itu ditutup dengan foto bersama dengan dipandu Herwin selaku fotografer komunitas. Harapannya Forum Sastra tidak berhenti pada malam itu saja. Edisi-edisi selanjutnya akan lebih meriah dengan tema yang lebih beragam, menghadirkan sudut pandang yang segar.

Yogyakarta, 18 Mei 2026
Advertisement
Artikulli paraprakNegeri di Ujung Nafas

Tinggalkan Komentar