
Oleh: Sobirin Malian (Dosen FH UAD)
Slogan “Sell Indonesia” mendadak menjadi momok yang menghantui ruang ganti para investor dan linimasa media sosial. Dipicu oleh tajuk utama media finansial global seperti Bloomberg dan The Straits Times, narasi ini menggambarkan Indonesia seolah-olah sedang berada di ambang eksodus modal besar-besaran.
Namun, apakah gelombang ini mencerminkan kebangkrutan fundamental ekonomi, ataukah ia sekadar amplifikasi politik yang sengaja ditiupkan untuk menekan arah kebijakan domestik? Membedah fenomena ini memerlukan kejernihan untuk memisahkan antara angka yang jujur di atas papan perdagangan dan kebisingan retorika di ruang publik.
Jangkar Fakta: Ketika Pasar Modal Mengirim Sinyal Keras
Melihat “Sell Indonesia” sebagai isapan jempol belaka adalah sebuah bentuk penyangkalan yang berbahaya. Bagi para pelaku pasar, rumor ini memiliki jangkar realitas yang sangat kuat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak sedang berspekulasi; ia telah terkoreksi tajam hingga 35,3%, menjadikannya salah satu indeks dengan performa terburuk di panggung global saat ini.
Di saat yang sama, data mencatat arus modal asing yang menguap (capital outflow) dari pasar saham domestik telah melampaui angka Rp57 triliun. Tekanan ini menjalar ke sektor mata uang, memaksa Rupiah terdepresiasi hingga menembus level psikologis baru di angka Rp18.000 per Dolar AS. Ketika institusi global sekelas K2 Asset Management memutuskan untuk melikuidasi seluruh eksposurnya dari Indonesia, pasar sedang tidak melakukan agitasi politik—mereka sedang mengamankan aset dari risiko kelangkaan likuiditas dan fenomena teknis seperti inversi kurva imbal hasil (inverted yield curve). Di titik ini, “Sell Indonesia” adalah sebuah fakta keuangan yang tak terbantahkan.
Ruang Agitasi: Beban Fiskal Baru dan Distorsi Komunikasi
Namun, mengubah kepanikan pasar modal menjadi narasi bahwa “Indonesia sedang hancur” adalah lompatan logika yang sarat akan muatan agitasi. Pasar keuangan digerakkan oleh sentimen jangka pendek, bukan selalu oleh realitas jangka panjang. Investor global saat ini sedang cemas terhadap arah kebijakan fiskal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai kian populis—seperti program Makan Bergizi Gratis—serta pengetatan kedaulatan komoditas yang mengusik kenyamanan hub finansial regional.











