Yogyakarta, Kansnews.com – Kolaborasi antara Departemen Ilmu Mata Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kota Yogyakarta terus menghadirkan inovasi yang mengintegrasikan kesehatan, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan ekonomi lokal. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD) penelitian tematis bertajuk “WEDANG SAHAJA: Formulasi Daun Pegagan dan Kencur Hitam sebagai Suplemen Pasien Saraf Mata melalui Pemberdayaan UMKM dan Komunitas Difabel di Kota Yogyakarta”, yang diselenggarakan pada Rabu, 22 Juli 2026 di Mal Pelayanan Publik (MPP) Pemerintah Kota Yogyakarta.
Pembukaan
Kegiatan dibuka oleh Bintang Prasojo, S.E., M.Ec.Dev., mewakili BAPPEDA Kota Yogyakarta. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang hadir serta menegaskan bahwa penelitian ini merupakan bagian dari kegiatan Penelitian dan Pengembangan Bidang Sosial dan Kependudukan. Ia berharap forum diskusi ini dapat menghasilkan berbagai masukan yang memperkaya hasil penelitian sekaligus memberikan kontribusi bagi penyusunan kebijakan pembangunan daerah.
Paparan Inovasi Bidang Kesehatan: Wedang Sahaja
Mewakili tim peneliti, dr. Indra Tri Mahayana, Ph.D., Sp.M., FRSPH menjelaskan bahwa penelitian ini berangkat dari potensi besar tanaman herbal lokal yang dipadukan dengan pembuktian ilmiah. Menurutnya, kombinasi kencur hitam dan daun pegagan memiliki potensi sebagai terapi pendamping (adjuvant therapy) bagi penderita neuritis optik berdasarkan hasil penelitian sebelumnya. Selain memiliki manfaat kesehatan, kencur hitam juga merupakan salah satu tanaman herbal khas Daerah Istimewa Yogyakarta yang berpotensi dikembangkan menjadi produk unggulan daerah dengan nilai tambah ekonomi.

Selanjutnya, dr. Muhammad Taufiq Hidayat dari Departemen Ilmu Kesehatan Mata FK-KMK UGM memaparkan mengenai neuritis optik, yaitu peradangan pada saraf optik yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan, seperti penurunan tajam penglihatan, nyeri saat menggerakkan bola mata, dan gangguan persepsi warna. Beliau menjelaskan bahwa terapi utama neuritis optik akut masih berupa pemberian kortikosteroid dosis tinggi. Namun demikian, penelitian terus dikembangkan untuk menemukan terapi pendamping yang mampu memberikan efek neuroprotektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi kencur hitam dan daun pegagan berpotensi memberikan manfaat yang sebanding dengan vitamin B12 dalam membantu mempertahankan fungsi penglihatan pada pasien neuritis optik akut. Acara dilanjutkan dengan diskusi yang dipandu oleh dr. Indah Savitri yang juga merupakan anggota Tim Peneliti Wedang Sahaja.
Paparan Inovasi Bidang Ekonomi: SNI G2R Tetrapreneur
Paparan berikutnya disampaikan oleh Rika Fatimah P.L., S.T., M.Sc., Ph.D., selaku Founder, Konseptor, dan Tenaga Ahli Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneur sekaligus dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM serta Wakil Ketua Komite Teknis 03 – 13 untuk SNI G2R Tetrapreneur. Rika menjelaskan bahwa G2R Tetrapreneur merupakan program pemberdayaan dan penguatan masyarakat berbasis Ekonomi Pancasila yang terdiri atas empat pilar, yaitu Tetra 1 – Rantai Wirausaha, Tetra 2 – Pasar Wirausaha, Tetra 3 – Kualitas Wirausaha, dan Tetra 4 – Merek Wirausaha. G2R Tetrapreneur mengintegrasikan pengembangan usaha dari hulu hingga hilir melalui semangat gotong royong sehingga mampu membangun ekosistem wirausaha yang berwibawa, berkemandirian dan berkelanjutan.

Dalam paparannya, Rika Fatimah menekankan pentingnya bergeraknya wirausaha bukan hanya memikirkan usahanya sendiri namun peka dan cerdas terhadap ekosistem sebagai ‘tempat’ berwirausaha itu sendiri.
“Menjadi wirausaha itu harus peduli dengan ekosistem berwirausahanya…keberhasilan sebuah usaha tidak hanya ditentukan oleh besarnya omzet namun pada konsep rezeki…harus yakin itu…rezeki melalui kemampuan membangun keunikan produk, menjaga kesejahteraan para pelaku usaha, serta menghadirkan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.”
Rika menambahkan “Semuanya dalam satu kesatuan ekosistem yang sesuai dengan jati diri bangsa yang ber-Pancasila yaitu Ekonomi yang Berketuhanan, Berkemanusiaan, Bersatu, Berkebijakan dan Berkeadilan…karena itu perwujudan Ekonomi Pancasila diharapkan dapat disambut oleh masyarakat luas menjadi pedoman keseharian dalam berwirausaha melalui SNI 9445:2026 yang berjudul Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneur – Bagian 1: Pedoman mutu ekosistem wirausaha. Rencananya akan diluncurkan bukan Agustus 2026 sebagai ‘hadiah’ bangsa untuk dirgahayu RI.”
SNI tersebut diproses bersama Badan Standar Nasional (BSN) dan Kementrans RI sebagai secretariat Komite Teknis: Komtek 03-13. Fungsi utama SNI 9445:2026 yang dipelopori praktik baiknya oleh Kerjasama DIY melalui Danais sejak 2018 yaitu sebagai standari nasional baru untuk pedoman mutu pembentukan ekosistem wirausaha gotong royong berlandaskan Ekonomi Pancasila.
Pada kesempatan tersebut juga disampaikan bahwa salah satu visi besar G2R Tetrapreneur adalah menerjemahkan nilai gotong royong yang selama ini bersifat abstrak menjadi kekuatan ekonomi yang nyata. Upaya ini semakin diperkuat dengan telah ditetapkannya SNI G2R Tetrapreneur sebagai inovasi Standar Nasional Indonesia pertama di Indonesia yang membakukan pengembangan ekosistem wirausaha berbasis gotong royong.
“Yang membedakan G2R Tetrapreneur bukan sekadar pendampingan UMKM, namun bagaimana membangun ekosistem kewirausahaan berbasis gotong royong yang memiliki standar…arah implementasi nasional diharapkan pula memberikan inspirasi hingga SNI G2R Tetrapreneur pada level global melalui SNI G2R Tetrapreneur menjadi bagian dari seri standar global seperti ISO 9000. Akses pengakuan global tersebut akan memberikan ‘keuntungan strategis’ terhadap produk mayoritas Indonesia yang digerakkan asli oleh masyarakat luas yang berjati diri Ekonomi Pancasila menjadi prakti terbaik dan penerimaan pasar global,” ungkap Rika.
Dalam implementasinya, G2R Tetrapreneur juga mengedukasi pasar dalam setiap kesempatan agar lebih menghargai produk-produk lokal yang dihasilkan UMKM. Produk lokal dipandang memiliki karakteristik dan kapasitas produksi yang berbeda dengan industri bermodal besar, sehingga memerlukan ekosistem pasar yang mendukung pertumbuhan dan keberlanjutannya dan bukan ‘menyamakannya’ dengan produk pabrikan. Melalui penelitian WEDANG SAHAJA, pengembangan produk herbal tidak hanya diarahkan sebagai inovasi kesehatan berbasis bukti ilmiah (evidence-based herbal product), tetapi juga sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan rantai nilai yang memberikan manfaat bagi petani, UMKM, komunitas difabel, akademisi, pemerintah, hingga konsumen, sekaligus memperkuat posisi produk herbal lokal sebagai bagian dari pengembangan ekonomi kreatif dan wellness berbasis potensi daerah.
Penutupan & Peserta FGD
Kegiatan ditutup dengan pengisian kuesioner Tetra 1 – Rantai Wirausaha oleh peserta, sesi diskusi interaktif, dan foto bersama. Masukan yang diperoleh dari para peserta akan menjadi bagian penting dalam penyempurnaan hasil penelitian sekaligus memperkuat pengembangan model pemberdayaan berbasis G2R Tetrapreneur yang berorientasi pada peningkatan kesehatan masyarakat, penguatan UMKM, serta pembangunan ekonomi lokal yang berkelanjutan.
Hadir sebagai peserta pada kegiatan tersebut lintas unsur pemerintah dan pelaku usaha yaitu perwakilan unsur pemerintah Bidang Industri Dinas PKUKM Kota Yogyakarta; Perwakilan Usaha Mikro Kecil Dinas PKUKM Kota Yogyakarta; Perwakilan Bidang Perekonomian Bappeda Kota Yogyakarta; Perwakilan Mantri Pamong Praja (MPP) Jetis; Perwakilan MPP Gondomanan; Perwakilan MPP Ngampilan; Perwakilan MPP Gondokusuman; Perwakilan MPP Umbulharjo; Perwakilan MPP Kraton; Perwakilan MPP Tegalrejo. Selain itu hadir pula perwakilan unsur pelaku usaha seperti Perwakilan G2RT Cokrodiningratan; Perwakilan G2RT Patehan; Perwakilan G2RT Matraman; Perwakilan G2RT KmK4; Perwakilan Sentra Jamu Tradisional Tegalrejo; Perwakilan Sentra Jamu Rejowinangun; Perwakilan Minuman Kesehatan KreVit K; Perwakilan Forum Kemantren Inklusif (FKI) Kemantren Jetis; Perwakilan FKI Kemantren Pakualaman; Perwakilan FKI Kemantren Tegalrejo; Perwakilan FKI Kemantren Kraton; Perwakilan FKI Kemantren Ngampilan; dan Perwakilan FKI Kemantren Mantrijeron.










