Reportase: red/p17
Yogyakarta, Kansnews.com – Teater Dengung yang bermarkas di Temanggung Jawa Tengah, berhasil meraih Juara 1 Festival Pertunjukan Puisi Se DIY-Jateng yang dilaksanakan di Gedung Societed Militaire, Taman Budaya Yogyakarta pada Sabtu (12/09/2026).
Festival Pertunjukan Puisi yang merupakan teaterikalisasi puisi-puisi dari buku kumpulan puisi ‘’Apa Sumpahmu?!” karya Dhenok Kristianti, mementaskan karya dari 10 finalis yang berhasil menembus ajang final setelah melalui seleksi ketat dari dewan juri yang terdiri dari Landung Simatupang, Dhenok Kristianti dan Tortor.
Kurnia Setyo Wulansari, sang juara yang merupakan pelakon tunggal Teater Dengung berhasil mengalahkan 9 finalis lainnya dengan performa memukau membawakan teaterikalisasi puisi ‘’Shinta Kepada Rama’’. Kurnia berhasil menyuguhkan seni pertunjukan puisi dengan alat bantu kain panjang sekira enam meter berwarna merah, dengan intonasi jelas dan gerak tari apik yang kreatif.

‘’Saya disutradarai oleh suami saya sendiri,’’ kata Kurnia yang berprofesi sebagai guru SD, pengajar senam dan pengajar teater di Ngadirejo, Temanggung. Kurnia juga rupanya juga pernah menjadi Juara 1 pada Lomba Puisi Nasional Cok Sawitri 2024 – kategori Lomba Video Art Puisi di Denpasar, Bali.

Pengumuman hasil lomba juga menetapkan Juara 2 diraih oleh Teater Mega Fauna dengan nilai 957 dan juara 3 oleh kelompok Munggang Film denga nilai 952. Teater Dengung sendiri meraih total nilai 989.
Ketua Panitia Festival Pertunjukan Puisi, Ana Ratri Wahyuni, sebelumnya sempat menjelaskan kepada media bahwa festival itu merupakan upaya menggali unsur-unsur teaterikal dan berbagai bentuk performa panggung oleh peserta.
‘’Tujuannya adalah untuk memanggungkan puisi secara utuh dan memperkuat pesan yang terkandung di dalamnya melalui medium yang lebih luas,’’ tutur Ana Ratri yang juga pimpinan dari Sanggar Rumah Kreatif Bintang Yogyakarta.
Dewan juri, seperti dijelaskan oleh Landung Simatupang sebelum pembacaan para pemenang, menjelaskan bahwa dari Segi Keaktoran yang dinilai adalah karya yang bisa menyampaikan vokal sebagai sarana utama penyampaian puisi.
‘’Berupa intonasi yang jelas serta penekanan kata/kalimat, dan gestur, mimik-ekspresi,’’ ujar Landung Simatupang.

Sementara Dhenok Kristianti menyampaikan kritik bahwa dari segi inovasi naskah, ada beberapa kelompok peserta yang justru merusak puisi.
‘’Ada yang mungkin maksudnya membuat inovasi, tetapi justru merusak dengan tambahan kata dan kalimat yang merusak puisi itu sendiri,’’ tandas Dhenok.
‘’Jadi peserta harus percaya dulu dengan penyair, bahwa penyair itu tidak main-main dengan kata-kata dalam puisi,’’ imbuhnya.
Sungguhpun demikian, Dhenok Kristianti menyebutkan bangga dengan karya teaterikalisasi puisi dari seluruh finalis, yang berhasil menyajikan puisinya menjadi lebih menarik.
Juri lainnya, Tortor, menyatakan bahwa dari segi Pemanggungan dan Kreativitas, peserta seharusnya bisa menghindari penampilan dari unsur kostum yang dapat merusak puisi.

‘’Harap hati-hati dengan kostum yang justru bisa merusak puisi,’’ jelas Tortor.
‘’Selain itu dari analisa naskah, finalis semestinya bisa menyajikan sebuah alur cerita yang bagus. Lakukan lebih dahulu observasi melalui referensi naskah puisi. Contoh, kostum baju Bhisma bisa jadi berbeda antara yang di India dengan kostum Bhisma yang dikenal di Indonesia,’’ tambahnya.
Acara Festival Pertunjukan Puisi diakhiri dengan pembagian hadiah bagi para pemenang. Juara 1 mendapatkan tunai sebesar Rp 7 juta. Juara Kedua Rp 5 juta dan juara Ketiga memperoleh Rp 3 juta. Finalis yang belum berhasil menjadi juara masing-masing mendapatkan tunai sebesar Rp1 juta. (p17)










