Oleh: Sobirin Malian (Dosen Penggiat Literasi)
Mencari ketenangan di tengah hiruk-pikuk dunia sering kali membawa kita kembali pada lembaran Al-Qur’an. Di sana, kita kerap menjumpai sebuah istilah yang berulang kali disebut dengan nada peringatan yang amat serius: kaum fasik. Mereka bukan sekadar kelompok historis yang hidup di masa lalu, melainkan sebuah karakter jiwa yang bisa menjangkiti siapa saja, termasuk diri kita hari ini.
Secara bahasa, fasik mengisyaratkan sesuatu yang keluar dari kulitnya—seperti sebutir kurma ranum yang terkelupas dari kulit pelindungnya. Dalam ruang spiritual, ia adalah personifikasi dari jiwa yang melompat keluar dari batas ketaatan, merobek perjanjiannya dengan Sang Pencipta, dan memilih berjalan di atas ego sendiri. Al-Qur’an menggambarkan mereka sebagai manusia yang kehilangan kompas; mereka melihat kebenaran, tetapi memilih berbalik arah.
Bahaya Nyata Kaum Fasik
Bahaya terbesar dari kaum fasik tidak hanya berdampak pada runtuhnya spiritualitas pribadi mereka, tetapi juga daya rusaknya bagi kehidupan sosial. Melalui untaian ayat-ayat-Nya, Allah SWT mengingatkan kita betapa krusialnya mewaspadai karakter ini:
* Pemicu Perpecahan: Kaum fasik adalah pembawa berita bohong (hoax) yang ulung. Satu informasi tak tervalidasi dari mereka bisa meruntuhkan kepercayaan, menghancurkan nama baik, dan menyulut api fitnah di tengah masyarakat.
* Pemutus Silaturahmi: Mereka dengan sengaja memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan, menciptakan tembok permusuhan di mana seharusnya jembatan kasih sayang dibangun.
* Perusak Tatanan Bumi: Alih-alih merawat kehidupan, langkah kaki mereka justru meninggalkan jejak kerusakan moral dan sosial di atas bumi.
Cermin Al-Qur’an dan Tragedi Lupa Diri
Membaca peringatan tentang kaum fasik bukanlah ajakan untuk menuding hidung orang lain. Ini adalah cermin jernih yang diletakkan Al-Qur’an di hadapan wajah kita. Sebuah undangan sunyi untuk bertanya pada lubuk hati yang paling dalam: “Adakah sebagian dari sifat itu yang tanpa sadar mulai mengelupas dari jiwaku?”
Secara khusus, Allah SWT memberikan peringatan yang sangat tegas dalam Surah Al-Hasyr ayat 19 agar kita menjaga diri dari lingkaran hitam ini:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.”
Ayat ini memperlihatkan sebuah tragedi psikologis yang mengerikan. Ketika seseorang mulai terbiasa meremehkan dosa kecil, menunda tobat, dan mati rasa terhadap kemaksiatan, ia akan melupakan Allah. Sebagai balasannya, Allah membuat mereka lupa pada keselamatan diri mereka sendiri. Mereka menjadi asing di dalam tubuh mereka sendiri, kehilangan arah pulang ke rumah kedamaian.
Sebagaimana sebuah untaian pengingat mengatakan:
*”Kefasikan dimulai saat kita merasa dosa kecil bukan lagi masalah. Berhati-hatilah, sebab jiwa yang keluar dari ketaatan akan kehilangan arah jalan pulang.”
Mengetuk Pintu Langit: Ikhtiar untuk Kembali
Namun, pintu langit tidak pernah dikunci bagi hamba yang ingin kembali. Sebelum hati benar-benar membatu, mari basuh jiwa dengan istigfar, rekatkan kembali janji-janji ketaatan yang sempat retak, dan bentengi diri kita dengan doa yang diajarkan dalam Surah Al-Hujurat ayat 7:
اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْإِيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِينَ
(Allahumma habbib ilainal-iimana wa zayyinhu fii quluubina, wa karrih ilainal-kufra wal-fusuuqa wal-‘ishyaan, waj’alna minar-raashidiin)
“Ya Allah, cintakanlah kami kepada keimanan dan jadikanlah keimanan itu indah di dalam hati kami. Serta bencilah kami kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.”
Kembalilah ke dalam dekapan rahmat-Nya. Karena sejatinya, ketenangan sejati hanya ada pada jiwa yang patuh, terjaga dari kefasikan, dan menetap teguh di dalam garis rida-Nya.
Advertisement










