Oleh: Nyimas Sakuntala Dewi*
Lagi ramai masalah kartu BPJS atau pasien yang memakai BPJS. Selama ini, seperti itu kok yang terjadi. Tetapi karena kita rakyat sangat perlu berobat, jadi mau seperti apapun perilaku oknum nakes ini kita hanya diam saja!
Saya sangat begitu sering menemani pasien BPJS. Jadi saya begitu memahami belum lagi soal prosedural yang rumit.
Jadi jika perlu kita rakyat yang tidak mampu ini, dilarang sakit, dilarang complain dan harus diam saja walau diperlakukan seperti apapun!!
Pokoknya……….saat Kau bilang “BPJS”, Wajah Mereka Langsung Berubah
Saat Kata “BPJS” Diucapkan
Kau sudah lihat dengan mata kepalamu sendiri. Bukan cerita, bukan gosip. Fakta telanjang yang terjadi setiap detik di setiap rumah sakit.
Petugas bertanya: “Bayar tunai, asuransi, atau BPJS?”
Kau jawab pelan: “BPJS.”
Dan di detik itu — wajah mereka berubah.
Senyumnya luntur. Matanya menyusut. Nada suaranya turun satu tingkat menjadi dingin, datar, tak lagi peduli. Seolah-olah dengan menyebut kata itu, kau tiba-tiba berubah dari manusia menjadi beban. Seolah kau bukan lagi pasien yang sakit — kau cuma masalah administrasi yang merepotkan.
Kau merasakannya di kulitmu sendiri. Kau melihat perubahan itu terjadi seketika, sejelas siang berganti malam. Dan tidak ada yang berani mengakuinya. Semua bilang: “Sama saja kok, tidak ada beda.”
Obat yang Diambil — Obat yang Ditolak
Lalu ke apotek. Ke dokter. Dan di sana juga — garis pemisah itu terlihat jelas.
– Yang bayar tunai/asuransi → obat terbaik, lengkap, bermerek, terbaru
– Yang bilang BPJS → obat generik, seadanya, sering kosong, dosis minimal, “cukup untuk meredakan saja”.
Jangan munafik. Ini memang dibedakan. Semua orang tahu. Semua orang lihat.
Pasien yang sama. Penyakit yang sama. Tapi kartu yang berbeda = pengobatan yang berbeda.
Kartu biru itu bukan jaminan. Itu tanda peringatan: “Perlakukan dia secukupnya saja. Jangan mahal. Jangan repot-repot. Dia cuma BPJS.
Empati yang Hilang Saat Warna Kartu Terlihat
Ini bukan soal uang. Bukan soal tarif. Ini soal kemanusiaan yang mati di depan mata.
Saat mereka melihat kartu biru, empati mereka ikut menghilang.
– Sakitmu? Tidak terlalu penting.
– Menunggumu? Tidak masalah.
– Menderitamu? Bukan prioritas.
Kemanusiaan itu tidak boleh punya syarat. Empati tidak boleh tergantung warna kartu yang kau pegang. Tapi di negeri ini — simpati itu mahal. Hanya bisa dibayar dengan kartu yang bukan biru.
Mereka bersumpah untuk merawat siapa pun yang membutuhkan. Tapi sumpah itu ternyata punya catatan kaki: kecuali yang pegang kartu mati.
Baru Sibuk Saat Ada yang Mati
Dan pola ini selalu sama, berulang-ulang tanpa pernah berubah:
Saat ada yang mengeluh diabaikan → diam, menyangkal, bilang “tidak ada diskriminasi”.
Saat ada yang meninggal karena diabaikan → baru heboh, baru sibuk, baru bicara “menyesal”, baru minta maaf Setelah berita mereda → kembali seperti semula
Kita baru bergerak saat ada darah yang tertumpah. Kita baru peduli saat ada nyawa yang hilang. Kita baru bicara keadilan saat sudah terlambat.
Dan Yurizal? Dia bukan yang pertama. Dan sayangnya, kalau tidak diubah — dia juga tidak yang terakhir. Karena sistem ini masih berjalan. Karena wajah yang berubah saat mendengar kata “BPJS” — masih terjadi di ruang pendaftaranmu hari ini.
Jujur Saja — Ini yang Kita Semua Lihat
Jangan tutup mata. Jangan bilang “cuma perasaanmu”. Jangan bilang “semua sama saja”. Karena semua orang yang pernah memegang kartu biru itu tahu persis apa yang kurasakan:
Saat kau bilang tunai → mata mereka menyala. Saat kau bilang asuransi → mereka langsung menyambut, Saat kau bilang BPJS → wajah mereka jatuh ke lantai.
Itu bukan imajinasiku. Itu kenyataan yang terlihat dengan mata telanjang. Dan yang paling menyakitkan dari semuanya? Bukan obat yang kurang. Bukan kamar yang penuh. Tapi tatapan mata yang berkata: Nyawamu lebih murah, karena kau pegang kartu biru.
Penutup — Dari Hati Rakyat yang Dibungkam
BPJS bukan kartu orang miskin.
BPJS adalah kartu jutaan rakyat yang membayar iuran setiap bulan, yang berharap saat mereka jatuh sakit — mereka akan dirawat sebagai manusia.
Tapi di mata sistem — mereka bukan manusia. Mereka cuma angka. Mereka cuma beban.
Empati tidak boleh punya harga.
Kemanusiaan tidak boleh dibeda-bedakan berdasarkan kartu.
Dan wajah seorang penolong tidak boleh berubah — hanya karena seseorang bilang: “Saya pakai BPJS.”
Karena saat wajahmu berubah karena warna kartu seseorang — maka kau bukan lagi penolong. Kau cuma penagih yang memandang manusia berdasarkan isi dompetnya.
Saya terus terang tdk pakai BPJS, tetapi saya selalu menemani baik teman, atau keluarga yang berobat memakai BPJS.
Seyogyanya pemerintah cepat tanggap. Walau sistem luar biasa tetapi jika oknum dibawahnya tdk benar maka jangan harap akan berjalan lebih baik.
Atau harus menunggu mati lagi lalu Minta maaf, lalu terulang lagi..
Dan kita yang baikkk ini memafkan loh…
Luar biasa! !!
Merdeka
*)Nyimas Sakuntala Dewi, aktivis GMNI, tinggal di Bekasi
Advertisement










