
Oleh: Satrio Arismunandar, Sekjen SATUPENA 2021-2026
Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA baru saja sukses menyelesaikan Kongresnya yang diselenggarakan secara daring pada Kamis, 13 Agustus 2026. Kongres tersebut berlangsung pada sebuah momentum yang sangat penting bagi dunia kepenulisan Indonesia.
Dunia sedang memasuki sebuah perubahan teknologi yang bukan lagi sekadar menghadirkan alat baru bagi manusia, melainkan mulai mengubah cara manusia bekerja, berpikir, berkreasi, dan memproduksi pengetahuan.
Salah satu perubahan terbesar itu adalah hadirnya artificial intelligence atau kecerdasan buatan (AI).
Bagi profesi penulis, AI bukan lagi sesuatu yang berada di masa depan. Ia sudah hadir di depan mata. Dengan memberikan instruksi atau prompt yang tepat, sebuah sistem AI kini dapat menghasilkan puisi, cerpen, esai, artikel jurnal, berita, naskah pidato, bahkan tulisan dengan gaya tertentu dalam hitungan detik.
AI dapat merangkum buku, menerjemahkan teks, melakukan riset awal, mencari pola dari ribuan dokumen, memperbaiki tata bahasa, dan membantu menyusun argumentasi.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi: Apakah AI akan masuk ke dunia kepenulisan?
Jawabannya sudah jelas: AI telah masuk.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: Apa yang akan terjadi pada profesi penulis ketika kemampuan menghasilkan teks tidak lagi menjadi monopoli manusia? Di sinilah organisasi profesi seperti SATUPENA mempunyai pekerjaan rumah yang sangat besar.
Penulis Tidak Boleh Berperang Melawan Teknologi
Respons pertama yang mungkin muncul dari sebagian penulis adalah kekhawatiran. AI dianggap akan mengambil pekerjaan penulis, menurunkan nilai karya manusia, membanjiri ruang publik dengan tulisan yang diproduksi mesin, bahkan pada akhirnya membuat profesi penulis menjadi tidak relevan.
Kekhawatiran tersebut bukan sesuatu yang mengada-ada. Beberapa pekerjaan penulisan yang bersifat repetitif, formulaik, dan membutuhkan produksi teks dalam jumlah besar memang sangat mungkin semakin banyak dikerjakan oleh AI.
Namun, melawan AI dengan cara menolaknya bukanlah strategi yang realistis.
Sejarah teknologi menunjukkan bahwa profesi manusia hampir selalu berubah ketika muncul teknologi baru. Mesin cetak tidak membunuh penulis. Kamera tidak membunuh pelukis. Televisi tidak menghapus teater. Internet tidak menghilangkan buku. Sebaliknya, teknologi mengubah ekosistem produksi, distribusi, dan konsumsi karya manusia.
AI pun kemungkinan besar akan melakukan hal yang sama, tetapi dengan skala perubahan yang jauh lebih besar.
Karena itu, tantangan SATUPENA bukan mengajak para penulis untuk memusuhi AI, melainkan membantu mereka beradaptasi, memahami, menguasai, sekaligus mengkritisi AI.
Penulis masa depan barangkali bukan penulis yang tidak menggunakan AI. Penulis masa depan adalah penulis yang mampu menggunakan AI tanpa kehilangan dirinya sebagai manusia.
Dari “Menulis dengan AI” Menjadi “Berpikir Bersama AI”
Ada perbedaan besar antara menggunakan AI untuk menggantikan proses berpikir dan menggunakan AI sebagai alat untuk memperluas kemampuan berpikir. Organisasi penulis perlu mendorong yang kedua.
AI dapat membantu seorang penulis melakukan brainstorming, mencari alternatif sudut pandang, menguji argumentasi, menemukan pertanyaan yang belum dipikirkan, membuat struktur tulisan, melakukan penyuntingan awal, atau mengolah data.
Tetapi keputusan mengenai apa yang penting, apa yang benar, apa yang bernilai, dan apa yang layak dikatakan tetap merupakan tanggung jawab manusia. Di sinilah letak nilai penulis.
AI sangat kuat dalam mengolah bahasa, tetapi makna tidak semata-mata berada di dalam bahasa.
Seorang penulis membawa pengalaman hidup, ingatan, kegelisahan, keberpihakan moral, intuisi, imajinasi, dan pandangan terhadap dunia.
Dua orang dapat memberikan prompt yang sama kepada AI dan memperoleh tulisan yang relatif serupa. Tetapi pengalaman manusia yang melahirkan sebuah gagasan tidak pernah sepenuhnya identik.
Karena itu, kompetensi yang harus diperkuat oleh organisasi penulis bukan hanya kemampuan teknis menggunakan AI, melainkan juga kemampuan yang justru semakin mahal nilainya ketika AI semakin pintar: berpikir kritis, memiliki perspektif, melakukan riset, memahami konteks, membangun argumentasi, dan memiliki suara kepenulisan yang otentik.
SATUPENA Perlu Membangun Literasi AI bagi Penulis
Langkah pertama yang konkret adalah membangun program literasi AI untuk anggota.
Penulis perlu memahami bagaimana AI bekerja, apa kemampuan dan keterbatasannya, bagaimana menyusun prompt, bagaimana melakukan verifikasi informasi, bagaimana mendeteksi halusinasi, bagaimana menggunakan AI untuk riset, serta bagaimana menjaga orisinalitas dan integritas karya.
Ini penting karena persoalan terbesar AI bukan hanya kemampuan menghasilkan teks, tetapi juga kemampuannya menghasilkan teks yang tampak meyakinkan meskipun belum tentu benar.
Seorang penulis yang menggunakan AI tanpa kemampuan verifikasi dapat menghasilkan tulisan yang lebih cepat tetapi sekaligus lebih rentan terhadap kesalahan fakta.
SATUPENA dapat membangun semacam “SATUPENA AI Academy,” baik dalam bentuk pelatihan daring, lokakarya, webinar, maupun modul pembelajaran mandiri.
Materinya dapat dibagi dari tingkat dasar sampai tingkat lanjut: AI untuk penulis pemula, AI untuk jurnalisme, AI untuk penulis buku, AI untuk peneliti, AI untuk penyunting, sampai AI untuk pemasaran dan distribusi karya.
Dengan demikian, organisasi profesi tidak sekadar mengatakan kepada penulis, “gunakan AI”, tetapi mengajarkan cara menggunakan AI secara cerdas, kritis, dan etis.
Membuat Kode Etik Penulis di Era AI
Tantangan berikutnya adalah etika.
Jika sebuah novel ditulis dengan bantuan AI, siapa pengarangnya? Jika sebuah esai menggunakan AI untuk menghasilkan struktur dan beberapa paragraf, bagaimana pengakuannya? Apakah penggunaan AI harus diumumkan kepada pembaca? Bagaimana jika AI digunakan hanya untuk penyuntingan bahasa?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak memiliki jawaban sederhana. Karena itu SATUPENA perlu memimpin perumusan “kode etik penggunaan AI dalam kepenulisan Indonesia.”
Kode etik tersebut tidak harus bersifat represif. Justru sebaiknya membedakan berbagai tingkat penggunaan AI. Misalnya, penggunaan AI sebagai alat penyuntingan bahasa tentu berbeda dengan penggunaan AI untuk menghasilkan sebagian besar isi karya.
Prinsip dasarnya dapat berupa transparansi, tanggung jawab, verifikasi fakta, penghormatan terhadap hak cipta, perlindungan data, serta kejelasan mengenai kontribusi manusia dan mesin.
Dengan demikian, pembaca mempunyai hak untuk mengetahui bagaimana sebuah karya diproduksi, sementara penulis memperoleh pedoman yang jelas.
Memperjuangkan Hak Cipta Penulis
Ada persoalan lain yang jauh lebih fundamental: dari mana AI memperoleh bahan untuk belajar?
Model AI dilatih menggunakan jumlah data yang sangat besar, termasuk teks yang dibuat manusia. Di sinilah muncul persoalan mengenai hak cipta, kompensasi, izin penggunaan karya, dan kemungkinan eksploitasi karya penulis untuk membangun sistem yang kemudian dapat menghasilkan karya baru.
Organisasi penulis harus hadir dalam perdebatan ini. SATUPENA dapat menjadi salah satu pihak yang memperjuangkan kepentingan penulis Indonesia dalam penyusunan regulasi AI dan hak cipta. Penulis harus memiliki posisi tawar ketika karya mereka digunakan dalam ekosistem teknologi.
Jangan sampai terjadi paradoks: karya manusia menjadi bahan bakar untuk melatih mesin, sementara manusia yang menciptakannya justru kehilangan sumber penghidupan.
Karena itu, SATUPENA dapat membangun dialog dengan pemerintah, penerbit, platform digital, perusahaan teknologi, lembaga hak cipta, perguruan tinggi, dan organisasi penulis internasional untuk mencari model yang adil.
Mengubah Ukuran Keberhasilan Seorang Penulis
AI juga memaksa kita mempertanyakan kembali apa yang sebenarnya membuat sebuah tulisan bernilai. Selama ini, salah satu ukuran produktivitas penulis adalah jumlah kata, jumlah artikel, jumlah buku, atau kecepatan menghasilkan tulisan.
Tetapi ketika mesin mampu menghasilkan ribuan halaman dalam waktu singkat, ukuran tersebut menjadi semakin kurang bermakna. Masa depan mungkin justru akan memberikan premium kepada gagasan.
Sebuah tulisan yang memiliki gagasan orisinal, perspektif kuat, pengalaman otentik, riset mendalam, dan keberanian intelektual akan jauh lebih bernilai daripada tulisan generik yang secara teknis sempurna tetapi tidak memiliki jiwa.
Dengan kata lain, AI dapat membuat tulisan menjadi semakin murah, tetapi pada saat yang sama dapat membuat gagasan manusia yang orisinal menjadi semakin mahal.
SATUPENA perlu membantu penulis bergerak ke wilayah tersebut. Penulis harus didorong menjadi bukan sekadar produsen teks, melainkan produsen gagasan, penafsir zaman, penjaga ingatan, dan pembentuk makna.
Membangun “Human Premium”
Di tengah ledakan konten sintetis, masyarakat kemungkinan akan menghadapi masalah baru: terlalu banyak tulisan, tetapi semakin sulit mengetahui mana yang benar-benar layak dibaca. Dalam kondisi seperti itu, reputasi dan kredibilitas penulis akan menjadi sangat penting.
SATUPENA dapat membangun mekanisme kurasi atau semacam “SATUPENA Recommended Writers,” penghargaan karya terbaik, sertifikasi profesional, festival sastra dan pemikiran, serta berbagai bentuk pengakuan terhadap karya yang memiliki standar intelektual dan etika tinggi.
Tujuannya bukan untuk menciptakan monopoli atas kebenaran, melainkan membangun ekosistem kepercayaan. Ketika mesin mampu menghasilkan teks tanpa batas, manusia akan semakin mencari “suara yang dapat dipercaya.” Di sinilah organisasi profesi memperoleh relevansinya.
SATUPENA sebagai Laboratorium Masa Depan Kepenulisan
Lebih jauh lagi, SATUPENA dapat menjadikan dirinya bukan hanya organisasi yang membela profesi penulis, tetapi juga “laboratorium pemikiran mengenai masa depan kepenulisan.”
Organisasi ini dapat membangun kelompok kerja khusus yang mengkaji AI dan sastra, AI dan jurnalisme, AI dan hak cipta, AI dan pendidikan, serta dampak AI terhadap industri penerbitan.
SATUPENA juga dapat bekerja sama dengan universitas dan perusahaan teknologi untuk melakukan eksperimen. Misalnya, bagaimana seorang penulis dapat menghasilkan karya yang lebih baik dengan bantuan AI tanpa kehilangan karakter personalnya? Bagaimana AI dapat membantu penulis daerah menerjemahkan karya mereka ke bahasa internasional? Bagaimana teknologi dapat membantu mendigitalisasi arsip sastra Indonesia?
Bagaimana AI dapat membantu penulis senior mendokumentasikan pengalaman hidup mereka?
Pertanyaan terakhir ini bahkan membuka peluang yang sangat menarik. AI tidak harus dilihat hanya sebagai ancaman terhadap penulis. Ia juga dapat menjadi alat untuk menyelamatkan ingatan manusia.
Ribuan penulis Indonesia memiliki arsip, surat, manuskrip, artikel lama, rekaman wawancara, dan pengalaman hidup yang belum terdokumentasikan secara baik. AI dapat membantu mengarsipkan, mentranskripsikan, mengindeks, menerjemahkan, dan membuatnya dapat diakses oleh generasi berikutnya.
Jangan Sampai Penulis Kalah Bukan Karena AI Lebih Pintar
Pada akhirnya, ancaman terbesar AI terhadap profesi penulis mungkin bukan karena AI mampu menulis lebih cepat daripada manusia. Ancaman sebenarnya adalah apabila penulis tidak berubah sementara dunia berubah.
Jika penulis tetap bekerja dengan cara lama, tidak memahami teknologi, tidak meningkatkan kompetensi, tidak memperkuat kualitas gagasan, dan tidak memperjuangkan haknya dalam ekosistem digital, maka AI memang dapat menjadi ancaman serius.
Tetapi jika penulis mampu memanfaatkan AI sebagai alat, sementara manusia tetap menjadi sumber gagasan, pengalaman, nilai, tanggung jawab, dan keputusan kreatif, maka hubungan keduanya dapat menjadi berbeda.
AI bisa menjadi pena baru. Tetapi pena tidak pernah menjadi penulis. Yang membuat sebuah karya berarti bukan semata-mata susunan kata, melainkan siapa yang berbicara, dari pengalaman apa ia berbicara, mengapa ia berbicara, dan untuk apa ia berbicara.
Karena itu, agenda SATUPENA setelah Kongres 13 Agustus 2026 seharusnya tidak berhenti pada bagaimana mempertahankan profesi penulis dari ancaman AI. Agenda yang lebih besar adalah bagaimana memastikan penulis Indonesia ikut membentuk masa depan AI, bukan sekadar menjadi korban dari masa depan yang dibentuk orang lain.
SATUPENA dapat menjadi ruang tempat para penulis belajar teknologi, tetapi sekaligus tempat teknologi belajar memahami manusia. Sebab pada akhirnya, masa depan kepenulisan bukan pertarungan sederhana antara manusia melawan mesin.
Masa depan itu adalah pertarungan mengenai “siapa yang menguasai gagasan, siapa yang menentukan makna, dan siapa yang tetap memiliki suara di tengah banjir kata-kata yang semakin mudah diproduksi oleh mesin.”
Dan dalam pertarungan itu, tugas organisasi penulis bukan membawa para penulis kembali ke masa lalu. Tugasnya adalah membawa mereka memasuki masa depan—dengan teknologi di tangan, tetapi kemanusiaan tetap menjadi jantungnya.
*Satrio Arismunandar, alumnus S2 Pengkajian Ketahanan Nasional UI dan S3 Filsafat FIB Universitas Indonesia. WA: 081286299061. #










