Oleh: Mariska Lubis

Berpikir tentang masalah di Indonesia seperti tidak pernah ada habis-habisnya. Tidak apa-apa sebetulnya, tetapi yang menjadi masalah, yang dipikirkan dan terus dibahas adalah soal masalah-masalah itu sendiri. Ditambah lagi dengan kemarahan bertubi-tubi di setiap lini dan di setiap pojokan, membuat masalah jadi semakin semrawut.

Hari-hari diisi dengan keluh kesah tak karuan, apalagi soal masalah ekonomi, pendidikan, dan ketidakjelasan masa depan. Bisa dikatakan, yang stress dan pusing jauh lebih banyak daripada yang merasa aman dan nyaman. Sedikit saja yang masih optimis dengan keadaan saat ini.

Jika dipikirkan lebih mendalam, sebenarnya ada apa dengan Indonesia? Apa yang menyebabkan semua masalah berlarut dan seperti tidak ada solusi? Yang sekolah tinggi banyak, yang memiliki titel sederet banyak, lantas ke mana pemikiran yang solutif bagi semua?!

Lucu tapi menjengkelkan, saat ini banyak yang sudah sadar bahwa sekolah tinggi tidak terlalu diperlukan, sebab sarjana saja sudah susah cari kerja. Yang lebih diperlukan adalah keterampilan dan pengalaman, karena lowongan pekerjaan yang besar adalah sebagai “pekerja kerah biru”, sedikit saja untuk yang “kerah putih”.

Sudah biasa bila anak SMA ditanya mau lanjut kuliah apa oleh orang tuanya. Jika dirasa tidak memberikan peluang untuk cepat dapat kerja, biasanya ditolak keras. Nasehat dan “pencerahan” yang diberikan orang tua ke anak, seputar masa depan yang terkait dengan pekerjaan, bukan penjelasan atas ilmu yang perlu dikejar agar menjadi manusia terdidik.

Dari pemikiran seperti di atas saja, dapat terlihat jelas bahwa selama ini sekolah tinggi dan gelar dicari “hanya” untuk mendapat kerja, bukan untuk mendapatkan ilmu. Hasilnya, selama ini. orang yang dianggap “terdidik” adalah mereka yang “bukan berilmu” tapi “bergelar”. Wajar jika kualitasnya rendah, apalagi dunia pendidikan lebih didominasi oleh industri, yang “konon” memberikan pendidikan tetapi berorientasi ekonomi kapitalis.

Sebagai catatan yang sering dilupakan, secara pemikiran dasar filosofi, manusia yang terdidik memang bukan yang sekolah tinggi dan bergelar, namun yang mampu membuat sebuah sistem atau memperbaiki sistem yang sudah ada menjadi lebih baik. Jika tidak percaya, kenapa tidak digali lebih dalam?!

Di sisi lain, rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia dianggap salahnya pemerintah semata. Rakyat merasa tidak pernah salah, sebab hanya mengikuti saja. Padahal, soal bodoh atau cerdas adalah pilihan setiap individu. Seperti pilihan untuk membaca dan menulis untuk meningkatkan kualitas literasi, menambah wawasan, mampu menemukan masalah dan solusi, serta memiliki alur serta pola pikir terarah, dan berpikiran modern maju ke depan. Jika sekolah dan kampus tidak mengarahkan atau kurang mengarahkan, lingkungan tidak memberikan contoh, tetap saja dapat dipilih dilakukan jika memang memilih untuk cerdas. Sayangnya, yang lebih banyak dipilih, kan, scrolling joget dan yang lucu atau yang viral saja. Bagaimana, dong?!

Kebodohan harus diberantas dan semua harus cerdas, ini bukan sekedar slogan, saya yakin semua rakyat Indonesia sudah memahaminya. Hanya saja, bagaimana untuk benar menjadi cerdas dan terdidik, ini yang harus dipikirkan lebih lanjut. Jika terus ‘dinormalisasikan” dan “diyakini benar” pemikiran yang sudah menjadi budaya saat ini, maka tidak akan pernah terjadi perubahan yang lebih baik, tidak axa solusi bagi semua. Sudah terbukti jelas harus ada perubahan, sudah sangat nyata banyak masalah, sampai kapan terus bertahan dengan pemikiran dan kebiasaan-kebiasaan yang ada?!

Tidak perlu menunjuk jari atas segala keburukan yang terjadi, sebab masalah terbesar dan yang paling sulit dibenahi adalah justru diri sendiri. Ya, kan?!

Advertisement

Tinggalkan Komentar