Oplus_16908288

Disampaikan oleh: Shamsi Ali

Dalam karyanya: “When I Die” (Ketika saya meninggal), Jalaluddin Rumi tidak sedang berbicara tentang kematian sebagai seseorang yang menyerah dan terpaksa meninggalkan kehidupan. Ia justru menyambutnya sebagai seorang musafir yang telah lama menempuh perjalanan, lalu akhirnya melihat kediaman asal di kejauhan.

Rumi meminta agar kepergiannya tidak ditangisi secara berlebihan. Bukan karena cinta dan kehilangan yang tidak berharga, melainkan karena kematian, dalam pandangannya, bukanlah akhir dari segalanya. Yang tampak sebagai akhir dari sisi dunia, sesungguhnya merupakan awal dari perjalanan yang lebih hakiki.

Peti jenazah bukan kendaraan menuju ketiadaan. Liang kubur bukan jurang gelap yang menelan manusia untuk selama-lamanya. Keduanya hanyalah pintu, tirai tipis yang memisahkan alam kesementaraan dari kehidupan yang lebih luas nan abadi.

Rumi mengibaratkan kematian seperti matahari yang terbenam. Dari tempat kita berdiri, matahari seakan hilang ditelan cakrawala. Padahal ia tidak musnah; ia hanya terbit di belahan yang tidak mampu kita lihat. Begitulah manusia: ketika tubuhnya diturunkan ke dalam tanah, ia bukan sedang lenyap, ia sedang berpindah dari pandangan sementara.

Manusia itu bagaikan benih yang ditanam. Dari atas permukaan, benih itu tampak terkubur, ditimbun, dan ditinggalkan dalam gelap. Namun di dalam kesunyian tanah, kehidupan baru sedang dipersiapkan. Kulitnya pecah, akarnya tumbuh, lalu ia muncul kembali dalam bentuk yang jauh lebih indah daripada sebelumnya.

Rumi dengan sangat indah mengubah cara kita memandang kuburan. Kuburan yang tampak sebagai ruang sempit justru menjadi gerbang menuju keluasan. Kematian yang kita sebut perpisahan, olehnya disebut perjumpaan. Yang kita lihat sebagai terbenam, sebenarnya adalah terbit. Yang kita ratapi sebagai kehilangan, justeru pertemuan yang indah.

Namun puisi ini bukan ajakan untuk meremehkan kehidupan. Justru karena hidup begitu singkat, setiap napas menjadi sangat berharga. Mestinya kita jalani dengan kesadaran bahwa pada suatu masa segala yang kita genggam akan dilepaskan, kecuali cinta (hati/iman), amal, dan jejak kebaikan yang telah kita tanamkan.

“When I Die” pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang bagaimana Rumi ingin dikenang setelah wafat. Puisi ini sedang menenangkan setiap manusia yang takut kehilangan, takut berpisah, dan takut memasuki sesuatu yang belum dikenalnya.

Rumi seakan berbisik:
“Jangan hanya melihat tubuh yang dibaringkan,
Lihatlah ruh yang sedang melanjutkan perjalanan,
Jangan hanya melihat matahari yang tenggelam,
Percayalah, di balik cakrawala yang tak terlihat,
ia sedang terbit dalam cahaya yang berbeda”.


Bagi Rumi, kematian bukanlah padamnya kehidupan. Tapi bagaikan padamnya lampu di sebuah ruangan, karena fajar telah merekah di ruangan yang lain. Bukan titik akhir, melainkan koma dalam kalimat panjang perjalanan ruh menuju keabadian.

Dan mungkin itulah pesan terindah puisi ini: orang yang sepanjang hidupnya belajar mencintai Allah tidak melihat kematian sebagai pengusiran dari dunia, tetapi sebagai panggilan untuk pulang.

*Unknown author (sedikit editan).

Advertisement

Tinggalkan Komentar