Oleh: Sobirin Malian (Dosen Penggiat Literasi)
Kisah ini terjadi pada tahun 9 Hijriah, di bawah sengatan matahari musim panas Madinah yang membakar kulit dan membuat udara terasa berat. Saat itu, kurma-kurma di kebun sedang ranum-ranumnya, menggantung dengan warna merah keemasan seolah mengundang siapa saja untuk memetiknya. Di tengah keteduhan pohon-pohon kurma yang rindang, panggilan jihad berkumandang dengan suara yang menggema ke seluruh penjuru kota. Nabi Muhammad ﷺ menyeru seluruh kaum Muslimin untuk bersiap menuju Tabuk guna menghadapi kekuatan raksasa Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium) yang ancamannya telah sampai ke pintu gerbang umat Islam.
1. Panggilan Jihad dan Jiwa yang Terlena
Medan Berat Ghazwatul ‘Usrah
Perjalanan menuju Tabuk teramat jauh dan medannya begitu berat, hingga perang ini kemudian dikenal dengan nama Ghazwatul ‘Usrah—Perang Kesulitan. Panas gurun yang menyengat, jarak ribuan kilometer, dan kesiapan pasukan Romawi yang jauh lebih besar menjadi ujian besar bagi setiap jiwa yang menjawab seruan itu. Di sinilah iman setiap insan diuji: apakah ia akan bertahan dalam ketaatan, ataukah akan tergoda oleh kenyamanan rumah dan kebun yang menjanjikan ketenangan sesaat.
Mayoritas sahabat berangkat dengan sisa-sisa kekuatan mereka. Ada yang membawa bekal sedikit, ada yang menunggangi unta tua, ada yang berjalan kaki dengan langkah berat, namun semuanya memiliki satu tekad yang sama: rela meninggalkan kenyamanan demi memenuhi seruan Ilahi.
Tiga Sahabat yang Tertinggal
Namun, di sudut lain Madinah, ada tiga orang sahabat yang terbuai oleh kenyamanan sesaat: Ka’ab bin Malik, Murarah bin Ar-Rabi’, dan Hilal bin Umayyah. Mereka bukanlah orang munafik. Mereka adalah ahli iman yang dikenal, yang pernah berdiri bersama Nabi ﷺ dalam berbagai peristiwa penting. Namun kali ini, mereka terlena oleh penundaan hari demi hari. Mereka berkata dalam hati, “Kita akan bersiap besok,” hingga besok itu selalu berganti menjadi besok berikutnya. Akhirnya, ketika kafilah pasukan besar berangkat meninggalkan Madinah, mereka benar-benar tertinggal di rumah masing-masing.
2. Pilihan Pahit di Hadapan Rasulullah ﷺ
Kepalsuan Kaum Munafik
Sepulangnya Rasulullah ﷺ dari Tabuk, Masjid Nabawi dipenuhi oleh orang-orang munafik yang datang dengan cerita-cerita palsu. Mereka sibuk mengarang berbagai alasan untuk menghindari tanggung jawab: ada yang mengaku rumahnya sedang sakit, ada yang mengaku untanya hilang, ada yang mengaku memiliki urusan yang tidak bisa ditinggalkan. Semua itu diucapkan dengan sumpah-sumpah dusta demi menyelamatkan muka dan menghindari kemarahan Nabi ﷺ.
Jalan Sunyi Sebuah Kejujuran
Namun, ketika giliran Ka’ab dan kedua temannya dipanggil, mereka memilih jalan yang sunyi: kejujuran. Mereka tidak mencari alasan, tidak menyembunyikan kesalahan, dan tidak bersumpah dusta. Dengan hati bergetar namun tegap, mereka mengaku khilaf, lalai, dan sama sekali tidak memiliki uzur. Mereka berkata, “Kami tidak memiliki alasan apa pun. Kami hanya lalai, dan Engkau mengetahui besti kami.”
Mendengar kejujuran itu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Adapun orang ini, ia telah berkata jujur. Maka berdirilah, sampai Allah memberikan keputusan kepadamu.”
3. Badai Isolasi di Tanah Kelahiran
Kota yang Menyerupai Asing
Seketika, badai ujian pun dimulai. Rasulullah ﷺ melarang seluruh penduduk Madinah untuk berbicara dan berinteraksi dengan mereka bertiga. Madinah yang biasanya hangat, di mana setiap orang saling mengenal dan menyapa, tiba-tiba berubah menjadi kota yang asing dan dingin. Ka’ab berjalan di pasar, namun tak satu pun mata sudi menatapnya. Ia memberi salam kepada Rasulullah ﷺ, namun ia hanya bisa menebak-nebak apakah bibir mulia itu bergerak menjawab salamnya atau tidak. Semua orang seolah-olah tidak melihatnya.
Malam-Malam yang Menyempit
Malam-malam mereka lalui dengan air mata yang terus tumpah. Jiwa mereka terguncang, dada mereka terasa sesak, dan tidur pun tidak lagi nyenyak. Memasuki hari ke-40, ujian semakin berat ketika Rasulullah ﷺ memerintahkan agar istri-istri mereka dipisahkan untuk sementara waktu. Mereka benar-benar sendiri, terisolasi di tengah tanah kelahiran sendiri. Tidak ada teman, tidak ada keluarga yang bisa mendekat, tidak ada suara yang bisa menenangkan hati.
4. Ujian Takhta dari Raja Ghassan
Surat Sanjungan yang Mematikan
Di puncak kesedihan yang amat sangat, iblis datang mengetuk pintu hati melalui jalur politis. Seorang utusan dari Raja Ghassan, kabilah Arab Kristen yang menjadi sekutu Romawi, datang membawa sepucuk surat rahasia untuk Ka’ab bin Malik. Isinya penuh sanjungan dan janji kemuliaan: “Kami telah mendengar bahwa sahabatmu telah mengucilkanmu… Bergabunglah bersama kami, niscaya kami akan memuliakanmu, dan engkau akan hidup di antara orang-orang yang menghargai kejujuran dan kesetiaan.”
Menolak Dunia di Tungku Api
Ini adalah ujian kesetiaan terbesar. Di saat komunitasnya sendiri membuangnya, musuh justru membentangkan karpet merah. Namun, iman Ka’ab tidak bisa dibeli. Sambil menangis, ia berkata, “Ini juga bagian dari ujian.” Tanpa ragu sedikit pun, Ka’ab membawa surat penawaran suaka itu ke tungku api dan membakarnya hingga menjadi abu. Ia memilih tetap dalam ketaatan, meskipun dunia tampak berpaling darinya.
5. Fajar Ampunan dari Langit Ketujuh
Turunnya Surat At-Taubah Ayat 118
Penantian panjang yang menyiksa itu akhirnya berbuah manis. Pada hari ke-50, tepat setelah shalat Subuh, ketika fajar baru saja menyingsing di ufuk timur dan cahaya mulai menyentuh dinding-dinding Madinah, Allah SWT menurunkan wahyu-Nya. Surat At-Taubah ayat 118 turun, mengabadikan akhir dari penderitaan mereka dan menyatakan bahwa tobat mereka telah diterima oleh Allah yang Maha Penerima Tobat.
Pekik Bahagia di Bukit Sala’
Seketika, seorang sahabat berteriak dari atas bukit Sala’, suaranya membelah udara pagi: “Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah!” Madinah yang semula sunyi pecah oleh pekik bahagia. Orang-orang berlarian ke rumah Ka’ab, menyelamatinya atas ampunan langsung dari Penguasa Semesta Alam. Wajah mereka yang semula murung kini bersinar, dan air mata yang sebelumnya tumpah karena kesedihan kini berubah menjadi air mata syukur.
6. Momen Haru Pertemuan Kembali
Pelukan Hangat Thalhah
Begitu Ka’ab melangkah masuk ke dalam Masjid Nabawi, Thalhah bin Ubaidillah langsung berdiri dari halaqah. Tanpa memedulikan pandangan orang lain, Thalhah berlari kencang ke arah Ka’ab, menjabat tangannya erat-erat, dan memeluknya dengan penuh haru sebagai bentuk penyambutan kembali. Itu adalah pelukan pertama yang diterima Ka’ab setelah sekian lama terisolasi.
Wajah Nabi ﷺ yang Bersinar Layaknya Rembulan
Ketika mata mereka saling bertatap, air mata Ka’ab tumpah. Wajah Rasulullah ﷺ bersinar sangat terang, indah layaknya potongan bulan purnama di langit yang jernih. Sambil memegang tangan Ka’ab dengan penuh kehangatan, Rasulullah ﷺ bersabda, “Bergembiralah dengan hari terbaik yang pernah engkau lalui sejak engkau dilahirkan oleh ibumu!”
Janji Sakral Seumur Hidup
Mendengar bahwa ampunan itu datang langsung dari Allah, Ka’ab berniat menyedekahkan seluruh hartanya sebagai tanda syukur. Namun Nabi ﷺ memintanya menahan sebagian hartanya untuk keluarganya. Di akhir pertemuan, Ka’ab membuat satu janji sakral: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menyelamatkanku hanya karena sebuah kejujuran. Maka, aku berjanji tidak akan pernah berbicara kecuali dengan jujur selama sisa hidupku.”
Penutup
Kisah ini menjadi monumen abadi bagi umat manusia. Ia mengajarkan bahwa kejujuran pada awalnya mungkin akan terasa sangat pahit dan menguras air mata. Ia bisa membuat kita terisolasi, dicela, dan merasa sendirian di tengah keramaian. Namun pada akhirnya, kejujuran itulah satu-satunya jangkar yang akan menyelamatkan kita. Ia bukan hanya tentang berkata benar, tetapi tentang tetap teguh ketika semua orang memilih jalan mudah. Dan di situlah, ampunan Allah akan turun seperti fajar yang menyingsing setelah malam yang panjang.
Advertisement










