
Puisi Pril Huseno
Dirun, pedagang kecil tepi pasar Jatinegara
Selewat trotoar dia bergumam
Panas Jakarta kali ini, beda dengan dulu
Kota ini semakin berdebu
dan dosa,
Semakin sesak mengepul.
Serigala liar bermata merah,
Tambah sering berkumpul
Di gang, di perkantoran, kantin dan pos jaga
Sementara Dirun hanya punya barang loak
Yang sanggup ia pertukarkan dengan receh sekeping dua
Pun kadang mata uang kuno yang didapat
Hasil menggali lubang selokan tetangga yang macet.
Lalu mata liar serigala berdasi tak jarang menghardik
‘’Hendak kumakan di sini atau mati nanti saja…?’’
Dan Dirun hanya bisa mengulurkan sepuluh jari tersusun
Tanda minta ampun se ampun-ampunnya’
Kepada tuan besar serigala berdasi biru
berambut pirang.
Dirun, dan para pedagang kecil, sopir angkot, kuli, tukang parkir
juga segenap lalu lalang kelas bawah terpinggirkan,
memilih menepi, menghindar dari tergilas
Kekuasaan yang rawan.
Kota ini, tanah orang berkejaran
Mencengkeram kerah baju, menghempas harap
Siapa cepat dia dapat, siapa kuat dia bergulat.
Lalu Dirun terkenang dalam hening, sayup,
Dibuai malam.
Selentingan, terdengar kembali nostalgi
‘’Juwita malam, siapakah gerangan tuan
Di Jatinegara kita kan berpisah….”
Jatinegara, 11 Agustus 2026










