Bandung, Kansnews.com – Penulis dan pengamat kebijakan publik Ariyo Bimmo meluncurkan buku Bagaimana Mencari Uang di Bandung?, buku pertama dari Serial Apa Kata Rakyat, Jumat, 16 Oktober 2026, di BMC Bandung, Jalan Aceh No. 30, Bandung.
Buku setebal 182 halaman ini berangkat dari satu pertanyaan sederhana:

Kalau hidup di Bandung, sebenarnya mencari uangnya bagaimana?

Pertanyaan tersebut kemudian membawa Ariyo pada percakapan dengan warga dari berbagai usia, latar pendidikan, pekerjaan, dan pengalaman ekonomi.

Ada guru, pencari kerja, pekerja harian, freelancer, pelaku usaha, mahasiswa, pekerja kreatif, hingga mereka yang harus menggabungkan beberapa sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pengalaman warga tersebut kemudian dipertemukan dengan data ketenagakerjaan, kondisi ekonomi kota, regulasi, dokumen perencanaan pembangunan, program pemerintah, serta anggaran Kota Bandung.

“Buku ini bukan buku motivasi dan bukan pula buku yang dibuat untuk sekadar mengkritik pemerintah. Saya ingin memulai dari pengalaman orang yang benar-benar hidup, bekerja, dan mencari penghidupan di Bandung,” kata Ariyo.

Menurut Ariyo, angka ekonomi penting untuk menunjukkan besarnya suatu persoalan, tetapi angka tidak selalu mampu menjelaskan bagaimana kondisi tersebut dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

“Data menjelaskan skala. Cerita menjelaskan rasa. Kita membutuhkan keduanya kalau ingin memahami sebuah kota,” ujarnya.

Dari Kerja, Upah, sampai Jaringan

Bagaimana Mencari Uang di Bandung? membahas berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan warga.

Di antaranya mengenai ketersediaan pekerjaan dan kualitas penghasilan, hubungan pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja, pentingnya keterampilan dan pengalaman, peran jaringan dalam memperoleh kesempatan, pekerjaan tambahan, usaha kecil, ekonomi digital, artificial intelligence, hingga biaya transportasi dan mobilitas.

Salah satu pertanyaan yang terus muncul dalam buku adalah apakah keberadaan pekerjaan dengan sendirinya berarti seseorang sudah mempunyai penghidupan yang layak.

Buku ini juga mengangkat fenomena semakin banyaknya orang yang mempunyai lebih dari satu sumber pendapatan.

Ada pekerja yang memiliki pekerjaan tambahan. Ada pegawai yang juga berjualan. Ada freelancer dengan beberapa klien. Ada pula orang yang keluar dari pekerjaan untuk membuka usaha, tetapi kemudian justru menginginkan kembali kepastian pendapatan bulanan.

“Realitas ekonomi warga ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar bekerja atau menganggur,” kata Ariyo.

Mencocokkan Cerita Warga dengan Kebijakan

Salah satu pendekatan yang digunakan dalam buku ini diberi nama sederhana: “Coba Kita Cocokkan.”

Pengalaman warga dibandingkan dengan apa yang tercantum dalam perencanaan dan kebijakan pemerintah.

Apakah persoalan yang dirasakan warga juga dikenali pemerintah?
Apakah tersedia program untuk menjawabnya?
Apakah program tersebut mendapatkan anggaran?
Apakah dilaksanakan?
Dan yang paling penting, apakah hasilnya dirasakan warga?

Advertisement

Menurut Ariyo, keberadaan program dan anggaran tidak otomatis berarti sebuah persoalan telah selesai.

“Rencana menunjukkan apa yang dianggap penting. Anggaran menunjukkan apa yang diberi sumber daya. Realisasi menunjukkan apa yang benar-benar dikerjakan. Tetapi hasil menunjukkan apakah masyarakat merasakan perbedaannya,” ujarnya.

Buku ini tidak memberikan penilaian hitam-putih mengenai keberhasilan atau kegagalan Kota Bandung.

Sebaliknya, Ariyo ingin menunjukkan bahwa banyak persoalan warga sebenarnya sudah muncul dalam dokumen perencanaan pemerintah. Tantangannya adalah memastikan terdapat hubungan yang lebih kuat antara masalah, kebijakan, anggaran, pelaksanaan, dan hasil.

Bandung dan Cara Baru Mencari Penghasilan


Perubahan teknologi juga mendapat perhatian khusus.
Pekerjaan remote, marketplace, media sosial, content creator, KOL, live streaming, hingga artificial intelligence telah mengubah cara orang memperoleh pendapatan.

Seseorang kini bisa tinggal di Bandung tetapi bekerja untuk perusahaan atau klien di Jakarta, kota lain, bahkan luar negeri.
Menurut Ariyo, kondisi tersebut membuka kemungkinan baru bagi Bandung.

“Kota tidak harus menyediakan seluruh pekerjaan di dalam batas administratifnya. Yang penting adalah bagaimana orang yang tinggal di Bandung mempunyai kemampuan dan akses untuk menjual nilai yang mereka miliki kepada pasar yang lebih luas,” katanya.

Namun, buku tersebut juga mengingatkan agar digitalisasi tidak dijadikan jawaban otomatis untuk semua persoalan.

Teknologi, menurut Ariyo, seharusnya tetap dilihat sebagai alat untuk membantu orang menjadi lebih produktif, memperoleh pasar, dan meningkatkan penghasilan.

Dimulai dengan Mendengar


Peluncuran buku dikemas dalam acara bertajuk “Ngopi Sore — Apa Kata Rakyat”, dalam format percakapan santai mengenai kerja, usaha, dan cara warga Bandung mencari penghidupan.

Acara berlangsung pada:
Jumat, 16 Oktober 2026
Pukul 16.00–18.00 WIB
BMC Bandung
Jl. Aceh No. 30, Bandung


Selain penulis, acara juga melibatkan editor Mariska Lubis dan sejumlah responden yang menjadi bagian dari proses penyusunan buku.

Acara diselenggarakan dalam suasana informal dengan sajian rebus-rebusan serta pilihan teh dan kopi.

Ariyo mengatakan Serial Apa Kata Rakyat dibangun di atas satu gagasan sederhana: sebelum menentukan jawaban atas suatu persoalan publik, langkah pertama adalah memahami bagaimana masyarakat benar-benar mengalaminya.

“Mendengar tidak berarti semua keluhan otomatis benar. Mendengar juga tidak berarti semua keinginan harus dipenuhi. Tetapi sebelum mengambil keputusan, kita perlu memahami persoalannya terlebih dahulu,” katanya.

Prinsip tersebut kemudian dirangkum dalam kalimat yang menjadi benang merah buku:

“Saat rakyat sudah tidak tahu lagi harus bagaimana, yang mereka butuhkan adalah DIDENGAR.”

Tentang Buku

Judul: Bagaimana Mencari Uang di Bandung?
Serial: Apa Kata Rakyat
Penulis: Ariyo Bimmo
Editor: Mariska Lubis
Jumlah halaman: 182 halaman
Ukuran: A5
Harga: Rp75.000
Informasi pemesanan buku:
Ziva
+62 896-0270-8181

Kontak Media
Mariska Lubis
PIC Media — Peluncuran Buku Bagaimana Mencari Uang di Bandung?
Informasi Acara
PIC Acara & Venue: Myra
dibantu Desiree dan Nita
PIC Penjualan Buku: Ziva

Kreasi foto oleh: Maitreya Ananda Manisha, siswi SMA kelas XI SMAN 15 Bandung

Advertisement

Tinggalkan Komentar