Oleh: Kang Iswanto
Ingatlah, wahai anakku:
Bahwasanya jalan menuju Allah itu dapat ditempuh dari arah yang mana pun juga. Bahkan dari kebencian.
Telusurilah jejak kebencian itu dalam kehidupan, dan saksikanlah bagaimana ia bekerja di dalam dirimu. Lihatlah kerugian yang ditimbulkannya, kerusakan yang ditinggalkannya, dan ketenteraman yang dirampasnya dari hatimu.
Hingga pada suatu ketika, engkau menemukan dirimu, merasa malu kepada dirimu sendiri. Lalu kamu akan berkata berkata: “Betapa bodohnya aku selama ini, memelihara kebencian di dalam diriku.”
Ketahuilah, wahai anakku, pada saat itu sesungguhnya telah terjadi pergeseran dalam kesadaranmu.
Engkau tidak lagi memandang kebencian sebagai dirimu, melainkan sebagai sesuatu yang melekat pada dirimu.
Dan sesuatu yang melekat bukanlah sesuatu yang harus engkau pertahankan.
Maka lepaskanlah ia. Jangan engkau pelihara, jangan engkau beri tempat, dan jangan engkau jadikan ia sebagai alasan untuk membenarkan dirimu.
Namun, jangan pula engkau menyangka bahwa engkau mampu melepaskannya semata-mata karena kekuatan dirimu.
Kembalikanlah segala sesuatu kepada asalnya. Sebab tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah.
Tatkala kebencian tidak lagi engkau akui sebagai dirimu, dan kemampuan untuk melepaskannya tidak lagi engkau akui sebagai milikmu, di situlah engkau mulai mengenal kehambaanmu.
Engkau tidak lagi sibuk memelihara kebencian, tidak pula membanggakan diri karena telah berhasil melepaskannya.
Yang tersisa hanyalah seorang hamba yang menyadari kelemahannya, memohon pertolongan Tuhannya, dan menyerahkan segala urusannya kepada Allah.
Maka janganlah engkau mengira bahwa kebencian selalu menjauhkanmu dari Allah. Adakalanya, melalui kebencian yang engkau sadari dan engkau lepaskan, Allah menuntunmu untuk mengenal dirimu sendiri, dan dari sana, menemukan jalan pulang kepada-Nya.
—
Advertisement










