Jakarta – Kansnews.com — Menyambut pemberlakuan SNI 9445:2026 Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneur – Bagian 1: Pedoman Mutu Ekosistem Wirausaha diharapkan menjadi langkah awal bagi perluasan implementasi ekosistem kewirausahaan berbasis gotong royong di Indonesia. SNI ini bukan sekadar dokumen standar, tetapi merupakan instrumen untuk membangun keterhubungan antarpelaku dalam ekosistem ekonomi. Melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya, G2R Tetrapreneur diharapkan dapat memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengembangkan usaha secara bersama-sama.

Ke depan, tantangan utama adalah memastikan SNI G2R Tetrapreneur dapat disosialisasikan, dipahami, dan diimplementasikan secara luas. Implementasi tersebut diharapkan mampu memperkuat jejaring usaha, meningkatkan nilai tambah produk lokal, membuka akses pasar, serta mendorong lahirnya produk-produk unggulan dan ikonik Indonesia.

Overview Nasional: Ir. Rr. Aisyah Gamawati, M.M. (Sekretaris Komite Teknis (Komtek) 03–13 Manajemen Ekonomi Kolaboratif dari Unsur Pemerintah; dan Penggerak Swadaya Masyarakat Ahli Utama Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal)

“Perjalanan G2R Tetrapreneur hingga menjadi SNI 9445:2026 merupakan proses yang cukup panjang, dimulai dari penjajakan, pengenalan model, hingga akhirnya menemukan alur yang tepat melalui mekanisme Komite Teknis. Salah satu titik awalnya adalah ketika G2R Tetrapreneur mulai dikenal melalui implementasinya dalam pemberdayaan masyarakat di kawasan transmigrasi, sementara model ini sebelumnya telah terlebih dahulu dikembangkan dan diimplementasikan di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Proses tersebut kemudian semakin kuat melalui semangat kolaborasi Ikatan Pimpinan Tinggi Madya Perempuan Indonesia yang memiliki perhatian terhadap penguatan pemberdayaan masyarakat. Kebetulan, terdapat pimpinan perempuan di BSN dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi yang memiliki semangat yang sama dalam mendorong pemberdayaan dan standardisasi. Pertemuan antara komitmen kolaborasi, semangat kelembagaan, dan perjuangan konseptor G2R Tetrapreneur inilah yang kemudian turut membuka jalan hingga lahirnya SNI G2R Tetrapreneur yang selama ini dinantikan masyarakat.

Yang menarik, keterlibatan jejaring pimpinan tinggi perempuan ini tidak berhenti pada proses penyusunan SNI. Di Muna, khususnya dalam pengembangan Kawasan Transmigrasi Mutiara, semangat tersebut juga diwujudkan melalui penguatan pemahaman mengenai standardisasi. Ini menunjukkan bahwa proses standardisasi tidak berhenti pada lahirnya sebuah dokumen, tetapi harus dilanjutkan dengan edukasi, pendampingan, dan implementasi di lapangan.

Harapannya, SNI G2R Tetrapreneur dapat menjadi instrumen yang hidup dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, serta dapat diimplementasikan secara luas di berbagai wilayah, baik pada tingkat desa, kawasan, maupun komunitas. Semangatnya tetap sama: menerjemahkan nilai gotong royong yang selama ini menjadi kekuatan sosial masyarakat Indonesia menjadi kekuatan ekonomi yang nyata, berkualitas, dan berkelanjutan.”

Advertisement



Overview Nasional: Rika Fatimah P.L., S.T., M.Sc., Ph.D., Founder, Konseptor dan Tenaga Ahli G2R Tetrapreneur; yang juga merupakan Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM); sekaligus Wakil Ketua Komisi Teknis 03 – 13 untuk SNI G2R Tetrapreneur.


“SNI G2R Tetrapreneur merupakan inovasi kebijakan nasional wirausaha bergotong royong yang pengembangannya perlu dibangun melalui ekosistem, proses, dan kolaborasi secara sistemik dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Pengakuan praktik manajemen mutu wirausaha Indonesia secara nasional tersebut diharapkan mampu menggerakkan tindakan secara sadar sekaligus membuka peluang agar nilai-nilai Ekonomi Pancasila dapat diterima dan menginspirasi praktik wirausaha dalam keseharian dan kewajaran. Pengambilan keputusan melibatkan Ketuhanan, Kemanusiaan, Kesatuan, Kebijaksanaan dan Keadilan perlu dipahami secara luas hingga menjadi pemahaman nasional yang menyentuh pengambilan keputusan pada berbagai aspek baik di pemerintahan hingga ke masing-masing individunya dapat menginspirasi hingga di tingkat global.”

Penetapan SNI 9445:2026 sekaligus menjadi momentum untuk membawa nilai-nilai ekonomi asli Indonesia ke tingkat yang lebih luas. Gotong royong diharapkan tidak hanya menjadi identitas sosial dan budaya, tetapi juga menjadi kekuatan ekonomi yang mampu menginspirasi dunia.

Overview Global: Ivan Lanovara Djafilus, S.T., M.I.T, Ph.D. (Anggota Komite Teknis (Komtek) 03–13 Manajemen Ekonomi Kolaboratif dari Unsur Pakar)


Pada acara Santai Siang yang disiarkan oleh RRI Pro 2 Yogyakarta, Ivan Lanovara Djafilus, S.T., M.I.T, Ph.D., Anggota Komite Teknis 03–13 Manajemen Ekonomi Kolaboratif dari unsur pakar menegaskan bahwa pemaknaan terhadap standar tidak semestinya dibatasi pada barang atau produk semata.

“Standar itu bukan hanya barang atau produk, tetapi juga proses. Salah satu standar tersebut adalah SNI G2R Tetrapreneur.”
Menurut Ivan yang pula berpengalaman global melalui kepakarannya pada Malaysian Industry-Government Group for High Technology (MIGHT) dan Texas Instrument Malaysia, SNI G2R Tetrapreneur memiliki karakter yang komprehensif karena tidak hanya berbicara mengenai produk akhir, tetapi juga mencakup bahan baku, proses kerja, hingga nilai (value) yang melekat pada suatu produk. Pendekatan tersebut membuat kualitas tidak hanya dilihat dari apa yang dihasilkan, tetapi juga bagaimana sesuatu dihasilkan dan nilai apa yang diciptakan melalui proses tersebut.



Lebih jauh, Ivan memperkenalkan perspektif global yaitu “value makes values” untuk menggambarkan pentingnya penciptaan nilai tambah dalam pengembangan produk dan usaha. Menurutnya, produk yang dirancang secara sadar untuk memiliki nilai lebih akan memiliki posisi yang lebih berharga dibandingkan produk sejenis yang mendapatkan perlakuan berbeda. Dengan demikian, standardisasi tidak berhenti pada upaya menghasilkan produk yang seragam, tetapi dapat menjadi instrumen untuk mendorong penciptaan nilai tambah dan diferensiasi.

Perspektif tersebut sejalan dengan semangat global G2R Tetrapreneur yang menempatkan aktivitas wirausaha sebagai bagian dari sebuah ekosistem. Nilai sebuah produk tidak hanya ditentukan oleh produk itu sendiri, tetapi juga oleh kualitas bahan baku, proses produksi, sumber daya manusia, jejaring, kolaborasi, hingga hubungan dengan pasar dan lingkungan sosialnya. Peran global dapat dilihat pada salah satu karakter penting SNI G2R Tetrapreneur, menurut Ivan, adalah adanya nilai Pancasila yang melekat di dalam pendekatannya. Nilai tersebut bukan sekadar ditambahkan sebagai prinsip normatif, melainkan berangkat dari budaya dan kebiasaan yang telah hidup dalam masyarakat Indonesia.

Semangat gotong royong, kolaborasi, kebersamaan, dan saling menguatkan menjadi bagian dari nilai yang diterjemahkan ke dalam pengembangan ekosistem wirausaha. Oleh karena itu, SNI G2R Tetrapreneur memiliki karakter yang berbeda dari pendekatan standardisasi yang sekadar mereplikasi standar dari negara lain.

Pandangan global tersebut memperkuat pesan bahwa standardisasi dapat berjalan beriringan dengan identitas dan karakter bangsa. SNI G2R Tetrapreneur berupaya menerjemahkan nilai-nilai yang telah hidup dalam masyarakat Indonesia ke dalam suatu kerangka ekosistem wirausaha yang lebih terstruktur, terukur, dan dapat dikembangkan.

Advertisement

Tinggalkan Komentar