
Karya Alfiansyah
aku pernah bercerita pada langit
saat matahari karam di wajahku
ombak berisik seperti kepala sendiri,
dan aku memilih pelan-pelan tenggelam dalam kata
hidupku: agenda yang tak pernah selesai
deadline beranak-pinak di dada
waktu menggiringku berlari
seperti angin pantai yang tak tahu pulang
sesekali, ia berubah tangan
—mencekik leherku diam-diam
hingga napas terasa seperti utang
aku dikejar sesuatu yang tak punya kaki
namun selalu lebih dulu tiba
sementara tubuh ini
mulai pecah dari bawah:
telapak melepuh,
genggaman luruh,
napas tinggal separuh
haruskah aku rebah sebentar,
menanggalkan seluruh nama yang kupakai,
agar Tuhan melihatku
bukan sebagai yang kuat
—tapi yang benar-benar habis?
dunia cuma sisa-sisa:
roti yang telah dilahap,
susu yang tandas tanpa jejak
tak ada yang bisa kubawa pulang
selain tubuh yang perlahan runtuh
jika aku mati muda,
kepada siapa dosa-dosaku pulang
saat doa pun tak sempat kuucapkan?
langit menutup mulutnya
matahari pergi
dan laut di hadapanku
tak lagi biru
—hanya gelap yang belajar menjadi dalam
Jakarta, April 2026











