Gus Dur: Pahlawan Garis Lucu
Oleh: Gus Nas Jogja Jika pertanyaannya adalah kenapa Gus Dur layak menjadi Pahlawan Nasional, maka jawabannya karena ia satu-satunya tokoh anomali pemegang mandat absurd...
Belajar dari Imam Aziz, Kepahlawanan Sebagai Kenosis
Oleh: Indro SuproboDalam kolom Udar Rasa, Kompas, 2 November 2025, mengutip kriteria yang ditulis oleh Allison & Goethals dalam buku Hero: What They...
Dua Wajah Sherly
Catatan Cak ATDi republik yang hobinya nonton drama politik lebih rajin dari nonton tutorial masak, panggung nasional sekarang-sekarang ini diramaikan oleh dua sosok yang...
China VS Amerika Serikat: Antara Sun Tzu dan Clausewitz
Oleh: Radhar TribaskoroPada 2018, Amerika Serikat memutuskan menyerang dari medan yang berbeda. Bukan laut. Bukan pelabuhan. Tapi teknologi. Huawei dijadikan simbol ancaman. Ponsel menjadi...
Paradoks Ekonomi Digital Indonesia: Besar di Transaksi, Tapi Kecil di Kendali
Oleh: Agus M. MaksumTechnopreneur Ideologis | Pejuang Kedaulatan Digital & Pembuat Platform Digital Ekonomi Pancasila ( PDEP) Paparan Meutya Hafid dan...
Tiga Pilar Integritas
Catatan Cak ATDi zaman ketika integritas dianggap seperti sinyal WiFi —kadang kuat, kadang putus sendiri tanpa permisi— kita sering lupa bahwa integritas itu bukan...
Kemenangan Zohran Mamdani Bukan Simbolis Tapi Transformasional
Oleh: Shamsi Ali Al-Nuyorki* Kota New York selalu menjadi mosaik identitas, keyakinan, suku dan ras, bahkan asal kebangsaan (nation origins). Sungguh disayangkan, di bawah...
Zohran Mamdani, Selamat
Catatan Cak ATNew York, kota yang biasanya hanya "kalah" oleh dirinya sendiri, hari ini memilih untuk mencatat sejarah dengan huruf tebal dan sedikit tinta...
Mestinya Pembangunan Fisik Koperasi Desa Mencontoh Saemaul Undong Korea Selatan
Oleh: SurotoKetua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES), CEO Induk Koperasi Usaha Rakyat (INKUR)Presiden Prabowo Subianto baru saja mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) No. 17 Tahun...
Planet di Ujung Napas
Catatan Cak ATBumi kini seperti manusia tua yang masih berusaha tersenyum meski paru-parunya penuh debu, darahnya dipenuhi plastik mikro, dan jantungnya —yang dulu berdenyut...















