
Oleh: Aprinus Salam
Saya termasuk yang menikmati ceramah, orasi, berbagai wawancara Rocky Gerung di media sosial. Dari amatan saya; bacaan beliau luas, ingatannya kuat, analisisnya mendalam dan filosofis, konstruksi logikanya koheren. Kerangka berpikirnya tertib dan sistematis. Pernyataan-pernyataannya dalam koridor ilmu pengetahuan yang bisa dilacak secara literatif, akademik, historis, dan intelektual.
Salah satu pusat perhatiannya adalah politik kekuasaan yang dipraktikkan eksekutif, legislatif, dan yudikatif dalam segala levelnya. Rocky sering mengatakan bahwa banyak kebijakan dan keputusan politik, ekonomi, sosial, bahkan kebudayaan di Indonesia tidak logis, tidak rasional, untuk mengatakan bahwa secara umum praktik kekuasaan di Indonesia berjalan secara brengsek, manipulatif, dan korup.
Sebagai akibatnya, banyak situasi dan kejadian buruk terjadi di Indonesia, baik secara fisik maupun mental. Indonesia mengalami kemiskinan dan kebodohan yang tak berkurang, kehidupan yang ngawur dan berbahaya terus berlangsung, kepedulian sosial bangkrut, kekonyolan dan kebusukan terus membesar.
Tentu, banyak dari pihak penguasa tidak suka dengan kritik Rocky Gerung. Sayangnya, pembelaan dari pihak penguasa bukan dengan argumen yang setara, rasional dan logis, tetapi justru dengan menyindir Rokcy yang dianggap sok pintar padahal sekolah saja tidak beres. Rocky hanya pintar omong, tapi nyaris tidak punya kontribusi apa-apa terhadap Indonesia.
Paling tidak ada dua hal dari Rocky yang kelak kita akan menyaksikan bahwa Rokcy telah melakukan hal benar (dan betul). Posisi dan perspektif Rocky, kelak, mungkin juga sudah, akan ditempatkan dalam posisi dibenarkan dalam sejarah intelektual Indonesia.
Kita tahu, banyak kebijakan dan keputusan kekuasaan berlindung atas nama hukum administrasi kenegaraan dan berkuasa atas aturan kehidupan. Padahal, kebijakan dan keputusan tersebut harus selalu diuji apakah benar, baik, relevan, dan berdampak positif.
Hal benar dari Rocky adalah dia memberi pelajaran kepada kita bahwa kekuasaan tidak perlu ditakuti dan harus dikritisi. Tentu dengan kritik yang rasional, logis, berwawasan, dengan niat memperbaiki praktik kekuasaan dan nasib orang Indonesia. Dengan demikian, sikap kritis dan kritik perlu diterima dan dipahami sebagai hal baik dan kontributif.
Rocky memberi pelajaran, jangan mengkritik asal kritik, atau mengkritik karena tidak suka terhadap persona penguasa tertentu, mengkritik karena kalah, mengkritik karena tidak dapat jatah, dan sebagainya. Mengkritik harus dalam posisi membela kepentingan rakyat, bangsa, dan negara.
Pelajaran benar dari Rocky adalah pelajaran tentang keberanian. Berani berhadapan dengan kekuasaan, berani berpikir mandiri dan kritis. Kita tahu, mohon maaf, sangat banyak yang tidak berani. Ada suatu konstruksi kuasa-kultural tertentu sehingga kita mengalami ketakutan berhadapan dengan apa yang disebut sebagai kekuasaan pemerintah karena secara hukum didukung aparat kekerasan.
Pelajaran kedua, apa pun pembelaan dari pihak kekuasaan terhadap kritik Rocky, maka Rocky akan selalu benar jika Indonesia masih dalam keadaan tidak baik-baik saja. Walaupun hidup terus berjalan, walau kadang terkesan baik-baik saja, namun praktik kehidupan di Indonesia jauh dari sesuatu yang dapat dinilai sebagai adil, makmur, dan sejahtera. Suatu yang tercatat dalam Pembukaan UUD 1945.
Mana tahu, suatu ketika Indonesia akan lebih baik pada masa depan, terlepas apakah Indonesia belajar dari apa yang dikritik Rocky atau tidak. Kalau Indonesia tidak belajar dari apa yang dikritisi Rocky tetap saja Rocky tidak melakukan kesalahan apapun ketika Indonesia menjadi lebih baik.
Akan tetapi, sangat mungkin wacana-wacana kritis yang telah diperjuangkan Rocky, paling tidak dua dekade belakangan ini, sedikit banyak beresonansi ke banyak generasi muda yang menikmati berbagai ceramah, orasi, dan berbagai wawancara di media sosial yang bisa kita lihat begitu banyak penyaksinya.
Pelajaran benar yang perlu diingat sebagai investasi Rocky adalah kontribusi dan tanggung jawab warga negara terhadap Indonesia bukan berdasarkan jabatan dan kekuasaan, tapi justru kontribusi pelajaran keberanian dan sumbangan pemikiran. Rocky telah memberi pelajaran hal benar kepada bangsa Indonesia. Kalau Rocky selalu waspada untuk tidak terjebak dengan hal-hal manipulatif, maka kelak dia akan dikenang sebagai pejuang keberanian dan pemikiran kritis.
Aprinus Salam, Guru Besar di FIB UGM.











