Karya: Dewanty Maharani

Ibu, kau menenun bayanganku dari sinar matahari pagi.
Langit-langit rumah adalah lengkung alismu,
menjaga setiap detak jantungku dari kilat duka dan air mata

Ibu, kau adalah hujan yang lahir dari lautan tanpa akhir, menetes di dahiku sebagai doa tanpa jeda.
Tanganku menggenggam udara, tapi yang kurasakan adalah kehangatanmu, mencairkan segala dingin di dadaku.

Kau adalah kanvas semesta yang tak pernah selesai, warna-warnamu mekar di sudut-sudut waktu, dan aku hanya garis kecil
yang belajar mencintai dunia lewat matamu.

Dalam tidurku, kau adalah bunga yang mekar di atas tebing, tak pernah takut pada badai yang mengancam, tak pernah lelah melawan musim demi memetik senyum di lengkung bibirku.

Aku menyebut namamu, ibu, seperti mantra yang meredakan gemuruh langit.
Kau hadir di sela retakan hatiku, menyulam luka menjadi selimut kasih.

Jika duniaku runtuh dan tinggal debu, aku tahu kau akan tetap berdiri tegak dan menjadi cahaya yang menuntun jalanku pulang.
Ibu, cintamu adalah puisi yang abadi, menghidupkan detik-detikku dengan irama yang tak akan pernah mati.

Bandung, 24 Desember 2024
Advertisement

Tinggalkan Komentar