Kawan yang Pulang Lebih Dulu

Oleh: Iwan Samariansyah

Kabar itu datang dari Luwuk, dari pesisir timur Sulawesi Tengah yang jauh. Selasa siang, pukul 14.10 WITA, di sebuah ruang RSUD Luwuk, jam kehidupan seorang kawan berhenti berdetak. H. Mochammad Miftachun Ni’am telah berpulang dalam usia 59 tahun. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Ada kabar yang dibaca sekali lalu dilupakan. Ada pula kabar yang dibaca berulang-ulang karena hati menolak percaya. Kabar tentang Miftach termasuk yang kedua. Kita membaca namanya di poster duka yang beredar di grup-grup WhatsApp, memandangi fotonya yang tersenyum sambil memegang mikrofon, lalu bertanya pelan kepada diri sendiri: secepat inikah?

Padahal rasanya baru kemarin ia masih ada di antara kita. Masih membalas pesan, masih bertanya kabar, masih menyimpan rencana-rencana yang belum selesai.

Dari Kampus, dari Masa Muda


Miftach adalah bagian dari angkatan 1988 Teknologi Pertanian UGM. Angkatan yang tumbuh dewasa di penghujung dekade yang gelisah, ketika kampus masih menjadi tempat anak-anak muda belajar berpikir, berdebat, dan bermimpi tentang negeri yang lebih baik.

Di masa itu pula ia memilih jalan sebagai aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Bagi banyak dari kita, HMI bukan sekadar organisasi. Ia adalah rumah tempat kita belajar bahwa ilmu harus berpihak, bahwa iman harus menggerakkan, dan bahwa persahabatan yang ditempa dalam diskusi sampai larut malam bisa bertahan jauh lebih lama daripada masa kuliah itu sendiri.

Dari rumah itulah Miftach membawa bekal yang ia pegang seumur hidup: kesetiaan kepada kawan dan kesediaan untuk bekerja keras bagi sesuatu yang ia yakini.

Di Tengah Hamparan Kebun


Selepas kampus, hidup membawanya ke dunia perkebunan besar. Bertahun-tahun ia bekerja di lingkungan yang jauh dari gemerlap kota, di antara barisan tanaman yang membentang sampai ke kaki langit, di tempat-tempat yang namanya jarang kita dengar.

Pekerjaan semacam itu menuntut ketahanan. Tidak semua orang sanggup menjalaninya. Tetapi Miftach sanggup, karena ia memang ulet. Ia bukan tipe orang yang mudah menyerah pada keadaan. Ia menjalani pekerjaannya dengan tekun, menyelesaikan satu tugas lalu bergerak ke tugas berikutnya, tanpa banyak mengeluh.

Barangkali dari sanalah ia belajar kesabaran yang sama dengan kesabaran seorang petani: menanam hari ini untuk panen yang belum tentu ia saksikan sendiri.

Setia Kawan, Sampai Akhir

Jika ada satu hal yang paling sering disebut orang tentang Miftach, itu adalah kesetiakawanannya. Ia teman yang baik. Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi siapa pun yang pernah melewati usia lima puluh tahun tahu betapa langkanya teman yang benar-benar baik.

Waktu memisahkan banyak persahabatan. Kesibukan, jarak, dan perbedaan jalan hidup perlahan membuat kita saling melupakan. Tetapi Miftach tidak demikian. Ia termasuk orang yang menjaga tali silaturahmi tetap tersambung, yang masih mengingat kawan lama, yang hadir ketika dibutuhkan.

Ia tidak pernah menghitung apa yang sudah ia berikan. Baginya, persahabatan bukan transaksi. Persahabatan adalah amanah.

Di Jalan Politik

Kerja kerasnya tidak berhenti di dunia profesional. Miftach juga terjun ke gelanggang politik dengan sepenuh hati. Ia menjadi salah satu pemimpin Jaringan Nasional (Jarnas) untuk Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar, menggerakkan relawan, menyusun barisan, dan menghabiskan tenaga untuk gagasan yang ia percaya.

Terakhir, ia mencalonkan diri sebagai anggota parlemen dari daerah pemilihan Solo, Jawa Tengah. Ia berjuang, mengetuk pintu demi pintu, menyapa satu demi satu calon pemilih. Hasilnya tidak berpihak kepadanya. Ia tidak terpilih.

Tetapi mungkin di situlah letak kebesaran seseorang: bukan pada kemenangan yang ia raih, melainkan pada keberanian untuk mencoba. Tidak semua orang berani mempertaruhkan nama, tenaga, dan hartanya untuk sebuah pengabdian. Miftach berani. Dan keberanian itu tidak pernah sia-sia di mata Tuhan yang Maha Menghitung setiap niat baik.

Pulang yang Sebenarnya

Kini Miftach menempuh perjalanan terakhirnya. Jenazahnya diterbangkan dari Luwuk menuju Jakarta, melintasi langit yang barangkali pernah ia pandangi dari jendela pesawat dalam perjalanan-perjalanan dinasnya dulu. Bedanya, kali ini ia tidak lagi membawa koper, tidak lagi membawa rencana. Ia pulang dengan ringan.

Ia pulang ke rumahnya di Limus Pratama, Cileungsi. Ke rumah tempat keluarganya menunggu. Ke masjid tempat para jamaah akan menyalatkannya. Ke tanah tempat ia akan beristirahat panjang.

Ada ironi yang lembut dalam kepulangan ini. Seumur hidup ia bekerja dengan tanah: mempelajarinya di bangku kuliah, mengolahnya di hamparan perkebunan. Dan kini, tanah pula yang menerimanya kembali dengan kasih sayang seorang ibu.

Untuk Kawan yang Telah Pergi

Miftach, kawan kami.

Maafkan kami yang mungkin tidak sempat menjengukmu. Maafkan pesan-pesan yang tidak sempat kami balas, janji bertemu yang terus kami tunda, dan kalimat “kapan-kapan kita ngopi” yang tidak pernah menjadi kenyataan. Kami selalu mengira waktu masih panjang. Ternyata tidak.

Terima kasih untuk persahabatanmu. Terima kasih untuk kesetiaanmu. Terima kasih telah mengajarkan kepada kami bahwa kerja keras dan kebaikan hati bisa berjalan bersama.

Engkau telah menyelesaikan tugasmu di dunia. Beristirahatlah dengan tenang. Semoga Allah SWT mengampuni segala khilafmu, menerima seluruh amal ibadahmu, melapangkan kuburmu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga keluarga yang engkau tinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu. Aamiin.



Informasi Duka

Almarhum: H. Mochammad Miftachun Ni’am, S.TP., M.M. (59 tahun)
Wafat: Pukul 14.10 WITA di RSUD Luwuk, Sulawesi Tengah
Kepulangan jenazah: Rabu, 23 September, Batik Air dari Luwuk pukul 15.05 WITA, perkiraan tiba di Jakarta pukul 19.15 WIB
Dishalatkan: Masjid Al Ukhuwah, Limus Pratama
Pemakaman: Kamis, 24 September, pukul 10.00 WIB, di Limus Pratama.
Rumah duka: Limus Pratama Regency Blok D 31, Limus Nunggal, Cileungsi, Kabupaten Bogor 16820

Advertisement

Tinggalkan Komentar