Jalan Tengah atau Radikal Kiri?
Oleh: Suwarsono Muhammad
Tulisan ini dibuat sebagai pengantar diskusi. Dalam mempersoalkan dan merancang solusi strategi ketimpangan ekonomi apakah Indonesia dapat dan perlu belajar dari pengalaman pembangunan Chili, sebuah negara di Amerika Latin yang sejak menjelang akhir tahun 1973 sampai tahun 2021 mengikuti dan mengimplementasikan model ekonomi neoliberalisme, dalam varian aslinya maupun setelah mengalami berbagai penyesuaian. Pada masa awal, ketika Jenderal Augusto Pinochet berkuasa dengan model politik diktatorian, ekonomi neoliberalisme asli sepenuhnya diadopsi. Uniknya ketika terjadi pergantian rezim menjadi negara demokratis sejak tahun 1990, model ekonomi neoliberalisme tidak dicampakkan. Tetap bertahan dan digunakan sampai tahun 2021 sebagai model pokoknya dengan berbagai penyesuaian yang signifikan. Diberi nama baru yakni neoliberalisme pragmatis. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai neoliberalisme inklusif.
Jika menggunakan referensi waktu ketika itu, dapat dipastikan pilihan tidak meninggalkan model neoliberalisme amat mengejutkan, bahkan boleh dikata tidak terduga. Pergantian rezim politik normalnya membawa akibat pada pergantian model pembangunan ekonomi. Tetapi jika
dievaluasi dengan referensi waktu kekinian, pilihan tersebut sepertinya boleh dikata merupakan pilihan strategis yang tepat. Belakangan ini telah disadari bahwa hampir mustahil untuk memilih model pembangunan yang berada pada titik ekstrim; paling kanan atau paling kiri. Semuanya mengarah pada jalur moderat, berada di tengah-tengah. Neoliberalisme inklusif merupakan salah satu model yang berada di jalur moderat tersebut. Sekarang ini telah terbit berbagai tulisan yang secara sungguh-sungguh dan kritis membahas tentang implikasi negatif struktural dari praktik pembangunan bermadzab neoliberalisme.
Sepertinya risiko yang ditimbulkan dinilai telah terlalu dalam, sudah sampai pada tingkatan ancaman eksistensial – kemungkinan kematian setidaknya keruntuhan neoliberalisme – jika tidak dilakukan perubahan yang relatif mendasar. Telah sampai pada tahap krisis dan kritis. Oleh karena itu tidak mengherankan jika kemudian di dalam berbagai tulisan yang tersedia dilanjutkan bahasannya sampai pada usulan strategis untuk melakukan reformasi neoliberalisme. Jangan sampai neoliberalisme ditinggalkan, karena sejatinya memang telah memberikan hasil yang memadai berupa peningkatan taraf hidup amat banyak orang dan peningkatan kesejahteraan yang luar biasa bagi sedikit orang, tetapi mau tidak mau perlu mengurangi dampak negatifnya secara signifikan. Neoliberlisme tidak pernah hendak dibuang, tetapi perlu melakukan penyesuaian struktural (structural adjustment), jika frasa ini boleh dan tepat dipakai.
Dijumpai beberapa tulisan tentang keberhasilan pertumbuhan, ketimpangan ekonomi, dan liberalisme yang dibuat oleh akademisi menjulang kelas dunia, antara lain Nature, Culture, and Inequality (Piketty, 2024), The Crisis of Democratic Capitalism (Wolf, 2023), Liberalism and Its Discontent (Fukuyama, 2022), The Inner Level (Wilkinson dan Pickett, 2019), Capitalism Alone (Milanovic, 2019), Global Inequality (Milanovic, 2016). Jika sedikit jeli, sesungguhnya jauh sebelumnya telah ada peringatan dini yang tajam yang diberikan oleh akademisi yang tidak kalah menjulang, misalnya Atkinson (2015), Piketty (2014), dan Stiglitz (2015). Piketty dikenal sebagai akademisi yang membawa kembali persoalan ketimpangan ekonomi mengedepan, setelah agak lama tema tersebut dipinggirkan dan dilupakan, yang kemudian diikuti oleh Atkinson yang lebih menekankan pada “what can be done?” Semuanya memberikan perhatian yang dalam pada ketimpangan ekonomi yang tajam, sebagai akibat struktural dari pembangunan ekonomi model neoliberalisme.
Semua tulisan yang telah disebut itu pada umumnya berisi tentang argumen teoritis yang berhasil dibangun setelah mereka melakukan penelitian mendalam di berbagai negara. Sifat eklektik yang biasanya melekat erat pada model jalan tengah, yang diajukan oleh berbagai penulis itu, kini tidak lagi dijadikan alasan kuat untuk menolaknya.
Berbeda dengan berbagai buku yang telah disebut di atas, buku yang ditulis oleh Edwards (2023) berikut ini sepenuhnya dibangun berdasarkan satu kasus saja, yakni pembangunan ekonomi Chili, sebuah negara di Amerika Latin, selama hampir setengah abad, sejak 1973 sampai 2019, yang sepenuhnya mendasarkan diri pada paham neoliberalisme. Bahkan boleh dikatakan isi buku tersebut mencakup sampai pada tahun 2021, setelah tahun 2019 lahir perlawanan besar pada paham neoliberalisme. Buku ini berjudul The Chile Project: The Story of the Chicago Boys and the Downfall of Neoliberalism ditulis oleh Sebastian Edwards (2023), guru besar ternama
dalam bidang ekonomi internasional di University of California, Los Angeles.
Sejak 1973 sampai 2021 kinerja ekonomi Chili dinilai sebagai berhasil dan terlantar (success and neglect), jika memakai bahasa yang digunakan oleh Edwards (2023: 270). Bahkan ada yang menyebutnya dengan Keajaiban Chili (Chilean Miracle) (Edwards, 2023: 2). Berhasil dalam meraih pertumbuhan ekonomi tinggi dan sekaligus mengurangi jumlah penduduk miskin secara signfikan. Chili menjadi negara termakmur di kawasan. Keberhasilan ini mulai terlihat nyata justru setelah Chili meninggalkan sistim politik otoritarian dan kembali mengadopsi sistim demokrasi pada tahun 1990. Pada masa politik otoritarian kinerja ekonomi yang diraih justru
tidak impresif.