Oleh: Indro Suprobo
Dalam perspektif teologi pembebasan Gustavo Gutierrez, intelektualitas, seni, dan kesusastraan tidak bisa bersikap netral. Terutama dalam situasi ketidakadilan dan penindasan, ia harus berpihak kepada yang ditindas (preferential option for the oppressed). Sikap netral justru mendukung para penindas. Perspektif Gustavo Gutierrez ini menyediakan prinsip yang sangat jelas untuk melihat penolakan thd kehadiran Andrea Bocelli dalam konser di beberapa tempat.
Dalam perspektif dan prinsip teologi pembebasan Gutierrez ini, Andrea Bocelli yang pernah mengikuti konser amal untuk mendukung tentara IDF, dengan sangat jelas dapat dilihat di manakah posisinya. Ia berada di dalam posisi mendukung penindas.
Masih dalam perspektif Gutierrez, penolakan thd Bocelli bukanlah kebencian, justru sebaliknya ini merupakan tindakan cinta kasih. Sekali lagi ini pernyataan Gutierrez. Pernyataan persisnya demikian:
……Neutrality is impossible. It is a question of which side we are on. To love all men does not mean avoiding confrontation. It does not mean preserving a fictitious harmony. Universal love is that which in solidarity with the oppressed, seeks also to liberate the oppressors from their own power, from their ambition, and from their selfishness. One loves the oppressors by liberating them from their inhuman condition as oppressors, by liberating them from themselves. But this can not be achieved except by resolutely opting for the oppressed, that is by combatting the oppressive class. It must be a real and effective combat, not hate…..
(Gustavo Gutierrez, A Theology of Liberation, History, Politics and Salvation, Orbis Books – Maryknoll, New York 1972, hlm.275-276)
Dengan demikian, penolakan terhadap Bocelli, merupakan salah satu cara “membebaskan dia dari sikap tidak manusiawinya krn mendukung IDF, dan merupakan tindakan combatting the oppressive class”.
Ini bukan hanya soal seni, menyanyi, cantus, atau pariwisata. Ini adalah persoalan sikap etis di tengah ketidakadilan.
Tanpa pertimbangan semacam ini, kesenian dan pariwisata hanya menjadi fungsi ortopedik, yakni menyangga fantasi kekokohan, keindahan, harmoni, namun menyembunyikan osteoporosis etis (pengeroposan etis) yang menormalisasi penindasan brutal terhadap kemanusiaan.
Advertisement










