Oleh : Salim A. Fillah.

Saat ramai perbincangan tentang Suksesi dalam Dinasti Mataram, tak lengkap rasanya jika tidak mengisahkan Pangeran Dipanegara tanpa menceritakan Eyang Buyut-nya (Sultan Hamengku Buwana I) yang berfirasat di saat kelahiran sang cicit (Pangeran Dipanegara).

Sultan Hamengku Buwana I berkata kepada permaisurinya, “Mbok Ratu, jaga anak (cicit/Pangeran Dipanegara) ini baik-baik, sebab kelak dia akan memberi kerusakan yang lebih parah kepada Belanda lebih dari pada apa yang pernah aku lakukan (dalam Perang Mangkubumi 1746-1755)!”

“Susah menebak hati orang Jogja”, kata seorang teman dari Sumatera.

“Semua hal ditanggapi dengan senyum, tapi arti senyumnya banyak sekali.”

Tentu kawan ini melakukan ‘penggebyahan’.

Tak semua orang Yogyakarta tersenyum sebanyak yang beliau gambarkan itu.

Tapi baiklah saya akan bercerita tentang seseorang yang perjuangannya akan diperingati sebagai berdirinya kota ini; Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengku Buwana I).

Ketika Pangeran Mangkubumi bertakhta sebagai Sultan Hamengkubuwana I di Yogyakarta, Prof. Merle Calvin Ricklefs dalam karya masterpiece-nya, ‘Yogyakarta Under Sultan Mangkubumi 1749-1792’ menyebut, takkan bisa dibantah bahwa beliau-lah ‘Raja terbesar Dinasti Mataram setelah Sultan Agung Hanyakrakusuma’.

Dan beliau memang banyak tersenyum dalam berbagai keadaan.

Pun bahkan ketika menerima penghinaan yang kasar dari Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff dan Patih Pringgalaya di balairung istana kakaknya, Sunan Pakubuwana II pada 1746, beliau juga tersenyum.

Tapi malam itu setelah pamit dan memohon restu Kakandanya, beliau akan memimpin salah satu perang terdahsyat yang dihadapi VOC sepanjang sejarahnya.

Pada 1755, perang yang menguras kas penjajah dan menimbulkan kerugian besar itu harus diakhiri.

Seorang Arab yang mendarat di Batavia bernama Syarif Besar Syaikh Ibrahim diminta oleh Gubernur Pantai Timur Laut Jawa Nicolaas Hartingh untuk atas nama Sultan Turki ‘Utsmani membujuk sang Pangeran untuk menghentikan peperangan dan menerima pembagian Negara Mataram menjadi dua, ‘Palihan Nagari’, berbagi dengan keponakannya Pakubuwana III yang bertakhta di Surakarta.

Kompensasinya, gelar Sultan resmi dari Daulah ‘Utsmaniyah akan ditahbiskan untuk Pangeran Mangkubumi.

Merasa bahwa rakyatpun turut menderita karena perang yang menewaskan panglima pasukan VOC Kolonel De Clerck dan juga menewaskan orang nomer satu Batavia Gubernur Jenderal.

Perang yang membuat orang nomer satu Hindia Belanda Gubernur Jenderal Van Imhoff terluka parah lalu tewas pada 1750 di Benteng Ungaran itu, traktat pun ditandatangani di Jantiharjo, Karanganyar.

Kita mengenangnya sebagai Perjanjian Giyanti.

Beliau menerima Kesultanan barunya yang beribukota di Yogyakarta bergelar Ngarsa Dalem ingkang Sinuwun Sri Sultan Hamengkubuwana kaping 1 Senapati Ngalaga Sayidin Panatagama Khalifatullah tanah Jawi.

Tapi jika kita belum bisa mengalahkan musuh, setidaknya buatlah agar hatinya selalu rusuh.

Jan Greeve, Gubernur VOC untuk Nord Oost Kust yang menjabat 1787-1791 mencatat kenangan tak terlupakan seperti direkam M.C. Ricklefs dalam “Yogyakarta Under Sultan Mangkubumi 1749-1792” tentang betapa merepotkannya si senyam-senyum ini bahkanpun di masa damai.

Bagian dari Perjanjian Giyanti adalah VOC diizinkan mendirikan benteng pengawas di ibukota kedua negeri; Surakarta dan Yogyakarta.

Berbeda dengan di Surakarta yang Fort Rustenburg Surakarta selesai dibangun hanya dalam waktu singkat.

Akan tetapi Fort Vredeburg Yogyakarta harus menanti belasan tahun kemudian dengan berbagai kendala yang agaknya disengaja Sultan dari soal letak, pengadaan tanah, ‘banjirnya’ lokasi, bahan bangunan yang lambat disediakan, pengiriman material yang ‘dibegal’, ‘amblesnya’ pondasi, kerusakan bata, kerusakan kapur, pergantian berulang kali pejabat yang diserahi tanggung jawab, pergantian berulang kali tenaga kerja dan tukang yang ‘malas serta asal-asalan’.

Jan Greeve geleng-geleng kepala karena di seberang selatan sana, pembangunan Benteng Baluwarti Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang berukuran puluhan kali lebih besar dari pada Fort Vredeburg malah berjalan lancar di bawah pimpinan Putra Mahkota Jogja, Raden Sundara.

Ketika diberlakukan aturan agar para raja Nusantara mengucapkan selamat tiap kali ada pengangkatan Gubernur Jenderal VOC yang baru; Sultan meminta agar Patihnya beserta para nayaka difasilitasi untuk berangkat ke Batavia.

Sementara raja-raja lain mengirim beberapa orang saja, rombongan duta Yogyakarta berjumlah 3000 personil sehingga kedatangan mereka ke Batavia, selain menghabiskan anggaran, lebih seperti parade pameran kekuatan Sultan Mangkubumi daripada mengucapkan selamat.

Berjalan dua kali untuk pengangkatan Van Riemsdijk pada 1775 dan Reinier de Klerck pada 1777, Gubernur Jenderal Willem Arnold Alting akhirnya meminta Sultan cukup mengucapkan selamat di Semarang saja diwakili Gubernur Nord Oost Kust.

Tapi Sultan menolak.

Martabatnya, kata beliau hanya sejajar dengan Batavia.

Adalah penghinaan baginya kalau ucapan itu diberikan di Semarang.

Jan Greeve yang datang ke Yogyakarta untuk merundingkan beberapa hal termasuk perkara ini harus menghadapi ‘teror’ serta ‘horor’ lanjutan.

Setelah mengunjungi Surakarta, dia menuju Yogyakarta melalui Jalan Raya Prambanan.

Di sepanjang jalan masuk ke Keraton, prajurit Yogyakarta berbaris dan hendak menyambut dengan salvo kehormatan.

Anehnya seluruh senapan diarahkan ke kereta Jan Greeve, bahkan juga beberapa meriam.

Dan begitu aba-aba diberikan, “Jeglar!”, mereka menembak serentak ke arah Gubernur VOC itu.

Jan Greeve sudah memejamkan mata dan menutup telinga, siap mati.

Tapi ternyata semua berpeluru kosong.

Dengan gemetar dia keluar dari kereta dan Sultan menyambut serta memeluknya dengan senyum manis penuh arti.

Sesudahnya, Jan Greeve dibawa ke meja perjamuan.

Di situ, pencicip hidangan yang memastikan tiadanya racun dipersilahkan untuk bertugas.

Yang mencicipi hidangan Sultan baik-baik saja.

Tapi yang mengudap makanan Jan Greeve mendadak terjatuh dan kejang-kejang dengan mata membeliak-beliak mengerikan.

Dengan wajah ngeri, Jan Greeve menyaksikan semua itu.

Sampai tiba-tiba si pencicip bangun dan tersenyum dan berkata, “Bukan karena makanannya kok, Tuan.”

Alhasil, Jan Greeve mencatat, itulah perjamuan paling mencekam sepanjang hidupnya.

Dia sama sekali tak menikmati makanannya.

Sementara Sultan terus tersenyum padanya.

Butuh waktu lama sampai Jan Greeve pulih dari shock-nya.

Ketika dia menyatakan siap untuk berunding, Sultan justru mengajaknya menonton rampogan macan di alun-alun.

Tanding harimau dengan kerbau ini selalu dimulai dengan agresifnya sang raja hutan, tapi lalu ia menjadi cepat lelah dibanding kerbau yang lamban namun tabah dan akhirnya keluar jadi pemenang.

Jan Greeve mengaku terhibur dan senang sekali, sampai Sultan berbisik sambil tersenyum padanya, “Kami tidak bisa menemukan singa lambang Belanda di sini, jadi pakai harimau saja karena Orang Jawa memang seperti kerbau kuat yang menang tersebut ya?”

Untuk melawan keterkejutannya sendiri, Jan Greeve mengusulkan agar dimasukkan satu harimau lagi.

Sultan setuju.

Eh, harimau kedua itu ternyata bukan membantu kawannya, tapi malah bergelut saling melemahkan dan kerbau pun kian berjaya.

Malamnya, Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengku Buwana I) menjamu Jan Greeve sembari berperahu di sekitar Pulo Kenanga kompleks pemandian Water Castle Taman Sari yang indah lagi penuh Labirin.

Ketika sampan bersepuh emas itu dihentikan di tengah kolam luas, tiba-tiba Sultan pamit meloncat ke sampan lain di dekatnya dengan membawa semua dayung dan meninggalkan sang Gubernur VOC.

Tak berapa lama, semua penerangan Taman Sari dimatikan dan Jan Greeve menggigil di tengah sepi.

Tetiba terdengar suara salak senapan bersahut-sahutan yang membuat Jan Greeve bertiarap dengan keringat dingin mengucur deras.

Drama berakhir ketika Sultan tiba-tiba kembali muncul bersamaan hidupnya penerangan dan beliau mengulurkan tangan sambil tersenyum serta meminta maaf karena adanya sedikit ‘kekacauan’ sehingga beliau harus turun tangan menyelesaikannya.

Sultan membawa tamunya kembali ke Keraton dengan menunjukkan vitalitas luar biasa di usianya, mendaki berbagai anak tangga naik turun dari Pulo Kenanga.

Sesekali sembari menunggu Jan Greeve yang terengah-engah, di tempat yang tinggi, beliau memeragakan tarian beksan gagah yang digubahnya.

Sekian.
Advertisement
Artikulli paraprakMenolak Revisi KUHAP: Menjaga Hak Asasi dan Keadilan di Indonesia
Artikulli tjetërMerawat Budaya Lokal di Zaman yang Bergerak

Tinggalkan Komentar