Hiper-Nostalgia, Banalitas Ruang, dan Ujian Filosofi Memayu Hayuning Bawana

Catatan Kebudayaan Gus Nas Jogja

Jogja sebagai “Ruang Nostalgia Kolektif” atau Heterotopia?

Mengapa tiba-tiba di akhir tahun 2025 ini seluruh Indonesia datang ke Jogja?

Secara filosofis, selama ini Jogja telah dikonstruksi sebagai sebuah Heterotopia –istilah Michel Foucault—yaitu sebuah “ruang lain” yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan memori kolektif. Orang datang bukan untuk mencari masa depan, melainkan untuk membeli potongan “masa lalu” yang murah, romantis, dan bersahaja.

Ada Angkringan, Sego Kucing, Kopi Klotok, Sate Klathak, Gudeg dan Kopi Joss …

Namun, ketika seluruh Indonesia datang secara bersamaan, terjadi Disrupsi Nostalgia. Jogja yang biasanya menjadi simbol ketenangan berubah menjadi labirin kemacetan. Di sini, romantisme berubah menjadi Banalitas. Jalan Malioboro bukan lagi ruang kontemplasi puitis, melainkan arus massa yang terjebak dalam simulakra konsumsi.

Jogja memiliki modal sosial bernama “Guyub”,”Rukun” penuh “Kebersamaan” dan “Paseduluran” serta “Persaudaraan”. Namun, serbuan massa dari seluruh penjuru negeri memaksa modal sosial ini bekerja melampaui kapasitasnya.

Jogja Overload!


Secara antropologis, kita melihat fenomena “Turisme Massa” yang menguji ketangguhan mental warga lokal. Jogja yang “Nrimo” dipaksa untuk mengakomodasi ego jutaan orang yang membawa budaya “terburu-buru” dari kota besar. Terjadi gesekan antara Waktu Jogja yang Melingkar (Cyclical Time) dengan Waktu Wisatawan yang Linear dan Agresif.

Jean-Marie Gustave Le Clézio Sang Peraih Nobel Sastra 2008 sering menulis tentang bagaimana modernitas menghancurkan tempat-tempat suci dan sunyi. Jogja yang diserbu adalah contoh bagaimana sebuah tempat berhati nyaman yang kehilangan “aura”-nya, sebagaimana pemikiran Walter Benjamin, karena digerudug, diproduksi, dan dikonsumsi secara massal untuk kesenangan sesaat para Pelancong.

Secara ekonomi, fenomena ini adalah berkah sekaligus kutukan. Jogja menawarkan “kemurahan” sebagai daya tarik utama. Namun, secara politik-ekologis, harga murah itu dibayar dengan Eksternalitas Negatif: sampah yang menggunung, air tanah yang menyusut, dan ruang publik yang terampas.

Di sinilah relevansi fakta World Economic Forum mengenai ketahanan diri diuji. Jogja harus beradaptasi bukan dengan cara membangun lebih banyak beton, melainkan dengan memperkuat Tata Kelola Budaya. Jika Jogja kehilangan karakternya demi memuaskan selera massa, maka ia sedang melakukan “bunuh diri identitas”.

Filosofi Jawa “Memayu Hayuning Bawana” atau Memperindah indahnya dunia hari-hari ini diuji secara radikal. Bagaimana menjaga keindahan batin Jogja ketika ruang fisiknya sesak?

Bagi warga lokal, serbuan ini adalah ritual latihan kesabaran (ngelmu iku kelakone kanthi laku). Ketangguhan mental warga Jogja bukan diuji melalui kemiskinan materi, melainkan melalui kemampuan untuk tetap “santun” di tengah serbuan perilaku yang sering kali tidak santun.

Jika “Bali yang sepi sedang berdoa”, maka “Jogja yang ramai sedang bermeditasi di pasar”. Ini adalah bentuk spiritualitas yang lebih berat—menemukan keheningan di tengah kebisingan Malioboro.

“Seluruh Indonesia datang ke Jogja” adalah pengakuan bahwa bangsa ini haus akan kehangatan manusiawi. Namun, Jogja tidak boleh hanya menjadi “pemuas dahaga” yang akhirnya kering sendiri. Harus ada keseimbangan antara kedaulatan warga lokal dengan keramahan tamu.

Sebagaimana pesan Harvard Study, kebahagiaan sejati berasal dari kualitas relasi. Jika wisatawan datang ke Jogja hanya untuk “mengkonsumsi” tanpa “menghargai” relasi dengan alam dan manusianya, maka mereka pulang membawa foto, tapi tetap hampa secara jiwa.

“Jogja tidak butuh lebih banyak pengunjung; ia butuh lebih banyak peziarah. Orang yang datang untuk bersujud pada kesahajaan, bukan yang datang untuk menjajah ketenangan.”

Embuhlah …

Advertisement
Artikulli paraprakG2RT – KT Tanjung Banon: Inovasi Pergerakan Ikonik Global pada Kawasan Transmigrasi Sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru
Artikulli tjetërTujuh Kata Menguak Takdir

Tinggalkan Komentar