Kita hidup di dunia yang aneh. Manusia adalah satu‑satunya makhluk di planet ini yang sibuk membangun masa depan seolah‑olah akan hidup selamanya, padahal jauh di lubuk hati, kita tahu dengan pasti: suatu saat nanti kita akan mati. Kita menyusun rencana bertahun‑tahun, menimbun harta untuk masa depan, namun sering lupa bahwa helaan napas berikutnya belum tentu menjadi milik kita.
Secara biologis, sejak hari pertama kita lahir, tubuh tidak berjalan menjauhi kematian. Setiap detik yang berlalu, setiap detak jantung, adalah langkah mendekati garis akhir. Kematian bukan musuh yang menunggu di ujung jalan; ia adalah bayangan yang berjalan bersama kita sejak awal kelahiran.
Fisika modern mengajarkan hal ini melalui Hukum Entropi, Hukum Termodinamika Kedua: segala sesuatu di alam semesta bergerak dari keteraturan menuju kekacauan. Tubuh manusia, susunan sel yang harmonis, perlahan‑lahan kehilangan keseimbangan energinya. Dalam bahasa sains, kematian adalah saat alam semesta mengambil kembali atom‑atom yang dipinjamkan kepada kita, untuk diurai dan kembali ke bumi.
Bahkan di tubuh yang sehat pun ada proses apoptosis, kematian sel yang terprogram. Setiap hari jutaan sel berakhir secara teratur agar tubuh secara keseluruhan tetap hidup. Ada paradoks indah di sana: kematian skala kecil justru menjaga kelangsungan kehidupan.
Prinsip ini selaras dengan firman Allah SWT:
“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.”
(QS. Al‑Mulk: 2)
Perhatikan: kata “mati” disebut sebelum “hidup”. Secara material, unsur‑unsur yang “mati” ada lebih dulu sebelum Allah menjadikannya makhluk bernyawa. Kematian biologis adalah penguraian fisik, bukan akhir dari jiwa.
Lalu mengapa kematian sering terasa menakutkan?
Secara filsafat, ketakutan itu lahir dari ketakutan pada keterbatasan. Namun justru keterbatasanlah yang memberi nilai. Emas berharga karena langka; seteguk air di padang pasir berarti karena sedikit. Jika manusia hidup abadi, waktu tak lagi berharga. Pelukan ibu, tawa anak, permintaan maaf, atau sujud malam tak lagi istimewa, karena selalu bisa dilakukan “besok”.
Kematianlah yang membuat hari ini berharga. Ia menjadi guru yang mengajak kita hidup sadar, memilah apa yang penting dan apa yang hanya fatamorgana. Rasulullah ﷺ mengingatkan:
“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian.”
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini bukan ajakan bersedih berlebihan, melainkan ajakan kesadaran: waktu kita terbatas, jangan sia‑sia untuk hal‑hal yang tak bermanfaat.
Dalam ajaran Islam, batas waktu itu bernama Al‑Ajal, tenggat yang presisi, tak dapat dimajukan atau ditunda:
“Maka apabila jalannya telah tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat (pula) meminta percepatan.”
(QS. Al‑A’raf: 34)
Al‑Qur’an juga menyebut kematian dengan istilah Al‑Wafah, yang berarti “pemenuhan”. Artinya, tak ada yang mati “terlalu cepat”. Seseorang dipanggil pulang ketika jatah napas, rezeki, dan perjalanan hidupnya telah selesai. Bukan kehilangan hidup, melainkan berakhirnya masa kontrak di dunia.
Ketika saat itu tiba, kita mengucapkan:
Inna lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn — sesungguhnya kita milik Allah, dan kepada‑Nya kita akan kembali.
Bagi sains, kematian adalah transformasi energi. Bagi iman, ia adalah kepulangan yang dirindukan. Kita bukan menuju kegelapan sunyi, melainkan bersiap mengetuk pintu keabadian.
Maka hiduplah dengan indah dan bermakna di sisa waktu yang singkat ini. Agar ketika ajal menjemput, kita melangkah pergi bukan sebagai orang yang ketakutan, melainkan musafir yang tersenyum lega: telah tiba waktunya pulang.
Advertisement










