Sedang belajar untuk tidak sakit hati atas segala tindakan yang tidak menyenangkan. Agar supaya bisa lebih murni dalam keyakinan dan keimanan kita kepada Allah. Dengan begitu keyakinan terhadap rukun iman yang ke 6, yaitu percaya kepada takdir Allah itu menjadi lebih nyata.
Pada kenyataannya, kita sering kali tertipu oleh diri kita sendiri. Baik tertipu oleh pikiran-pikiran kita sendiri, kehendak dan keinginan kita sendiri, maupun tertipu oleh rasa dan perasaan kita sendiri.
Kesadaran tertipu itu seringkali datangnya belakangan, tatkala kita mengalami kepahitan dan kesengsaraan hidup, hingga membawa kepada situasi yang penuh dengan keputus-asaan. Di situlah awal daripada munculnya penyesalan.
Sebenarnya sikap penyesalan itu bagian dari proses kreatif untuk mencapai pada level kedewasaan tertentu. Dalam konteks ini, akan terbuka sifat Allah, al-Badi’u (Allah Maha Pencipta) itu bekerja. Tentu saja kerjanya di dalam kerahasiaan-Nya.
Kesadaran akan ini semua, secara perlahan akan menggeser kepercayaan terhadap makhluk menjadi keyakinan yang lebih murni atas keimanan kita kepada Allah. Dengan begitu hati kita menjadi tawar atas segala yang menyakitkan. Sebab yang terpandang hanyalah Af’al Allah (perbuatan dan kerja Allah) membentang di segala penjuru alam.
Bila telah demikian adanya, maka kita benar-benar telah menjadi orang yang merdeka. Terlepas dari segala kemelekatan. Masuk ke dalam kesadaran Ke-Esa-an.
Itulah jenis manusia yang tidak lagi bisa dijajah oleh yang lain serta oleh apapun juga. Lamat-lamat akan terdengar suara yang menggema: “salamun qoulam mirrobbi rohim”.
-kandjeng sinau-
Advertisement