Oleh: Sobirin Malian (Dosen; Penggiat Literasi)
Menjaga rahasia bukan sekadar menahan lidah, melainkan bentuk penjagaan Allah terhadap kehormatan hidup kita. Dalam Islam, ada lima perkara privasi yang begitu sakral, yang jika diumbar hanya akan mengikis kedamaian hidup di dunia dan menghanguskan pahala di akhirat.
Tirai Sakral yang Harus Dijaga
Pertama, jagalah aib masa lalu. Ketika Allah dengan keluhuran-Nya telah menutup rapat lembaran hitam kita terdahulu, mengapa kita justru lancang membukanya kembali? Menceritakan dosa lama yang telah diampuni sama saja dengan meruntuhkan benteng perlindungan yang telah Allah hadiahkan. Rasulullah SAW mengingatkan kita dalam sebuah hadis:
“Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan membuka aibnya sendiri (Mujahirin). Yaitu seseorang yang melakukan suatu perbuatan maksiat di malam hari, lalu di pagi hari ia menceritakannya, padahal Allah telah menutupi aibnya tersebut.” (HR. Bukhari & Muslim).
Kedua dan ketiga, muliakanlah rumah tanggamu dengan menjaga masalah keluarga serta rahasia ranjang. Suami dan istri diciptakan sebagai pakaian bagi satu sama lain—berfungsi saling menghangatkan dan menutupi kekurangan. Membawa konflik domestik atau keintiman malam ke ruang publik hanya akan melukai pasangan, mengundang fitnah, dan menurunkan martabat pernikahan kita di mata manusia. Rasulullah SAW dengan tegas bersabda:
“Sesungguhnya di antara manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah laki-laki yang menyetubuhi istrinya dan istri yang menyetubuhi suaminya, kemudian dia menceritakan rahasia ranjangnya kepada orang lain” (HR. Muslim).
Keempat, bijaklah dalam melisankan jumlah penghasilan. Dunia ini penuh dengan riak hati manusia; materi yang terlalu sering diumbar bisa memicu badai dengki (hasad) dari mereka yang sedang kesulitan, atau sebaliknya, mengundang pandangan remeh saat kita sedang diuji dengan kesempitan. Rasulullah SAW berpesan agar kita waspada terhadap penyakit hati ini:
“Bantulah kesuksesan hajat-hajatmu dengan cara menyembunyikannya (merahasiakannya), karena setiap orang yang mempunyai nikmat itu pasti akan didengki.” (HR. Thabrani, dinilai shahih oleh Al-Albani).
Terakhir, sembunyikanlah ibadah dan amal kebaikanmu. Biarlah kebaikan itu mengalir sunyi, seperti akar pohon yang memberi kehidupan tanpa perlu menampakkan diri di permukaan. Mengumbar sujud malam atau sedekah siang hanya akan memberi makan ego kita lewat penyakit riya (pamer) dan sum’ah (ingin didengar), yang diibaratkan Allah seperti debu di atas batu licin yang hanyut tersapu hujan lebat [NU Online Banten](https://banten. Umroh.com). Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia…” (QS. Al-Baqarah: 264).
Pada akhirnya, kebahagiaan dan keselamatan sejati sering kali tumbuh subur dalam ruang-ruang yang sunyi dari penilaian manusia, namun penuh dalam rida dan pandangan Allah SWT.
Advertisement










