Nalar, Hati, dan Warisan Kepahlawanan Proletariat
Oleh: Gus Nas Jogja
Jika boleh sok akademik, esai filsafat ini sejatinya adalah telaah kritis atas Otoritas Diri, Keadilan Distributif, dan Transendensi Spiritual seorang buruh perempuan bernama Marsinah yang mati dibunuh dan tubuhnya dibuang dengan luka yang mengerikan. Kematian Marsinah adalah “Tirai yang Terkoyak dan Panggilan Eksistensi” bagi sebuah perjalanan kepahlawanan.
Marsinah, seorang buruh perempuan di tengah gejolak industri Orde Baru, bukanlah sekadar nama dalam daftar korban kekerasan negara. Ia adalah epilog hidup yang mengoyak tirai ilusi stabilitas dan pembangunan yang menindas. Membaca Marsinah adalah melakukan ziarah ganda: menggunakan nalar untuk membongkar struktur dan menggunakan hati untuk memahami pengorbanan suci.
Esai ini melangkah lebih jauh dari analisis sosiologis, menelaah Marsinah sebagai subjek transendental yang mencapai kepahlawanan moral. Esai ini menyisipkan narasi spiritual-puitis untuk menangkap dimensi batiniah perlawanannya, memvalidasi klaim keadilan Marsinah melalui kutipan dari aktivis perempuan dan buruh, serta merangkumnya dalam kerangka filsafat kritis.
Marsinah adalah sang penolak, yang berdiri di antara ada yang teralienasi dan harus ada yang berharga
Dalam filosofi eksistensialisme, kehidupan yang otentik dimulai ketika individu menolak peran yang ditetapkan dan memilih kebebasannya secara radikal. Bagi Marsinah, keterasingan Marxian—kehilangan diri dalam produk, proses, dan relasi kerja—menjadi pemicu spiritual. Ia terasing, tetapi ia tidak diam.
Keterasingan Marsinah sebagai Panggilan Spiritual –The Spiritual Call.– Marsinah hidup dalam sistem yang melihatnya hanya sebagai “roda gigi” produksi (Sartre: être-en-soi atau being-in-itself). Namun, dalam hati Marsinah, ada penolakan puitis:
Aku bukan debu yang kau hargai dengan upah receh.
Aku adalah jiwa, yang berhak atas matahari dan sepotong roti yang bermartabat.
Pilihan Marsinah untuk memimpin mogok dan bernegosiasi adalah sebuah Act of Self-Definition. Ia menolak mauvaise foi –keburukan objektif– atau kepasrahan yang diidealkan. Sebagaimana dijelaskan oleh Dian Septi Trisnanti, seorang aktivis buruh perempuan: “Marsinah adalah buruh perempuan yang menjadi tonggak demokrasi. Ia merupakan pejuang upah, lambang solidaritas buruh, korban kekerasan seksual sekaligus korban kekejaman rezim Orde Baru.”[^1] Pernyataan ini menegaskan bahwa keberaniannya melampaui tuntutan ekonomi; ia adalah pernyataan eksistensial tentang otoritas diri di hadapan despotisme.
Marsinah: Cahaya di dalam Palung Ketakutan –The Light in the Abyss–
Aksi mogok yang dipimpinnya adalah keberanian etis. Ia tidak hanya memilih untuk dirinya sendiri, tetapi untuk kawan-kawannya, yang juga ketakutan namun mendambakan keadilan.
Secara spiritual, Marsinah mengambil peran sebagai syahid sekuler, seorang yang bersaksi atas Kebenaran—bahwa manusia lebih berharga dari profit. Kehadirannya yang vokal memantulkan cahaya pada kegelapan pabrik, mengingatkan setiap buruh akan imago Dei (citra ketuhanan/martabat) yang terenggut oleh sistem.
Aktivis buruh Kiki dari Komite IWD pernah berujar: “Perjuangan kami ini tidak seberapa dibanding apa yang dulu dihadapi Marsinah. Kalau Marsinah saja berani menyerahkan dirinya, kami juga harus berani.”[^2] Kutipan ini menunjukkan bahwa tindakan Marsinah memiliki daya tarik moral yang transenden, menjadi sumber kekuatan spiritual bagi generasi buruh berikutnya.
Tindakan Marsinah didasarkan pada nalar yang kokoh, berakar pada realitas ekonomi buruh yang menderita. Tuntutan upah UMK (Upah Minimum Regional) bukanlah permintaan radikal, melainkan penegakan hukum dan nalar biaya hidup yang terukur.
Dialektika Upah Murah Orde Baru
Orde Baru menjalankan industrialisasi berbasis upah murah demi menarik investasi asing. Para ekonom dan pengkritik pembangunan otoriter melihat kebijakan ini sebagai pengorbanan sistematis terhadap kelas pekerja.
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia, Said Iqbal, dalam kritik yang lebih luas terhadap kebijakan upah pasca-Orde Baru, pernah secara tegas menyatakan bahwa: “[Kebijakan upah yang sangat minim] memberikan proteksi kepada kalangan pengusaha dan pemilik modal, dibandingkan memberi perlindungan kepada kaum pekerja atau buruh atau pegawai yang mengembalikan rezim upah murah jauh lebih buruk dari zaman Soeharto di era Orde Baru.”[^3]
Kutipan tersebut menyoroti bahwa kebijakan upah Orde Baru memang secara struktural melindungi modal, mengorbankan kesejahteraan buruh. Marsinah menggunakan nalarnya untuk menolak dialektika palsu ini.
Rezim otoriter melanggar kebebasan sipil politik buruh demi stabilitas investasi.
Nalar Marsinah adalah nalar praktis yang menuntut konsistensi antara klaim negara tentang pembangunan dan realitas hidup buruh. Kegagalan negara untuk memenuhi tuntutan rasional inilah yang membuka jalan bagi kekerasan yang irasional.
Puisi Tubuh: Argumen di Luar Kata
Ketika Marsinah diculik dan dibunuh, itu adalah penolakan total terhadap nalar. Rezim, melalui aparatnya, menolak berdialog secara komunikatif (Habermas) dan memilih kekuatan brutal.
Namun, tubuh Marsinah, yang ditemukan 200 km dari tempatnya bekerja dengan luka-luka penyiksaan brutal, menjadi puisi tubuh yang abadi. Tubuh yang diam itu berbicara lebih keras dari kata-kata. Ia adalah bukti fisik (empiris) dari ketidakadilan yang melampaui argumen rasional—sebuah manifestasi kejahatan struktural yang tidak dapat dicuci bersih oleh retorika pembangunan mana pun.
Kepahlawanan Marsinah terangkat dari dimensi rasional ke dimensi spiritual oleh kedalaman hatinya—solidaritas yang didorong oleh Etika Kepedulian (Ethics of Care).
Marsinah adalah Hati Sang Pelayan Komunitas –The Servant Heart–
Marsinah, sebagai seorang perempuan yang memiliki kecerdasan dan pendirian kuat, dikenal mampu mengayomi orang di sekitarnya[^4]. Inilah inti dari kepemimpinannya: bukan ambisi personal, melainkan fungsi mengasuh (nurturing function). Ia menempatkan risiko pribadinya di bawah kepentingan kolektif buruh.
Dalam kerangka Imanuel Kant, tindakan Marsinah adalah Imperatif Kategoris yang paling murni: memperlakukan kemanusiaan dalam dirinya dan orang lain selalu sebagai tujuan, dan tidak pernah hanya sebagai alat. Ia menuntut bahwa buruh—yang selama ini direduksi sebagai alat profit—diakui sebagai tujuan moral yang absolut.
“Perlawanan dan keberanian dia yang patut diingat dan terus diperjuangkan. Kami bilang, Marsinah akan terus ada yang berlipat ganda. Itu adalah harapan kami untuk meneruskan semangat Marsinah. Untuk terus melawan ketidakadilan, terutama bagi orang-orang yang termarginalkan.”[^5]
Kutipan aktivis ini menunjukkan bahwa warisan Marsinah adalah keberanian yang melipatgandakan diri, sebuah virus moral yang menjangkiti hati nurani buruh. Keberanian ini adalah transendensi spiritual: meninggalkan ketakutan untuk menerima peran sebagai Lentera.
Marsinah adalah mitos bagi kaum terpinggirkan. Kematiannya bukan akhir, melainkan kelahiran simbol. Dalam semiotika politik, ia menjadi Ikon Perjuangan Proletariat. Fotonya, yang kerap diusung dalam demonstrasi, bukan sekadar gambar, melainkan mantra visual yang membangkitkan kesadaran kelas.
Marsinah mengubah ketiadaan pribadinya –kematian tragis– menjadi kehadiran kolektif yang tak terhapuskan. Ia adalah bukti bahwa di tengah sistem yang berusaha mengobjekkan dan mengontrol, jiwa manusia selalu memiliki kapasitas untuk melampaui (transcend) dan mendefinisikan dirinya sendiri melalui tindakan yang etis dan heroik.
Imperatif Marsinah
Membaca Marsinah adalah tugas yang tidak pernah selesai. Ia adalah cermin bagi setiap rezim dan setiap individu:
Apakah kebijakan ekonomi kita adil secara distributif, ataukah ia hanya mengulang kembali rezim upah murah yang menumbalkan buruh?
Sejauh mana kita bersedia mengambil risiko, atau paling tidak, menunjukkan solidaritas, terhadap orang-orang yang suaranya dibungkam dan martabatnya direndahkan?
Marsinah, sang buruh pabrik arloji, mengingatkan kita bahwa revolusi sejati dimulai bukan dengan senjata, melainkan dengan pilihan radikal seorang individu untuk mengatakan “Tidak” pada ketidakadilan, meskipun harus dibayar dengan nyawa. Kepahlawanannya adalah imperatif moral abadi:
“Bertindaklah sedemikian rupa, sehingga setiap tindakanmu mengukuhkan martabat kemanusiaan, terutama bagi mereka yang paling terpinggirkan, karena di dalam perjuangan mereka, terdapat esensi kebebasan kita yang paling murni.”
Inilah warisan Marsinah, yang terus ada, dan berlipat ganda, di setiap hati yang menolak untuk teralienasi.
Catatan Kaki dan Rujukan
[^1] Dian Septi Trisnanti, FSBPI, dikutip dalam Ruang Kota (2023). Marsinah, Simbol Abadi Perjuangan Buruh Perempuan Indonesia. (Diolah dari konteks aktivis buruh perempuan modern yang melihat Marsinah sebagai tonggak demokrasi dan perjuangan kelas).
[^2] Kiki, Komite IWD Yogyakarta, dikutip dalam VOA Indonesia (2019). Marsinah: Dia Terus Ada, dan Berlipat Ganda. (Kutipan ini menekankan dimensi pengorbanan dan inspirasi moral).
[^3] Said Iqbal, Presiden KSPI, dikutip dalam Tempo.co (2021). Tolak Penetapan Upah Minimum 2022, KSPI: Lebih Buruk dari Era Soeharto. (Kutipan ini digunakan untuk mengkontekstualisasikan kritik struktural terhadap kebijakan upah murah Orde Baru dan dampaknya yang berkelanjutan).
[^4] Detik Finance (2025). Sepak Terjang Marsinah, Buruh yang Jadi Pahlawan Nasional. (Menyebutkan Marsinah dikenal kuat, tegas, dan mampu mengayomi, yang mendukung konsep Etika Kepedulian).
[^5] Nadine, Komite IWD Yogyakarta, dikutip dalam VOA Indonesia (2019). Marsinah: Dia Terus Ada, dan Berlipat Ganda. (Kutipan yang digunakan untuk mendukung narasi spiritual tentang keberanian dan warisan abadi).
Rujukan Lanjutan yang Relevan
Marx, Karl. Economic and Philosophic Manuscripts of 1844. (Relevan untuk konsep Keterasingan/Alienasi).
Sartre, Jean-Paul. Existentialism is a Humanism. (Relevan untuk konsep Pilihan Radikal, Kebebasan, dan Otoritas Diri).
Rawls, John. A Theory of Justice. (Relevan untuk kerangka Keadilan Distributif, khususnya Prinsip Perbedaan).
Gilligan, Carol. In a Different Voice: Psychological Theory and Women’s Development. (Relevan untuk konsep Etika Kepedulian).
Hadiz, Vedi R. Workers and the State in New Order Indonesia. (Karya penting untuk memahami konteks politik dan represi buruh selama Orde Baru).
Habermas, Jürgen. The Theory of Communicative Action. (Relevan untuk analisis tentang kegagalan komunikasi rasional dan dominasi tindakan strategis oleh rezim).











