Oleh: Sunardi D. Suwito
Waktu itu sepeda motor masih termasuk barang mewah. Jarang ada yang punya. Pemiliknya hanya orang-orang tertentu. Orang-orang yang dianggap kaya atau berduit. Rata-rata, paling banter orang hanya memiliki sepeda onthel. Sepeda yang dionthel pakai kaki. Sepeda itu pun hanya ada dua macam jenisnya. Sepeda onthel buat laki-laki dan sepeda onthel buat perempuan. Untuk sepeda laki-laki bedanya terletak pada palang lurus yang terletak di bawah sadel hingga ke stang tangan kemudi. Ada sebatang pipa planggrangannya! Sedangkan sepeda buat perempuan ada pipa melengkung di bawah sadel bawah hingga menuju ke stang tangan kemudi.
Adapun sepeda onthel buat anak-anak macamnya seperti sepeda onthel orang dewasa. Hingga kemudian muncul sepeda baru buat para remaja. Namanya sepeda jengki. Dengan ciri khas ada palang miring di bawah sadel hingga menuju ke stang kemudi. Orang menyebutnya sepeda wandu atau sepeda banci. Sepeda yang tidak jelas jenis kelaminnya. Apakah sepeda itu diperuntukkan bagi laki-laki atau perempuan. Jadinya sepeda itu kurang familiar. Jarang ada yang punya. Soalnya, siapa pun pengemudinya takut dinamai Si Jengki. Nah, nama Si Jengki itulah yang melekat pada salah seorang teman sekolah SMP ku dulu.
Seperti biasa sesuatu yang mudah dan selalu dikenang selama masa sekolah itu adalah hal-hal yang paling berbeda. Apakah dia paling nakal, paling pendiam, paling cakep, paling cantik, paling jelek, paling pintar, paling bodoh atau paling-paling yang lain. Ada pun Si Jengki disebut dengan nama demikian karena si paling kemayu. Namun ada kelebihan yang dimiliki Si Jengki, dia si pandai menari. Penari handal! Tariannya indah dan luwes. Gerakan jemari tangan dan anggota tubuh lainnya lemah gemulai. Bahkan gerakannya lebih luwes dibandingjan dengan gadis-gadis umumnya.
Secara pribadi menurutku, Si Jengki bahkan lebih cantik dibanding dengan gadis-gadis tulen atau gadis yang sesungguhnya.
Masih teringat dalam ingatan. Bagaimana Si Jengki membuat takjup hampir seluruh siswa sekolah dan para guru. Karena gerakan tariannya yang begitu luwes dan indah. Menyihir siapa pun yang menontonnya. Terjadi manakala ada pentas seni perpisahan di sekolah. Sambutan meriah dan tepuk tangan menggema di gedung sekolah tempat pentas seni itu dilaksanakan. Terdengar gemuruh dan membahana memekakkan telinga. Sampai-sampai panggilan dukungan dan suportku tak di dengarnya. Si Jengki terbuai dan terlena. Aku yang selama ini teman terdekatnya tak digubrisnya lagi.
Aku kecewa. Merasa tak dianggap dan tak diperhatikan. Aku pun sedikit marah. Sengaja kutinggalkan lokasi pentas seni. Aku pulang duluan. Namun dalam hati aku masih berharap akan hubunganku dengan Si Jengki masih baik-baik saja. Hanya saja harapanku itu tidak menjadi kenyataan. Semenjak pentas seni itu aku tak melihat dan tak bertemu lagi dengannya. Dan harapan untuk bertemu kembali dengan Si Jengki kuharapkan pada acara reuni kelas setelah sekian tahun lamanya berpisah. Aku akan memperbaiki hubungan yang selama ini putus. Hubungan pertemanan yang selama ini tak ada kabar beritanya.
“Di mana Si Jengki sekarang?” tanyaku pada kawan-kawan saat reuni.
“Di mana, ya?” tanya teman yang lain balik bertanya.
“Aku dengar, selepas SMP dulu dia melanjutkan ke Sekolah Tari.”
“Sekolah Tari? Sekolah tari itu adanya hanya di Solo atau di Jogya!” aku mencoba menduga-duga.
“Entahlah! Dia sekolah di Solo atau di Jogya apa untungnya buat kita? Emang gua pikirin! Aku justru malu punya teman seperti Si Jengki. Laki-laki banci!” seloroh salah seorang teman yang tidak menyukai Si Jengki.
“Sekali lagi kau sebut banci akan kugampar mulutmu yang kotor itu!” Aku marah.
Tampaknya takut juga teman yang menyebut Si Jengki itu sebagai banci. Teman itu terdiam! Kepalanya menunduk tak berani menatapku lagi. Barangali ini berhubungan dengan tubuhku yang semakin padat dan berisi. Paling besar di antara teman-teman yang lain.
”Namanya juga teman, apalagi teman sekelas! Sudah sepantasnya kita mencari tahu keberadaannya. Apa artinya reuni kalau tidak perhatian pada satu atau dengan teman yang lainnya,” kataku lanjut.
Tak ada yang membantah. Semua terdiam. Aku kecewa pada teman-teman. Rupanya mereka belum juga berubah sikap. Tetap saja berlaku arogan; membully siapa pun yang menurutnya lemah. Padahal mereka sekarang sudah pada dewasa. Bahkan sudah berkeluarga dan beranak pinak. Bagaimana perasaan mereka andai kelemahan Si Jengkii juga menimpa anak-anak mereka? Aku pun menangis dalam hati. Prihatin atas sikap teman-temanku dulu di acara reuni kelas tahun ini.
Keprihatinanku kubawa serta hingga pulang ke rumah. Aku teringat bagaimana hubunganku dulu dengan Si Jengki. Manakala teman-temanku dulu membully Si Jengki. Ada yang mengatakan laki-laki wandu atau banci. Laki-laki yang berpenampilan dan berperilaku layaknya perempuan. Laki-laki yang kemayu! Lebih gila lagi, mereka tidak segan-segan mengerjai Si Jengki. Merusak sepeda Si Jengki, mnggembosi bannya, menjahili ini dan itu. Bahkan ada yang dengan sengaja menaruhnya di suatu tempat hingga Si Jengki dibuat panik lantaran merasa kehilangan sepeda. Aku trenyuh! Aku berusaha membela Si Jengki. Ada yang tidak suka dengan sikapku itu. Tak urung, semula aku mau dibully juga oleh mereka. Namun aku yang memiliki tubuh dan badan yang besar maka tak seorang pun ada yang berani menyentuhku. Dan untuk mengatasi bully itu akhirnya aku pun merantai dan selalu menempatkan sepeda bututku di sisi sepeda jengki milik Si Jengki. Situasi pun jadi aman. Sepeda Si Jengki bebas dari gangguan.
Semenjak itu hubunganku dengan Si Jengki terjalin akrab. Hinga kelulusan memisahkannya. Aku pindah ke kota lain melanjutkan ke Sekolah Tehnik Menengah. Dan kudengar Si Jengki melanjutkan hobinya ke Sekolah Tari. Aku memilih sekolah itu mengingat bentuk tubuh yang kumiliki, maka aku berharap bisa menjadi TNI atau Polisi. Terpaksanya sebagai Satpam pun aku terima andaikata aku tidak diterima menjadi TNI atau Polisi. Nasib pun berkata lain. Tidak di terima menjadi TNI atau Polisi tidak mengapa, sekarang aku diterima sebagai Satpol PP. Pekerjaan yang menurutku tidak jauh dari apa yang kucita-citakan.
Waktu berlalu. Kepedihan hatiku masih membekas karena ulah teman-temanku. Dan rinduku pada Si Jengki semakin menggebu. Aku ingin bertemu dan aku pun harus mencari jejaknya. Karena Si Jengki menurutku punya kelebihan dibidang tari, maka akupun yakin pekerjaannya tidak jauh dari keahliannya di seni tari. Sengaja aku membidik lokasi-lokasi, di mana sering diadakan pentas hiburan tari. Kebetulan sebagai Satpol PP aku ada sedikit kemudahan untuk melacak keberadaan Si Jengki. Hanya saja usahaku selama ini belum membuahkan hasil. Sampai sekarang Si Jengki belum juga kutemukan.
Aku pun sempat putus asa. Hingga di suatu hari, di malam yang gelap ada tugas dari kantor Satpol PP yang tak bisa kuhindari. Aku harus ikut gropyokan. Melakukan razia sebagai bentuk penertiban umum atas keluhan dan laporan warga masyarakat. Lokasinya di salah satu perempatan lampu merah. Di lokasi itu sering terjadi gangguan keamanan. Mulai dari perilaku para pengamen jalanan, penjual asongan hingga perilaku tidak senonoh para waria yang menjual diri sebagai pelacur. Ah, pekerjaan yang menjijikkan dan memalukan. Maka harus diberantas habis. Walaupun sebenarnya aku yakin pekerjaan itu dijalani karena keterpaksaan. Lantaran anggapan sinis warga masyarakat yang menghukum secara social dan mengucilkannya. Padahal semua itu bukan karena kemauannya tapi Tuhan telah menciptakan takdirnya. Menjadikan dirinya seperti itu. Takdir yang tak bisa ditolaknya.
Aku pun sebenarnya paham. Aku merasa ada sisi-sisi kemanusian yang terkadang diabaikan. Ada pelanggaran Hak Asasi Manusia. Tapi aku bisa apa? Aku hanyalah alat negara yang dibayar oleh pemerintah untuk pekerjaan seperti itu. Aku tak bisa menolak. Aku punya keluarga. Punya istri dan anak-anak yang butuh makan dan minum sehari-harinya. Aku harus patuh! Termasuk harus tetap meyeret Si Jengki temanku semasa sekolah dulu. Si Jengki kutangkap dalam gropyokan di malam itu. Kutangkap di perempatan lampu merah saat beraksi sebagai penari jalanan sekaligus pelacur waria penggoda para pria…
Piyungan, akhir Agustus’ 26, RT 05-Piyungan, Srimartani-Bantul-Yogyakarta.
Biodata Penulis:
Sunardi D. Suwito bernama asli Sunardi, S.Pd. Alumni FPBS-JPBSI IKIP Negeri Yogyakarta. Nama Istri: Tiwiek Nurani P, S.Psi, alumnus UGM. Nama Anak: drh. Tinta Alma Asy’Syafi, alumnus UGM, Hakiki S.U. kuliah Fakultas Pertanian UGM, Zea Deja L.B, siswa kelas 3 SD.
Prestasi: Karyanya pernah dimuat di koran local Kedaulatan Rakyat dan Bernas. Juara I Lomba Cipta Cerpen HUT ke – 15 KOPISISA Purworejo, Salah satu Cerpen masuk Antologi FKY Embun Tajali, Salah satu Cerpen masuk Antologi; Tak Ada Ujung Jalan yang Lain, Terbitan Yayasan Sumbu Sastra UGM, Salah satu Cerpen Masuk Antologi Kemah Sastra, Terbitan FIB Magister Sastra UGM, Menerbitkan 2 Kumpulan Cerpen Tunggal; KERIKIL PADANG PASIR dan NUJUM KIAI MUJAB, Terbitan Interlude, YK. Pernah Menjadi Anggota DPRD Kab. Gunungkidul Periode Th. 2004-2009. Sekarang Fokus Nulis Cerpen dan Novel. Salam…
Alamat: Piyungan, RT 05, Piyungan-Srimartani, Piyungan-Bantul-DIY.
No. HP. 0857 2902 7674










