Oleh: Sobirin Malian (Dosen Pegiat Literasi)
Hidup ini terkadang terasa begitu riuh dan menakutkan. Ada kalanya kita terbangun di pagi hari dengan dada yang sesak: terhimpit oleh tumpukan tagihan yang belum lunas, beban pekerjaan yang kian berat, desas-desus fitnah yang menyakitkan telinga, hingga bayang-bayang masa depan yang tampak begitu gelap dan buram. Di saat-saat seperti itu, rasanya dunia begitu sempit, dan kita seolah-olah berjalan sendirian tanpa sandaran.
Namun, di tengah badai kecemasan itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menuntun kita pada sebuah kalimat penyelamat yang telah melintasi zaman:
“Hasbunallah wa ni’mal wakil”
Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.
Kalimat ini bukan sekadar susunan kata yang diucapkan lidah. Ia adalah oase di tengah padang pasir kehidupan, penawar bagi hati yang gelisah, dan sandaran bagi jiwa yang hampir patah. Menengok sejarahnya, kalimat mulia ini bergema di saat-saat paling genting. Ketika Nabi Ibrahim ‘alaihissalam hendak dilemparkan ke dalam kobaran api Raja Namrud, beliau mengucapkannya dengan penuh keyakinan, hingga api yang panas seketika tunduk menjadi dingin dan aman. Kalimat ini pula yang dipekikkan oleh para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pasca Perang Uhud. Saat terluka, terkepung, dan kabar bahwa pasukan musuh telah bersiap menghancurkan mereka, para sahabat tidak panik, tidak kabur, dan tidak menyerah pada keputusasaan. Mereka justru berserah diri dengan kalimat ini, hingga Allah mengubah rasa takut mereka menjadi ketenangan, dan memberi nikmat serta karunia yang menyelamatkan. Sebagaimana firman-Nya:
“Orang-orang yang kepada mereka dikatakan: ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,’ maka perkataan itu menambah keimanan mereka, dan mereka berkata: ‘Cukuplah Allah bagi kami, dan Dialah sebaik-baik Pelindung.’ Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia dari Allah, dan mereka tidak mendapat sentuhan keburukan. Dan mereka mengikuti keridaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”
— QS. Ali Imran: 173–174
Mengucapkan hasbunallah wa ni’mal wakil berarti kita sedang mengurai tiga hakikat mendalam ke dalam jiwa kita:
Pertama, Hasbunallah: Cukup Allah bagi kita.
Kita belajar menyadari bahwa cukuplah Allah yang mengetahui rahasia di lubuk hati kita. Cukuplah Dia yang mendengar rintihan air mata kita di sepertiga malam yang sunyi. Di saat pintu-pintu dunia tertutup, di saat manusia mengecewakan, di saat jalan keluar tampak menghilang, pintu langit selalu terbuka lebar. Rezeki, jodoh, dan masa depan kita ada di tangan-Nya, bukan di tangan atasan, bukan di tangan relasi, dan bukan pula di tangan mereka yang memiliki kuasa di atas kita.
Kedua, Wa Ni’mal Wakil: Sebaik-baik Penolong dan Pelindung.
Kata wakil berarti kita memasrahkan seluruh urusan kepada-Nya. Manusia yang kita mintai tolong bisa saja lupa, sibuk, atau bahkan berkhianat. Janji manusia bisa tertunda, bantuan manusia bisa terlambat, dan pertolongan manusia bisa memiliki batas. Namun Allah adalah sebaik-baik penolong yang tidak pernah mengantuk, tidak pernah tidur, tidak pernah lupa, dan tidak pernah salah janji.
Ketiga, Lahirnya Ketenangan dan Pertolongan.
Ketika hati benar-benar pasrah, Allah akan menganugerahkan ketenangan yang luar biasa. Masalah kita mungkin belum selesai seketika, namun jiwa kita menjadi damai. Kita tidak lagi terburu-buru memaksa hasil, tidak lagi cemas menunggu jawaban, dan tidak lagi merasa sendirian dalam perjuangan. Karena kita tahu ada Zat Yang Maha Besar yang sedang mendekap, menjaga, dan mengurus persoalan kita dengan cara yang kadang tidak kita lihat, namun selalu kita rasakan manfaatnya pada waktunya.
Lantas, bagaimana kita menghidupkan kalimat ini dalam keseharian?
Penuhilah hari-hari kita dengan mengingat-Nya. Saat rasa takut dan cemas melanda, bacalah kalimat ini dengan penuh penghayatan. Jangan hanya mengucapkannya dengan lidah, tapi serahkan urusanmu dengan hati. Ketika dizalimi, jangan mengotori hati dengan membalas kejahatan lewat kejahatan yang sama; serahkan keadilan pada Allah Yang Maha Melihat. Dan ketika jalan hidup terasa buntu, setelah semua ikhtiar maksimal kita lakukan, ucapkan kalimat ini sebagai tanda kita melepaskan ego dan memasrahkan hasil akhirnya ke langit.
Kita boleh saja menyusun rencana dari A sampai Z. Kita wajib bekerja, berusaha, dan berikhtiar sekuat tenaga. Namun pada akhirnya, sandaran hati ini harus tetap satu. Yang menolong kita sesungguhnya bukanlah jabatan, bukan relasi, bukan tebalnya tabungan, dan bukan pula kekuatan nama baik kita. Yang menolong kita, dari dulu hingga nanti, hanyalah Allah Ta’ala.
Maka mari kita awali hari ini dengan doa yang tulus: memohon ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal, amal yang diterima, dan ketenangan hati yang senantiasa menyertai langkah kita. Relevankan setiap rencana, setiap pilihan, dan setiap perjuangan dengan zikir ini. Agar ke mana pun angin kehidupan membawa kita, hati kita tetap kokoh dan tenang dalam lindungan-Nya.
“Wallahu a’lam bisshawab.”
Dan Allah mengetahui apa yang paling benar.
Advertisement










