Oleh: Romy Sastra
akankah kita jadi lumpur penderitaan setelah mereka menggali sumur keserakahan, mengaliri telaga kesedihan. ayat-ayat kauniyah qauliyah tak henti dibaca pagi siang malam, sepuluh jari menengadah pasrah menyauk air mata doa, berharap bumi ini tak murka. akan tetapi, gairah syahwat mereka menari-nari di setiap mimpinya, merasa belum terpenuhi hasrat dunia. lalu ia muntah mengotori ranah, terkubur sudah ekosistem yang ada. aku mengutukmu, bajingan kalian!
jauh sebelumnya, ibuku mendawamkan kearifan di kedalaman pasak, berbisik di sela-sela daun lewat angin yang berarak. menatap pohon rindang sejatinya berdiri gagah, tiba-tiba goyah mewujud banjir bandang. ranting kayu bersilang patah tak dapat dicegah, rambut ibu yang dulu sebentuk selendang mayang tergerai tak mampu mengikat batok kepala menyanggah tanah basah hujan kerap mencurah.
pada akhirnya sumbu pendek menjangkau lidah menyimpan bara di balik lumut kata-kata nusantara, anai-anai berlarian dari tungku perapian setelah menyemai sampah. siapa yang salah dan benar? ketika kutukan suara chainsaw meraung-raung di rimba belantara dianggap tak bertuan memanggil galodo, kabar itu lambat tersiar! ibuku malang, kain sarinya terburai berganti kain mori
dan aku pulang dari rantau menggenggam harga diri, menjenguk ranah tertimbun tanah yang merisau. ya, sesungguhnya tubuh ibu sudah lama ditelanjangi maling-maling berdasi buat ladang sensasi. ironis, rottweiler diimingi sebungkus nasi dipelihara tuannya demi menjaga aset drakula. kelak tatapan anak cucuku dan cucumu tiba menjadi ratapan iba. ranah yang dulu dijaga ayah digadaikan ke siampa. sekali lagi, siapa yang salah? air laut rasa payau diteguk serakah
Jakarta, 11 Januari 2026
Advertisement










