Oleh: Akaha Taufan Aminudin
Kota Batu SATUPENA JAWA TIMUR , Rabu 12 November 2025 — Dua ruang kebudayaan dari lereng Arjuno kini menjelma menjadi magnet baru bagi dunia akademik dan seni IndonesiOmah Mikir Prambudi (OMP) yang berlokasi di Jalan Mustari 1 Nomor 33, Sisir, Kecamatan Batu, dan Omah Budaya Slamet (OBS) di Beru, Bumiaji, bukan sekadar tempat berkumpulnya seniman dan intelektual, melainkan kini telah menjadi laboratorium hidup bagi kebudayaan dan filsafat Indonesia modern.
Omah Mikir Prambudi: Rumah Pengetahuan dan Koleksi Estetika
OMP merupakan karya pemikiran Prof. Dr. Drs. Djuli Djatiprambudi, M.Sn., Guru Besar Universitas Negeri Surabaya (UNESA), yang telah melahirkan ratusan buku—baik karya tunggal maupun kolaboratif.
Sebagai kolektor katalog pameran seni lukis Indonesia, Prof. Djuli menjadikan OMP bukan hanya ruang baca, tetapi “Omah Mikir” yang menghidupkan kembali tradisi berpikir mendalam di tengah masyarakat instan.
OMP menjadi tempat berseminarnya gagasan, tempat mahasiswa pascasarjana hingga S3 menggali makna seni, filsafat, dan budaya dengan pendekatan reflektif dan kontekstual.
Omah Budaya Slamet: Dari Tentrem ke Mulat Sarira
Tak jauh dari sana, berdiri Omah Budaya Slamet (OBS) milik Dr. Slamet Hendro Kusumo, SH., MM., budayawan dan pemikir humanistik yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Penasehat SATUPENA Jawa Timur.
Melalui buku-bukunya yang dikenal tajam seperti “Makna Tentrem” dan “Mulat Sarira: Oto Kritik Manusia”, Dr. Slamet menghidupkan kembali ruang olah rasa dan olah pikir.
OBS menjadi arena kuliah terbuka, Kelas Filsafat SATUPENA Jawa Timur, yang kini sudah memasuki pertemuan kelima.
Tak hanya itu, Dr. Slamet sukses menggelar Pameran Tunggal “Pitutur Luhur: Legenda Sastra Visual 2025” — sebuah karya lintas medium yang memadukan lukisan, teks, dan refleksi spiritual.
Dari Omah ke Omah Kuliah UNESA (OKU)
Menariknya, dua omah kebudayaan ini kini mendapat pengakuan akademik. Para mahasiswa pascasarjana S3 UNESA mengikuti perkuliahan langsung di OMP dan OBS, menjadikan keduanya “Omah Kuliah UNESA” (OKU) — simbol sinergi antara kampus, komunitas, dan kebudayaan lokal.
Kota Batu pun perlahan menegaskan identitas barunya:
> “Kota Wisata Sastra Budaya.”
Kuliah Umum: Seni dan Budaya dalam Perubahan Masyarakat
Dalam perkuliahan pada Rabu, 12 November 2025, Dr. Slamet Hendro Kusumo tampil sebagai Dosen Tamu UNESA dengan materi yang menggugah:
“Seni dan Budaya dalam Perubahan Masyarakat.”
Ia menjelaskan bahwa seni lahir dari pengalaman paling awal manusia —
> “Seni berawal dari Ibu, dari mimpi rupa sebelum anak lahir,” tuturnya.
Dr. Slamet juga mengulas pertautan antara seni dan politik, menyinggung nama besar Soejoyono (Lekra), Diego Rivera, hingga Picasso yang flamboyan dan dramatis.
Menurutnya, seni adalah potret masyarakat dan konstruk berpikir manusia.
Dari Warhol hingga Camus: Seni dalam Paradoks
Ia menyoroti munculnya aliran seni yang menolak estetika lama, seperti Andy Warhol yang menganggap “semua orang adalah seniman.”
Namun di sisi lain, ia mengingatkan bahaya kemudahan digital yang membuat banyak orang malas berpikir.
Mengutip Albert Camus, Dr. Slamet mengatakan:
> “Kreator seni adalah pemuja kenyataan sekaligus pengingkar kenyataan.”
Seni, lanjutnya, kini tak sekadar persoalan sosial, melainkan juga permainan visual, teks, dan subjektivitas imajinatif — sebuah absurditas yang indah.
Seni Holistik dan Kesadaran Baru
Dr. Slamet menegaskan bahwa seni bersifat holistik, terhubung dengan teologi, sosial, politik, hingga komodifikasi.
> “Seni adalah produk kebudayaan. Ia tumbuh bersama peradaban,” ucapnya.
Ia menutup dengan kutipan dari Carl Gustav Jung yang menggema di ruang kuliah:
> “Orang lebih suka menilai, karena berpikir itu sulit.”
Kalimat ini menjadi pesan tajam bagi generasi muda akademisi dan seniman: bahwa kebudayaan sejati lahir dari keberanian untuk berpikir.
Kota Batu, Poros Baru Kebudayaan Jawa Timur
Dengan hadirnya OMP dan OBS, Kota Batu kini tak hanya dikenal sebagai kota wisata alam, tetapi juga sebagai poros baru kebangkitan sastra dan budaya.
Dari lereng gunung dan rumah-rumah sederhana lahir gagasan besar: menyatukan seni, filsafat, dan pendidikan dalam satu ruang kebangsaan.
> “Kota Batu bukan hanya tempat berwisata,” tutup Dr. Slamet Hendro Kusumo,
“tetapi tempat manusia mencari makna.”
Sisir Gemilang Kamis 13 Nopember 2025
Drs. Akaha Taufan Aminudin
KOTA BATU WISATA SASTRA BUDAYA
SATUPENA JAWA TIMUR INDONESIA











