Oleh : Dr. Drs. Agus Syihabudin, MA
Setiap manusia pernah berpuasa, meski tidak selalu menyadarinya. Ketika makanan tidak tersedia, kita menahan lapar. Ketika makanan terhidang tapi tubuh tidak memungkinkan untuk makan, kita memilih tidak menyantapnya. Bahkan ketika hidangan terhampar dan tubuh sedang bugar, tak sedikit orang berpuasa demi kesehatan atau keindahan bentuk tubuh. Secara sederhana, puasa adalah kemampuan manusia untuk menahan diri, menunda yang diinginkan sekarang demi sesuatu yang lebih bernilai.
Namun manusia bukan hanya raga. Ia terdiri dari dua dimensi: jasmani dan ruhani. Raga memiliki kebutuhan biologis: makan, minum, istirahat, dan lainnya. Jiwa memiliki kebutuhan maknawi: ketenangan, arah hidup, dan kedekatan dengan Sang Pencipta. Ketika hidup hanya berpusat pada raga, manusia bergerak pada level instingtif: memenuhi dorongan dan mengejar kenikmatan fisik. Tetapi ketika jiwa mengambil kendali, hidup naik kelas, dari sekadar memenuhi kebutuhan menjadi memaknai hakikat keberadaan.
Di sinilah Ramadan menemukan relevansinya. Jika manusia memiliki dua dimensi yakni raga dan jiwa, maka puasa Ramadan adalah momentum ketika jiwa dididik untuk memimpin. Ketika Islam datang, puasa tidak lagi sekadar praktik natural, tetapi diangkat menjadi ibadah yang sarat makna transendental.











