Cerita Pendek Kamerad Kanjeng
Kliwon kabur dari Kebun Binatang Surabaya seperti napi melarikan diri. Esoknya Direktur Kebun Binatang ditangkap petugas Komisi Pemberantasan Korupsi. Foto macan sekarat dan direktur yang diborgol viral di media sosial.
Kliwon kabur menembus pagar utara, masuk kampung. Seorang pesepeda motor yang ketakutan melihat macan menabrak gerobak tukang bakso dan terjungkal di selokan. Ibu-ibu menjerit menyambar anaknya, berlari masuk rumah. Anjing-anjing menggonggong. Sebuah kompor terguling, membakar dapur dan merambat ke seluruh rumah. Sirine mobil pemadam meraung-raung. Petugas kebun binatang berhamburan mengejar Kliwon. Tetapi Kliwon sudah jauh berlari dan menghilang.
Sehari setelah Kliwon lari, polisi dan petugas kebun binatang melacak video amatir yang beredar di media sosial. Gambarnya bangkai seekor kambing yang tercabik-cabik di Desa Ujung Pangkah, Gresik, dekat muara Bengawan Sala.
Angin malam mengirimkan bau obor dan sayup-sayup kentongan dari desa. Warga beramai-ramai memburu Kliwon sia-sia. Kliwon sudah jauh berlari ke hulu. Sejak itu Kliwon tak mau lagi mencuri ternak penduduk. Ia memutuskan berpuasa sampai menemukan celeng, babi hutan atau rusa di hutan yang akan menjadi rumahnya.
Bayangan secuil rembulan pecah di permukaan Bengawan. Kliwon mengendap-endap menghindari manusia. Di siang hari ia beristirahat di persembunyiannya.
Kliwon menembus kampung-kampung padat, jalan raya, jembatan layang, pabrik-pabrik yang membuang limbah, sawah yang kian sempit, pertambangan dan bukit-bukit yang berlubang. Ia melaju ke hulu menuju hutan Getas, hutan Padangan, hutan Sambong, Banjaran, Ngancar, Kendilan dan seluruh hutan sepanjang anak sungai dan Bengawan. Tak sekali pun mencium bau air jernih. Banyak mata air mengering. Kliwon tak menemukan rusa, celeng atau babi hutan. Kian jauh ke hulu, kian ia berharap menemukan hutan yang bisa menjadi rumahnya. Tetapi harapannya kian menipis
Pada malam ke-21 Kliwon tiba di Desa Langen Reja. Tak ada hutan yang tersisa. Cuma petilasan pesanggrahan dan puing-puing dermaga di tepi Bengawan. Ia naik ke petilasan dermaga, mengendus-endus puing-puing batu berserakan. Bau darah yang mengering ratusan tahun pada batu-batu itu masih segar dalam penciumannya.
Di halaman belakang pesanggrahan yang menghadap Gunung Lawu, Kliwon menemukan mata air hangat yang terhubung dengan cincin api di perut bumi. Ia berendam melepas lelah sampai tertidur seperti macan mati. Tetapi jiwanya mengembara ke Kraton Surakarta. Ia melihat PB IV yang dibesarkan dalam dunia yang telah berubah. Mataram sudah pecah dua. Surakarta masih berdiri, Yogyakarta pun telah berdiri kokoh. PB IV terobsesi menyatukan kembali Mataram. Ia kewalahan menghadapi sistem politik yang dibangun VOC bergenerasi-generasi. Tetapi VOC telah lenyap dari muka bumi dihapus Revolusi Perancis yang merayap ke Belanda. Ia tak bisa lagi menuding VOC sebagai biang krisis kekuasaan Jawa. Yang tampak hanya Herman William Daendels, Gubernur Jenderal baru di tanah jajahan.
Diam-diam PB IV memprovokasi Mataram Yogyakarta melawan Daendels, berharap keduanya hancur dan Mataram dapat dipulihkan. Namun sayang seribu kali sayang, bukan Yogyakarta yang hancur. Daendels yang kalah dihajar Inggris. Raffles menjadi Gubernur Jenderal baru tanah jajahan. Dan John Crawfurd diangkat menjadi Residen Yogyakarta yang baru.
PB IV memandang Crawfurd sebagai kunci pembuka jalan penyatuan Mataram. Raja Surakarta itu mengundangnya ke Sala dalam pesta selamat datang dengan pertunjukan rampogan di Alun-alun Kidul.
*
Kini Kliwon dibawa leluhurnya terbang ke hutan Danalaya.
Mereka mendekati sekawanan rusa dari balik rumput alang-alang yang tinggi. Dan secepat kilat menerkam rusa-rusa itu. kawanan rusa melompat dengan kecepatan tinggi. Tetapi seekor roboh dibawan tubuh macan. Kaki depan dan cakar tajamnya menusuk tubuh rusa sehingga tak bisa bangkit. Satu gigitan mematikan mematahkan tulang lehernya. Macan menyeret rusa yang tak berdaya itu. Tiba-tiba kakinya terperangkap jebakan besi pemburu.
Kaki macan nyaris patah berlumuran darah. Yang lain berusaha menolong sia-sia. Para pemburu datang meringkusnya. Macan dimasukkan ke dalam kerangkeng kayu sanakeling yang sempit. Kliwon berlari menyelamatkan diri, tetapi terkepung dan dipukuli sampai tak sadarkan diri.
Kliwon dan leluhurnya meringkuk dalam dua kerangkeng, dipikul ke atas perahu. Mereka dibawa menghilir sampai dermaga Langen Reja. Dari sana macan-macan dimuat ke dua gerobak dan diarak dengan iringan gamelan menuju Alun-alun Kidul.
Di Alun-alun Kidul PB IV duduk di panggung kehormatan yang dibangun tinggi di depan Pintu Gapit. Di hadapannya rakyat berbaris melingkar membawa tombak. Di antara mereka tampak orang-orang Tionghoa.
John Crawfurd duduk di samping PB IV mengenakan pakaian Admiral Angkatan Laut Inggris. Bulu hiasan topinya berayun-ayun dimainkan angin musim kemarau. Sinuwun PB IV mengenakan seragam militer berpangkat Mayor, pangkat tertinggi seorang pribumi, lima tingkat di bawah Admiral.
Gamelan ditabuh bertalu-talu dan pintu kerangkeng pertama dibuka.
Leluhur Kliwon tak mau keluar. Petugas kerajaan menyiramnya dengan air panas. Ia melompat keluar, disambut tempik sorak penonton dan gamelan yang semakin menggila.
Barisan terdepan merundukkan tombaknya. Macan panik, melompat menghindari tikaman. Tetapi ratusan tombak tak memberinya kesempatan lolos. Perutnya bedah. Jantungnya koyak di ujung tombak. Tampak kakinya menendang-nendang udara sia-sia meregang nyawa. Darah mengalir sepanjang tangkai, membasahi tangan rakyat yang memegangnya. Sorak-sorai penonton gemuruh menggetarkan langit di atas Alun-alun Kidul.
Jantung Kliwon terasa copot ketika kerangkengnya dibuka. Ia merapat di sudut. Tiba-tiba pantatnya disundut api dari alang-alang kering yang dibakar.
Kliwon melompat keluar sambil meraung-raung. Ribuan penonton bertempik-sorak menggetarkan langit di atas Alun-alun Kidul. Gamelan bertalu-talu. Ratusan tombak mengarah ke dadanya. Kliwon menghindar dan melompat sia-sia. Ratusan tombak terlalu banyak untuk dihindari. Ujung tombak sudah terlalu dekat dan menikamnya. Kliwon meraung keras sekali dan terbangun. Sorak-sorai berubah menjadi suara adzan subuh dari pelantang Masjid Al Jihad Langen Reja.
*
Kliwon menghela napas lega menemukan dirinya di mata air hangat. Tubuhnya utuh tanpa luka. Ia segera mentas dan bangkit menggetarkan tubuhnya. Titik-titik air terpelanting ke udara dari bulu-bulunya. Sebelum fajar, ia menemukan persembunyian di tepi Bengawan.
Malam berikutnya Kliwon meninggalkan Langen Reja menyusur tepi bengawan. Kian ke hulu, batang Bengawan kian menyempit dan bercabang anak sungai. Setelah melewati Alas Ketu, ia tiba di kaki Bukit Tirtamaya. Bau bebatuan yang basah tercium olehnya. Kliwon mendaki perbukitan batu dan tiba di Mata Air Dlepih.
Dlepih bukan mata air biasa. Mata air agung yang terjebak di perbukitan batu-btau raksasa yang ditata oleh gempa demi gempa selama jutaan tahun. Kliwon tertegun melihatnya. Di sinilah Bengawan Sala bermula. Sampai di mata air yang melahirkan bengawan pun hutan yang dicari Kliwon telah hilang. Bukan cuma hutan. Dunia tempat leluhurnya pernah hidup pun telah hilang. Kliwon tak tahu lagi kapan ia bisa mengakhiri puasanya.
Dulu Kliwon menyangka penjara adalah kebun binatang. Setelah keluar, ia menemukan seluruh Jawa telah menjadi kebun binatang besar. Cuma manusia tak menyebutnya penjara.
Di mata air agung Dlepih Kliwon melepas lelah setelah perjalanan panjangnya. Kini perjalannya berganti arah. Bukan untuk menemukan jalan pulang, tetapi menemukan jalan untuk pergi.
Setelah matahari tenggelam di balik batu-batu raksasa bukit Tirtamaya, Kliwon mengayun langkah ke selatan, menuruni Pegunungan Sewu. Di tengah jalan ia mencium bau air laut. Debur ombak terdengar dari kejauhan. Kian dekat, deburnya kian menggelegar sampai ke dasar jiwa. Akhirnya Kliwon tiba di Pantai Parang Gupita, di tepi Segara Kidul. Ia duduk di ujung tebing memandang Laut Selatan Jawa. Mendadak laut bergolak seolah mengucapkan selamat datang.
Matahari warna tembaga mengintip di cakrawala. Kliwon memilih gua cadas untuk beristirahat. Angin semilir dari desa terdekat membawa bau harum sapi muda. Tubuhnya gemetar oleh rasa kosong di perut dan ingatan bau darah yang tiba-tiba membangkitkan nalurinya.
Kliwon turun ke desa, mendekati kendang dari balik semak-semak. Dengan mudah ia merobohkan sapi muda. Kaki depan dan cakarnya yang tajam menikam tubuh sapi hingga tak bisa berdiri. Dan satu gigitan mematikan di leher mengakhiri perlawanan dengan cepat. Sapi muda berubah menjadi daging segar, makan malam kesukaan Kliwon.
Kian hari kian banyak petani kehilangan ternaknya. Lama-lama mereka menemukan persembunyian Kliwon. Penduduk dan polisi bersenjata mengepung gua. Tak ada lagi pilihan. Kliwon melangkah keluar dengan tenang. Seolah tak ada manusia yang memburunya. Seolah tak ada senjata yang mengancam nyawanya. Langkahnya anggun penuh wibawa. Manusia yang memburunya heran. Bidikan laras senapan mereka turunkan. Mereka menyibak mundur memberi jalan.
Dengan tenang Kliwon melangkah ke tebing, memandang samodra nan luas sampai cakrawala. Mata Kliwon berkaca-kaca. Setiap kali air matanya menetes jatuh di tebing, ombak samudra senantiasa membasuhnya.
Kliwon melangkah maju ke pucuk tebing. Batu cadas di bawah telapak kaki.
Langit di atas kepala. Samodra di depannya. Manusia-manusia bersenjata di belakangnya.
Langit berangsur gelap. Ombak raksasa datang menghempas, menelan Kliwon sekaligus menghalau manusia-manusia yang memburunya. Mereka berlari menghindar, banyak yang jatuh tersandung batu cadas dan senjatanya terlepas.
Setelah semuanya reda dan langit kembali terang, para pemburu memungut kembali senjatanya. Mereka meninjau dari tebing. Namun tak seorang jua pun melihat Kliwon, kendati hanya sekejap mata.
Kotagede, 27 Agustus 2026










