Oleh: Sobirin Malian (Dosen Penggiat Literasi)

Setiap kali bulan Rabiul Awal menyapa, gema selawat selalu mengalun indah dari sudut-sudut kampung dan perkotaan. Umat Islam berkumpul, melantunkan kisah kelahiran sosok agung yang menjadi rahmat bagi semesta alam, Nabi Muhammad SAW. Namun, mari sejenak kita bawa kehangatan selawat itu keluar dari dinding-dingin tempat ibadah. Mari kita bawa ia masuk ke dalam genggaman tangan kita—ke dalam sebuah benda kecil berlayar kaca bernama smartphone, tempat di mana separuh waktu hidup manusia modern hari ini dihabiskan.

Paradox Kesalehan di Ruang Siber

Merayakan Maulid Nabi di era digital menghadapkan kita pada sebuah pertanyaan reflektif yang mendalam: “Jika Rasulullah SAW hadir dan melihat linimasa media sosial kita hari ini, apakah beliau akan tersenyum bangga, atau justru menangis sedih?”
Ruang siber kita hari ini sedang mengalami krisis spiritual yang hebat. Di balik layar gawai, jempol manusia modern kerap berubah menjadi lebih tajam daripada pedang. Hoaks diproduksi demi rating, caci maki dilemparkan di kolom komentar tanpa beban, dan aib sesama dikuliti demi sebuah kata bernama “viral”. Kita mengaku merindukan sosok Rasulullah, namun di saat yang sama, kita sering melupakan akhlak beliau saat berselancar di dunia maya.

Maulid Sebagai Kompas Moral Kontemporer

Di sinilah fadhilah—keutamaan terdalam—dari memperingati Maulid Nabi menemukan konteks kekiniannya yang paling krusial. Maulid bukan lagi sekadar masa lalu yang meriah untuk dikenang, melainkan sebuah reorientasi moral yang harus menyelamatkan masa depan digital kita.
Ketika kita membaca kembali sirah nabawiyah, kita akan diingatkan betapa Rasulullah adalah manusia yang paling menjaga lisannya. Beliau adalah pribadi yang tidak pernah berucap kecuali kebenaran (Siddiq) dan sangat menjaga amanah (Amanah). Di era di mana informasi mengalir bak air bah, mencintai Nabi berarti mempraktikkan budaya tabayyun.
Menahan jempol untuk tidak menyebarkan berita yang belum jelas, dan menyaring informasi sebelum membagikannya, adalah bentuk konkret dari merayakan Maulid di masa kini. Setiap kali kita menolak ikut serta dalam pusaran fitnah digital, di situlah kita sedang menghidupkan sunah beliau di dunia nyata.

Mengubah Algoritma Menjadi Aliran Pahala

Lebih dari itu, media sosial pada hakikatnya adalah panggung dakwah modern. Sifat Tabligh (menyampaikan) dan Fathanah (bijaksana) milik Nabi harusnya menginspirasi kita untuk tidak mengotori ruang publik digital dengan narasi kebencian atau polarisasi. Dakwah Nabi berhasil melunakkan hati masyarakat jahiliyah karena disampaikan dengan kelembutan, bukan bentakan.
Mengapa kita yang mengaku ummatnya justru begitu mudah mengetik kalimat kasar di kolom komentar orang asing? Mengagungkan Maulid secara kekinian adalah tentang bagaimana kita mengubah algoritma media sosial kita menjadi aliran pahala, dengan cara memproduksi konten yang sejuk, mengedukasi, dan membawa kedamaian.



Pada akhirnya, kita harus sadar bahwa integritas seorang Muslim tidak berkurang hanya karena kita bersembunyi di balik akun anonim. Allah SWT dan para malaikat-Nya tetap mengawasi setiap ketukan keyboard kita, sama persis seperti mereka mengawasi ucapan lisan kita. Menjadikan Nabi sebagai Uswatun Hasanah (teladan yang baik) di era digital berarti menjaga kehormatan orang lain di dunia maya, sebagaimana kita ingin kehormatan kita sendiri dijaga oleh orang lain.
Peringatan Maulid Nabi tidak boleh berhenti sebagai selebrasi yang kering dari makna. Mari kita jadikan momentum ini untuk merelaksasi hati dan menjinakkan jempol kita. Biarlah setiap unggahan, komentar, dan pesan yang kita kirimkan menjadi saksi di akhirat kelak, bahwa kita adalah umat yang berusaha keras menjemput syafaat dan mengukir senyum di wajah Rasulullah SAW—bahkan melalui jejak digital yang kita tinggalkan.

Advertisement

Tinggalkan Komentar