Oleh : Ade Irwansyah
SAYA senang sekali versi series terbaru Shogun yang baru tamat beberapa waktu kemarin, tak mengambil jalan “white saviour.” Padahal, cerita ini berpotensi sekali untuk menunjukkan Barat sebagai bangsa yang lebih beradab, lebih terdidik dan cerdas dibanding bangsa Timur. Di sini, orang Barat malah dipanggil “barbar”. Mereka bau karena jarang mandi dan makan tanpa aturan.
Shogun versi mini seri rilisan 1980 terasa sekali sebagai cerita “white saviour”. Sudut pandang (POV) cerita berawal dari Kapal Belanda yang dinavigasi seorang Inggris, John Blackthorne (Richard Chamberlain) terdampar di Jepang masa feodal. Ia kemudian terseret dalam konflik politik para pembesar zaman itu. Garis besar cerita versi 2024 masih sama. Namun, buat saya, terdamparnya kapal yang dinakhodai Blackthorne (versi ini dibintangi Cosmo Jarvis) hanya menjadi inciting incident. Peran orang Jepang asli di versi 2024 lebih besar dan Blackthorne hanya sekadar “plot device.” Tokoh utama versi tahun ini bukan dia, seorang Inggris (baca: kulit putih) yang menjadi solusi persoalan politik orang Jepang (baca: kulit berwarna). Melainkan orang Jepang, Toranaga (diperankan Hiroyuki Sanada) yang menggunakan orang kulit putih untuk memenangkan pertarungan politik.
Kita melihat, misalnya, bagaimana Blackthorne dijadikan alat Toranaga melawan para anggota dewan raja yang dikomandoi Ishido. Selain Toranaga, tokoh utama di versi terbaru adalah Mariko (Anna Sawai), seorang perempuan, yang memiliki latar belakang memilukan sehingga kita sepenuh hati bersimpati padanya. Blackthorne dipinggirkan menjadi supporting character yang menjadi mata penonton (orang luar Jepang) yang memandang ganjil setiap laku budaya dan tradisi (termasuk praktek bunuh diri masa itu yang menjadi kehormatan bagi pelakunya) Jepang masa feodal.
Saya menonton Shogun versi 1980 ketika kecil di RCTI awal 1990-an. Waktu itu saya kagum dengan aspek kolosal cerita ini. Ceritanya sendiri tidak terlalu saya ingat. Tahun ini saluran Hits di TV berbayar yang saya langgan memutar lagi series itu, tak lama versi barunya tayang di Disney+. Saya lebih bisa fair membandingkannya.
Dulu, tema “white saviour” jamak muncul di produk budaya pop Barat seperti film atau tayangan TV. Kita tahu, akar penyebabnya adalah publik penonton yang kebanyakan warga kulit putih dirasa kreator masa itu akan lebih nyaman bila cerita hubungan antar-rad disampaikan dari sudut pandang mereka.
Dengan adanya gerakan “Black Lives Matter” dan isu “woke”, pandangan “white saviour” tentu tidak lagi dirasa “benar”. Suara sang liyan harus diberi tempat dalam budaya pop. Itulah yang dirasa sebagai “politically correct” di masa sekarang.
Jadi Shogun versi 1980 tidak jelek untuk tontonan di masanya. Namun Shogun versi 2024 teras benar untuk tontonan zaman kiwari. Itu saja.
picsource : genmilenial.id