Cerpen ishak rafick

Saudara-saudara sekalian di Jakarta, Depok, Tangerang, Bekasi dan sekitarnya. Masi ingat saya? Joni Oleng, yang akibat liputannya di Mimbar Bebas TIM beberapa bulan lalu tentang Orasinya Karno Cilik, terpaksa berurusan dengan aparat keamanan. Ha ha ha negeri kita memang aneh, karena itu disebut negara berkembang ha ha ha. Sama konglo, mentri dan pejabat yang mengobral konsesi dan perizinan hormatnya bukan main. Tapi sama yang ngasi tau ada perampokan aset negara, galaknya bukan main.

Sekarang urusan dengan keamanan sudah selesai. Saya tidak lagi menulis atau membawa-bawa Karno Cilik, yang matanya menyala saat orasi itu seperti Tan Malaka. Tapi menggelegar seperti Bung Karno. Dia lenyap seperti ditelan bumi sampai sekarang. Orang bilang si dekil itu punya ilmu laduni.

Apa si Nusron atau gusron atau siapa itu mentri ATR, yang matanya melotot, yang bilang data lama pertanahan yang ada di tangan rakyat tidak berlaku mulai Februari 2026? Apa dia londo ireng asli wakil kompeni?

Sebab dengan pernyataannya itu tanah-tanah rakyat dan adat di seluruh Nusantara tidak aman. Tanah-tanah itu setiap saat bisa direbut oleh orang-orang berduit atau pengusaha yang jago bermain dengan pejabat. Setiap saat bisa dirampas oleh pemerintah buat investor atau konglo. Apalagi yang dikasi cap PSN. Ini tindak lajut dari PSN (perpres No. 3/2016) yang dilegalkan bersama wakil rakyat lewat UU No. 11/2020 tentang Omnibus Law dan perpem-perpem turunannya (PP No.64/2021 dan PP No. 18/2021. Rakyat yang menolak dianggap melawan negara.

Nah apa mentri ini juga bisa menghilang? Bagaimana dengan Edi Tansil atau Syamsul Nursalim bos BDNI atau Sylvester? Ha ha ha. Mereka punya ilmu laduni juga?

Jadi ada berita apa dari saya? Ha ha ha sobat sekalian dengarkan baik-baik. Saya gak akan nambah stres. Tgl 17 Oktober akan ada hajatan besar: Rapat Perdana Raja Midas dengan Komisi Pertimbangan (Komtim) yang baru dilantik. Apa istimewanya? Pasti itu pertanyaan ibu-ibu di rumah. Ha ha ha ibu kos saya juga tanya gitu.

Istimewanya gini: seperti sobat ketahui Komtim ini mengumpulkan mantan pejabat, koruptor, mantan aktivis keadilan, pengusaha besar yang bekerja seperti mafia, dan mantan aktivis kampus kritis dalam satu ruang tertutup. Mereka duduk satu meja.

Pejabatnya ada bermacam-macam mulai dari yang dianggap penjahat kenegaraan yang menjual konsesi, perizinan, sekaligus jadi pengusaha kapal pengangkut produk tambang, perkebunan, dll. Rapi jali. Juga mantan jubir sengak, koruptor, budak oligarki, mantan penguasa dunia maya yang mau bongkar semua kalau diadili, sampai mantan tukang poles ahli strategi. Berkat kesaktiannya dia sukses mendandani pinokio jadi raja dua kali dengan teknik sulap. Mata gosok ijazah ilang. Pertunjukan jalan.

Dulu mantan pejabat yang sudah tidak dikehendaki, dikirim jauh-jauh ke luar negeri. Istilah kerennya didubeskan.

Raja Midas menempuh jalan baru menaruh mereka dalam satu ruang tertutup yang disebut Komtim itu. Pertimbangan atau nasihat apapun yang mereka berikan tidak boleh didengar kadal, jangkrik, kampret, kodok, berudu, pasukan keamanan dan tukang gado-gado sekali pun. Apalagi BEM dan Alumni PTSI. Cukup bisikkan lekat-lekat di telinganya.

Biar gak gede rasa Komtim ini diimbangi dengan Biro Komunikasi (Birkom). Jadi level mereka tak setara lagi dengan si Raja Midas, tapi turun klas ke level Birkom. Birkom bisa menegur komtim. Jadi dengan sim salabim Raja sudah disucikan ha ha ha.

Namun rapat di ruang tertutup itu pun tentu menarik dan penuh asap. Semacam forum diskusi seperti lawyersclub dan podcast-podcast lain yang diekspos buat hiburan rakyat yang suka tontonan pelipur lara. Makin sengit makin menarik. Apalagi bila Sidang Komtim boleh disiarkan langsung. Sidang Komtim pasti penuh asap, karena bertemunya lidah api dengan minyak bekas. Ha haha.

Ingat ibu-ibu di sana ada bintang panggung kita Rockoko Garangan. Dialah yang dulu berani bilang istana sebagai pusat HOAX dan raja si boneka kayu DUNGU. Nah sekarang dia dikumpulin dengan bekas lawan-lawannya di ruang tertutup, duduk satu meja. Kita doain aja agar gak ada lempar-lemparan gelas. Sebab terakhir dihadapan BEM yang disiarkan TVone, dia masih menyebut istana sebagai pusat koruptor.

Nah mungkin karena menyadari bahayanya sidang tertutup, Ketua Komisi Rockoko Garangan mengambil inisiatif mengadakan rapat perdana di Arena Terbuka, yaitu CAFE CANDY DAAT di Situ (telaga) Gintung, Jaksel. Raja Midas setuju. Apakah akan terjadi saling jotos, banting kursi, dll nanti? Kita akan saksikan sama-sama. Sobat sekalian sampai jumpa tgl 17 di CAFE CANDY DAAT, Situ Gintung. Acara di mulai pk 4 sore.

“Oh rupanya reporter sableng itu kini jadi bintang iklaan,” ujar Mirna kepada Ajeng sambil menyeruput kopinya.

“Paruh waktuu buat tambahan duit rokok,” jawab Ajeng datar. “Dia masi reporter kok di Tabloid Arah. Aku dengar si Joni menolak diangkat jadi KR (Koordinator Reportase). Alasannya kurang ada tantangannya. Dikasi bantuan 2 reporter sebagai pendamping dia juga menolak. Padahal mungkin dia mau naik pangkat jadi redaktur. Ekh Mubazir katanya. Kayak mentri sudah punya departemen, staf, aspri, sekretaris, dll dikasi 2 wamen yang sama enggak kreatifnya,” imbuh Ajeng panjang.

“Uih hebat banget pengetahuan lu tentang si Oleng kerempeng itu!” kata Mirna tersenyum ngeledek. “Tapi gue setuju dengan cara berpikirnya. Kek sekarang ini masa jumlah punggawa plus wakilnya sampai 107. Lebihan dari Kurawa. Itu kan pemborosan di tengah kemiskinan,” jelas Mirna sebal.

“Gue kenal si Joni ini Mir, karena dia pernah jadi dosen tamu di kampus gue,” jawab Ajeng tersenyum menghapus su’uzhon – buruk sangka temannya.

Iklan Sidang Perdana tsb menembus kampus lewat tv yang nempel di dinding kantin. Anak-anak BEM yang lagi makan siang saling pandang. Mereka sepakat akan hadir. Beberapa pengemudi ojol yang sedang menunggu order di sekitar stasiun Gambir juga mau datang. Mereka pun mengontak komunitasnya. “Syukur-syukur mereka adu jotos beneran di sana,” ujar Yona. Di tempat lain ibu-ibu arisan erte di Bekasi langsung carter bus buat ke Situ Gintung PP. “Itung-itung hiburan segar daripada manyun dirumah,” kata Asih sambil menyikut temannya yang latah berat. “Ekh ya manyun-manyun bahlil e bahlul!!” timpalnya latah. Ibu-ibu arisan tertawa ngakak. Pak erte yang sedang lewat menoleh sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Begitulah iklan Sidang Perdana Komisi Pertimbangan cepat menyebar luas. Seantero Jabodetabek bergetar. Pedagang makanan dan minuman kaki lima bersiap memindahkan lapaknya ke Situ Gintung. Berita itu Viral. Viewernya mencapai 71 juta dalam 8 jam. Ini mengalahkan iklan pertandingan sepak bola Israel lawan Singapura yang cuma meraih viewer 241 orang selama 7 hari. “Joni Oleng si bintang iklan dadakan menang banyak,” kata Ngabalin Rengat.

Tanggal itu pun tiba. Sejak pukul 9 pagi jalan-jalan di Jabodetabok dipenuhi berbagai kendaraan menuju Situ Gintung, Ciputat. Kemacetan tak ketulungan. Apa boleh buat rakyat butuh hiburan di tengah naiknya harga-harga kebutuhan pokok akibat kelangkaan dan naiknya harga bbm dan hujan PHK.

Plus semakin kejamnya PLN setelah jadi Danantara. Misi sosialnya hangus sebagai badan usaha milik negara. Telat sehari listrik langsung diputus. Dulu masi ada toleransi sebulan. Sekarang beroperasi seperti listrik pintar (pulsa). Pulsa habis, tak ada duit, listrik padam seketika. Tak peduli ada orang jompo, ibu baru melahirkan dirumah tsb, dll. Misinya kini sama seperti pertamina, perusahaan konglo, dan perusahaan asing, yaitu cuma cari untung. Fasal 33 cuma buat pidato. Sedang subsidi masuk kantong pengusaha batubara dan listrik swasta. Kebakaran hutan di Kalimantan dan pemadaman listrik di Batam bikin tambah runyam.

Pukul 3 Sore Cafe Candy Daat sudah penuh sesak. Pengunjung membludak sampai keluar, tapi pengunjung terus berdatangan. Sebagian menggelar perlak, tikar pandan, koran, dan apa saja asal bisa dipakai buat duduk. Syukur-syukur bisa berselonjor di bawah pohon, pembatas jalan, atau pinggiran telaga (situ).

Angin berhembus semilir mempermainkan dahan dan daun-daun pohon. Mentari tak lagi garang menyengat. Mendung tipis menghalanginya. Ini menambah nyaman suasana. Pemilik cafe Ibu Juriah memang sudah mengantisipasi rupanya. Ini terbukti dari adanya 7 buah monitor besar yang telah dipasang rapih di berbagai sudut. Ini memberi ketenangan kepada mereka yang tak bisa masuk ke halaman dalam. Mereka ini memang lebih mencintai kebebasan. Di dalam dapat dipastikan banyak aturan.

Ibu Juriah si boss cafe cantik bermata bening menggoda ini mirip artis Yati Octavia. Di usianya yang sudah setengah abad, Bu Juriah bisa bikin pejabat negara dan pengusaha keluar asap dari telinganya karena cemburu.

Soal kebaikan hati jangan tanya. Dia tak bikin aturan buat mereka yang di luar ini. Mereka dibolehkan bawa makanan dan minuman sendiri. Atau membeli dari pedagang makanan dan minuman kaki lima. Mereka dibebaskan berdagang tanpa dipungut retribusi seperak pun.

Di sebuah pohon terpantek triplek putih bertuliskan:

Tukang Palak
Dilarang Beroperasi
Denda 500 Rebu
Bisa dibayarkan langsung
Ke BARESKRIM JKT
TTD
PENGHUNI SITU

Joni Oleng, wartawan tabloid ARAH, yang jadi bintang iklan dadakan buat Acara Rapat Perdana Komisi Pertimbangan kini berada di halaman dalam Cafe Candy Daat. Bukan buat meliput orasi si Karno Cilik, yang sudah lama lenyap seperti ditelan bumi. Toh dia yakin acara yang mesti diliputnya ini gak bakal suram. Malah sebaliknya ini bisa bersifat kolosal level nasional yang menarik. Bisa jadi menembus arena global. Namanya takkan diremehkan lagi. Atau cuma ditulis inisialnya JO di dalam kurung seperti biasa.

Joni Oleng dan belasan wartawan telah berada di ruang dalam. Mereka telah siap dengan peralatan liputan, kamera, tripot, dll di tengah di antara kursi-kursi yang di susun melingkar mengelilingi meja-meja bulat berpayung lebar warna warni.

Semua kamera diarahkan ke panggung besar dengan 26 kursi yang di susun setengah lingkaran. Ada 1 sofa kulit berwarna hitam mengkilap ditaruh tepat di tengah ruang kosong menghadap kursi-kursi itu. Di sandaran sofa tertulis dengan kaligrafi artistik Raja Midas. Di sekitar panggung pengunjung juga membludak, terutama diisi kaum milenial, gen z, mahasiswa, BEMSI, Alummi PTSI, pengemudi ojol, anak-anak STM, komunitas trek-trekan, anak-anak SLTP, SLTA, Ibu-ibu dan anak-anaknya. Dan tentu saja pensiunan, dan mantan demonstran.

Pukul 15.30 belum ada tanda-tanda bahwa sidang akan segera dimulai. Tak ada kabar dari istana. Juga tak ada berita dari Rockoko Garangan atau pun salah satu dari anggota komisi lainnya.

Ibu Juriah yang sudah siap lahir batin kini gelisah. Dia mondar mandir di ruangannya. Kru Cafe ikut senewen dan mulai berkeringat. Ibu Juriah menelfon beberapa nomor. Nihil. Tak ada yang menjawab. Dia menelfon Joni Oleng. “Broer ke sini deh!” katanya pendek begitu telfonnya diangkat.
Joni Oleng menghadap dengan ketenangan luar biasa dan tersenyum tipis. “Ada apa boss? Wat kan ik voor U doen?”
“Uda jangan belanda-belandaan lu! Orang lagi pusing gini!”
“Tenang bun. Ini baru setengah 4 sore. Masi ada waktu 30 menit.”
“Kalau Raja Midas dan anggota komisi sompret itu gak datang piye?”
“Nah mari kita pikirkan plan B. Misalnya mereka semua disamber gledek di Batam, yang kata mentrinya yang kentir itu sudah bikin listrik padam. Si gledek atau petir itu bekerjasama dengan kelelawar memadamkan listrik. Lalu Raja Midas bersama 26 anggota komisi yang baru dilantiknya disamber gledek dan grombolan kelelawar dalam kunjungannya. Dan mampus,” paparnya tenang. Maka plan BEnyaa … .
Ya ya ya apa plan BEnya?” tanya bu Juriah cepat sambil menahan tawa. Anak buahnya ikut ngakak ha ha ha. Semua ketegangan yang menyesakkan itu lenyap.
“Ada ribuan pengunjung di luar. Dan di dalam mendekati 800 orang. Banyak muka terkenal. Bolot juga ada pakai seragam warna kopi susu.”
“Terus terus!” tantang Bu Juriah sumringah dengan mata berbinar.
Joni Oleng merasa terpanah sesaat. Dia duduk dan menenggak capucino dingin yang ada di meja sampai tandas.
“Hoi Jon itu capucino gue!” cegah bu Juriah.
Terlambat. “Aus banget gue dari tadi,” ujarnya mengalihkan topik.
“Ah lu gak kira-kira Jon. Itu tadi sudah gue campur jamu singset sarirapet,” ujar bu Juriah khawatir.
Joni melotot. “Sabodo teing!” Katanya menenangkan hati.

“Gini bun. Kita tunggu sampai jam 4. Kalau mereka benar-benar gak datang tanpa kabar berita, kita bikin Sidang Perdana Komisi Pertimbangan versi kita,” jelas Joni meyakinkan.
“Maksud lu? Terus bagaimana kita menyulap Raja Midas dan 26 anggota komisi?” tanya si bos sintal antusias.
Kru cafe ikut bersemangat. “Ya bagaimana mas? Kita siap bantu.”
“Kita dandani si pelawak Betawi Bolot jadi Raja Midas. Lalu 26 anggota komisi kita ambil dari penonton,” jelasnya bak sutradara sinetron zaman orba Sys NS.

Si boss cantik tak bisa menahan kegembiraannya. Dipeluknya Joni Oleng sampai mau pingsan. Saking semangat dan kuatnya pelukan itu Joni merasa 7 ruas tulang rusuknya remuk. Dia rebahan sebentar. Jelas butuh napas bantuan. Tapi bu Juriah kasi dia 4 tetes minyak angin cap kampak. Joni siuman dan terbatuk-batuk sebentar.

Masalah seakan teratasi dalam pikiran. Bu Juriah lalu membagikan soto kudus kepada kru Candy Daat yang mengelilinginya dan si Joni yang perutnya mulai bereaksi. “Sudah kita makan dulu sedikit. Gue gak mau perutlu pade melintir duluan, perintahnya tersenyum sambil mengerling Joni yang langsung dapat tenaga baru.

Tiba-tiba hp si boss bu Juriah berdering hampir bersamaan dengan hp si Oleng. Logo kelelawar hijau muncul. “Jon istana istana. Lu aja yang jawab!” perintah bu Juriah mendayu.

Ah jangankan jawab telfon, diminta terjun ke jurang atau nyulik mentri nyeleneh pun gue siap Yatii. Bahkan adu jotos sama Herkules pun oke, kata Joni dalam hati.

“Ya pak Joni di sini,” sambut si bintang iklan dadakan itu. Lalu dengan wajah serius dia seperti mendapat instruksi. Dia menutup hpnya.

Bu Juriah mendekat. “Apa katanya Jon?”

“Raja Midas akan langsung diturunkan dari helikopter di panggung dengan tali. Lalu 17 anggota komtim akan diturunkan di pinggir telaga dalam kontainer terbuka. Jumlahnya 17. Bukan 26, karena dua orang berhalangan. Kursi rodanya bermasalah. Yang 7 lagi mantan pengusaha gaek minta izin tidak ikut, karena takut ketinggian. Orang londo bilang hoogte vrees,” papar Joni datar. “Jadi gak ada masalah bun. Kita cuma perlu bergegas ke panggung. Ini sudah jam 4 kurang 10.

Tak disangka Raja Midas sudah berada di panggung, duduk anteng di sofa dengan seragam warna kopi susu dan kacamata hitam. Kursi-kursi di depannya terisi 17 laki-laki basah kuyup duduk miring seperti mau pingsan. Selidik punya selidik rupanya si Raja Midas berhasil mulus diturunkan dari helikopter dengan tali tepat di sofa hitam mengkilap itu. Sedang 17 anggota komtim langsung meluncur satu kontainer ke telaga setelah bergoyang-goyang lebih 10 menit.

Anak-anak STM mendapat tontonan seru. Juga para pedagang kaki lima dan ibu-ibu, yang sudah menduga kontainer itu akan nyemplung ke telaga, karena oleng ke kiri kanan dengan penumpang yang ketakutan. Pengunjung bersorak sorai. Anak-anak STM dan ibu-ibu arisan erte terbahak-bahak sampai sakit perut.

Liputan TVRI berhasil menyajikan adegan seru di dalam kontainer goyang itu dalam siaran langsung close up yang apik. Youtube mencatat viewernya sudah mencapai 350 juta lebih, 50 jutanya penonton Eropa. Nampaknya jumlah viewer akan terus bertambah.

Rockoko Garangan duduk bersila di sudut kiri memejamkan mata dan menarik napas yoga. Para pensiunan pejabat, koruptor dan aparat mengangkat tangan tinggi-tinggi dipimpin mantan menag sambil menangis. Di sebelahnya mantan pemimpin ormas terbesar pingsan dengan mulut berbusa dan mantan pengusaha dan pendiri lembaga strategis juga pingsan dalam posisi telungkup.

Mantan menag memimpin pertobatan bersama itu. Mereka berjanji berjanji kalau selamat dari telaga sialan ini mau pulang kampung aja buka warung. Dan duit hasil jual jasa memudahkan korupsi dan perampasan tanah akan dipakai buat mencetak sawah dan membangun perumahan rakyat gratis. Juga membeli perahu mesin buat nelayan, dan mesin air buat petani. Sisanya disumbangkan ke Muhammadiyah dan NU agar berguna buat rakyat.

Kontainer makin goyang dan miring ke kiri. Semuanya tertarik gravitasi ke kiri. Dengan kecepatan luar biasa meluncur menabrak Rockoko yang sedang bersila dengan mata terpejam. Duk bruuk! Rockoko Garangan merasakan sakit luar biasa di punggung dan kepalanya seperti terhantam 16 kayu glondongan besar yang pernah menghancurkan bangunan Sekolah di Aceh saat banjir bandeng. Sang pemikir megap-megap pingsan. Lalu semuanya masuk telaga. Mantan menag dan orang-orang itu sudah merasa masuk neraka paling dalam.

Namun itu bukan kiamat. Mereka cuma kecemplung dalam satu kontainer di Situ Gintung. Bukan di bagian paling dalam. Cuma di pinggiran yang cuma sedalam 1,5 meter. Tak ada korban jiwa. Mereka, 17 komtim malang itu, lalu digotong satu per satu oleh pedagang kopi Madura dan tukang ojek ke panggung. Mereka di dudukan di kursi di hadapan Raja Midas.

Kini suasana sudah lebih tenang. Hadirin tua muda, anak-anak, ibu-ibu, pengemudi ojol berteriak histeris “Hidup Raja Midas! Hidup Raja Midas! sambil bertepuk tangan. Raja Midas berdiri melambaikan tangan gembira.

“Pak Raja Midas itu komtimnya kok pada loyo? Loyo loyo loyo!” teriak kaum milenial dan gen z. Ibu-ibu ikut teriak “pulangin aja mereka. Laskar tak begune! Ha ha ha!” teriah Narsih. “Ya makan gaji buta di tengah krisis. Itu lho guru honorer cuma dibayar 300 rebu sebulan!” tambah bu Yoke. Mending bayar gaji guru yang bener. Guru dibiarin kurang gizi! Terus bikin MBG, kantin sekolah mati!” teriak bu Kori – pedagang kantin SMPN 17 histeris.

Bu Nadya, mantan atlit lempar lembing SMP 1 Muhammadiyah, tiba-tiba berdiri tegak. Tiga buah pisang goreng dilemparnya kuat-kuat, lurus ke arah 3 pria kuyup di panggung sebelah kiri dengan interval 2 detik. Tepat mengenai jidat 3 komtim kuyup tsb dalam waktu hampir bersamaan. Mereka serempak duduk tegak dengan mata nanar dan waspada. Begitu juga 13 lainnya yang ikut kaget. Yanto dan dua temannya pengemudi ojol tertawa terpingkal-pingkal. Beberapa ibu menyalami bu Nadya dengan wajah sumringah.

Raja Midas tak peduli. Dia mengambil mikrofon di depannya. Saudara-saudara mari kita mulai sidang perdana komisi pertimbangan. Kita adalah bangsa yang besar dengan kekayaan alam berlimpah. Kita negara paling luas dan paling kaya nomor 4 di dunia.

Sebagai raja dari negara besar, yang kalau kita tidak pandai mengelolanya, kita akan jadi sasaran perampokan dari negara-negara besar dan lebih maju dari kita. Bisa jadi perampokan itu berjalan atas kerjasama dengan perampok dalam negeri yang bermental calo. Atau mereka yang jual jasa mengakali aturan.

Nah sebagai raja dari negara besar ini saya punya banyak kekurangan. Karena itu kalian orang-orang berpengalaman dan terpandai di negeri ini, tolong nasihati saya! Kata sang raja dengan suara menggelegar dan pandangan menyapu 17 wajah di depannya di balik kacamata hitamnya yang mengintimidasi.

17 tokoh besar penuh pengalaman dihadapannya tertunduk gemetar. Badan mereka makin lengket ke kursi. Mengangkat kepala terasa berat.

Hening 30 detik. Suasana jadi mencekam. Ibu-ibu, kaum milenial, gen z, mahasiswa, BEMSI, Alumni PTSI, anak- anak dan pengemudi ojol, dll ikut terpaku di tempat masing-masing. Begitu juga dengan pengunjung di luar. Semuanya terdiam memandang monitor. Bu Narti tak kuasa memegang piring gado-gado di tangannya, dan tumpah ke bawah. Semuanya menanti nasihat atau pertimbangan apa pun dari 17 tokoh di hadapan raja.

Delapan menit berlalu dalam hening. Tiba-tiba suara angsa terdengar keras heaak heaaak heaaaak. Semuanya tersadar. Beberapa anggota komtim langsung berbicara bareng dengan terbata-bata dan penuh ketakutan sambil menunduk.

“Bagi kami raja adalah wakil Tuhan. Bapak rajalah yang paling tau semuanya. Kamilah yang perlu nasihat dari errrra raja yang mulia. Raja tidak ada celanya. Semua program unggulan pak Raja adalah bisikan langit. Tak bercela. MBG, KDMP, DANANTARA adalah bentuk perhatian Raja kepada rakyat. Itu adalah sosialisme sejati, murni dari Tuhan,” kata mereka serempak dipimpin Rockoko Garangan.

Raja Midas berdiri tanpa ekspresi. Dia menaruh tangan kanannya di belakang telinga seperti berusaha menangkap ucapan penasihatnya, tapi gagal. Dia tidak mendengar apapun. Bolot.

Raja Midas berjalan pelan menaiki panggung musik. Lalu membisikkan sesuatu. Maka keheningan pun sirna. Diganti dengan musik dangdut.

Kau yang mulai
Kau yang mengakhiri
Kau yang berjanji
Kau yang mengingkari

Seluruh Cafe Candy Daat bergetar dengan irama dangdut membahana, menggoyang Situ Gintung. Semua ikut bernyanyi. Semua bergoyang riang mengikuti irama musik dangdut. Raja dan para penasihatnya yang basah kuyup bersatu di panggung dalam irama dangdut.

Bu Juriah menyalami Joni Oleng dengan senyum sumringah. “Kerreen plan B lu Jon. Gak percuma lu aktif di Theater Sastra UI dulu.”

IR
Cafe Candy Daat, 171026

—
Dari Kumpulan
Cerpen Politik Ishak Rafick

Advertisement

Tinggalkan Komentar