Oleh: Pril Huseno
Laga final Piala FIFA ASEAN CUP 2026 di GBK Senayan antara timnas Garuda melawan Thailand pada (05/10) yang baru lalu, sungguh sebuah moment menggetarkan. Menggetarkan, karena emosi massa bercampur aduk dengan nuansa religi yang amat kental.
Saya saja, yang jarang sekali berdoa di momen-momen laga Indonesia melawan negara lain, baru kali kemarin itu tumben-tumbenan berulang kali berdoa memohon kepada Allah SWT agar memberikan kemenangan kepada squad Garuda. Bahkan, di saat jeda istirahat jelang adu penalti, saya sempatkan shalat Isya dan berdoa khusyuk memohon kemurahan-Nya agar Indonesia dimenangkan dalam laga krusial kali ini.
Rupa-rupanya, moment berdoa khusyuk itu juga dilakukan oleh banyak sekali penonton. Baik langsung di GBK Senayan, tontonan Nobar ataupun di rumah-rumah pribadi. Di situ, dapat dilihat tingkat religiusitas rakyat Indonesia di laga final kemarin. Mereka yang jarang sekali memasrahkan pertolongan kepada Sang Khalik, mendadak jadi ustadz, sambil memejamkan mata berdoa.
Allah Maha Baik, doa-doa kita dikabulkannya. Setelah 35 tahun puasa gelar, timnas Garuda kemarin berhasil menjadi juara pada laga final piala ASEAN CUP 2026. Thailand tumbang kelelahan. Sebuah ajang bergengsi gelaran FIFA yang tentunya berbeda level dengan Piala AFF yang menjadikan timnas kita babak belur jadi spesialis runner up pada 4 kali laga final Piala AFF.
Semua orang Indonesia bergembira ria luar biasa. Pawai-pawai kemenangan tumpah di banyak kota. Bahkan tangisan pun pecah di antara para penonton, saking gembiranya. Sebagaimana gembira dan tangis kemenangan Rizky Ridho, Joey Pelupessy, Ole dan para punggawa timnas lainnya.
Sampai saat inipun, saya masih saja tersenyum senang melihat post-post yang berseliweran di medsos saat-saat kemenangan dramatis itu. Lihat kekonyolan Hubner menggoda pemain Thailand yang kalah, lihat aksi Audero yang berlari gembira setelah menggagalkan tembakan terakhir pemain Thailand, dan moment sukaria lainnya.
Sungguh terpuji perjuangan anak anak Garuda. Rizky Ridho, Egy Maulana, Hubner, Dicks, Ole, dan lain-lainnya bermain total habis-habisan pada ajang bergengsi FIFA ini.
Pada laga sebelumnya melawan Bangladesh, timnas Garuda bahkan membuat dunia sepakbola internasional terhenyak kaget, karena anak anak kita mampu membuat 2 gol pemuncak dalam 2 menit waktu terakhir. Hingga kita lolos ke Final dan menjungkalkan harapan Malaysia.
Tentu saja, peran para pemain naturalisasi di atas amat menentukan. Kita juga memuji setinggi langit sikap nasionalis para pemain keturunan itu dalam membela kehormatan Indonesia. Dunia sepakbola internasional geger. Klub-klub raksasa Eropa menjadikan topik utama pada medsos mereka perihal kemenangan dramatis Indonesia atas Thailand.
Menunggu Momen Berikutnya
Gelaran uji ketangguhan berikutnya dari squad Garuda ke depan adalah Piala Asia pada 2027 mendatang. Di Piala Asia, tentu saja berbeda kelas dengan Piala FIFA ASEAN CUP 2026 lalu. Di Piala Asia, tim tim kuat Asia langganan Piala Dunia seperti tim Jepang si Samurai Biru, timnas Qatar sang juara bertahan Piala Asia, juga ada tim Korea Selatan dan Korea Utara yang secara tradisionil jadi musuh paling potensial. Dan yang pasti merepotkan, tim tim dari Timur Tengah: Arab Saudi, Jordania, Bahrain, Iran, Irak, Oman dan lain-lain.
Tim Arab Saudi, punya ”dendam” tersendiri dengan Indonesia karena dihajar kalah oleh anak-anak Garuda pada laga kualifikasi piala dunia lalu di Jakarta. Ketika itu Shin Tae Yong (STY) masih jadi pelatih Indonesia. Bahkan Oman sempat keok 4 – 0 dari timnas Garuda pada tahun ini di bawah John Herdman.
Kita harus bisa melepas bayang-bayang kenangan indah timnas Indonesia ketika di bawah asuhan STY. Terimakasih tak terhingga kepada STY yang telah capek-capek menyusun pondasi kesebelasan kebanggaan Indonesia hingga bisa berlaga di babak ke 4 laga Prakualifikasi Piala Dunia. Tanpa STY waktu itu, mustahil rasanya kita bisa masuk babak ke 4 kualifikasi Piala Dunia 2026. Sungguh besar jasa STY.
Tapi John Herdman adalah sosok lain. Dia yang membawa timnas sepakbola Indonesia menjadi juara di ajang bergengsi FIFA ASEAN CUP 2026 yang baru saja diselenggarakan organisasi sepakbola sejagad FIFA. Pasti Ada perbedaan taktik dari Herdman yang memainkan strategi gaya Eropa. Kecepatan dan Kekuatan. Dia tidak begitu mementingkan keindahan seperti halnya STY. ”Yang penting kita bisa menang…!” katanya pada wartawan.
Dan kita melihat, gaya cantik sepakbola STY dengan sontekan mematikan telah diperagakan oleh Egy Maulana ketika memberikan umpan matang ke Rizky Ridho untuk kemudian melakukan tembakan ke gawang, ditepis kiper Thailand, dan menjadi mangsa Elkan Baggot untuk membuat goal penyeimbang 2 -2 di menit-menit akhir pertandingan.
Ya, gaya mixed taktik cerdas STY dengan kecepatan serbuan gaya Inggris ala Herdman harus dipadukan. Syukurlah John Herdman kelihatannya memilih metode campuran itu.
Pembenahan Lini Belakang
Baik Thailand ataupun Bangladesh dan Singapura, nampaknya memilih taktik counter attack atau serangan balik sebagai andalan membuat gol. Menyadari kalah ball position dari pemain Indonesia yang selalu mendominasi, beberapa kali gol gol tim lawan selalu bermodalkan serangan balik.
Lini belakang timnas Garuda agaknya harus ekstra kerja keras memperbaiki diri. Kevin Dicks, Hubner, Baggot dan Verdonk harus berdiskusi kembali dengan pelatih mengatasi kelemahan itu. Ajang Piala Asia kelak akan menemui lawan yang jauh lebih berat kelasnya ketimbang kelas ASEAN. Semoga bang Jay Idzes bisa kembali mengawal lini belakang dan jadi kapten timnas kelak.
Apapun, kita patut berterimakasih kepada anak anak Garuda. Salut setinggi tingginya atas sikap nasionalisme kalian. Kita terharu sangat. Semoga Indonesia tetap jadi 4 besar Asia dan masuk ajang Piala Dunia 2030 mendatang. Tuhan Maha Baik pada Indonesia.
Tabik.
Advertisement










