Puisi Oka Swastika Mahendra
Tiga lewat seperempat
Malam belum usai
Truk meninggalkan Halim
Senjata membawa perintah
Jakarta belum tahu
Tujuh detasemen bergerak
Menuju rumah jenderal
Pintu-pintu segera diketuk
Tidur berubah menjadi
Neraka mendadak
Ahmad Yani ditembak
Haryono turut gugur
Panjaitan kehilangan nyawa
Tiga rumah menjadi
Rumah duka
Suprapto dibawa hidup
S. Parman ikut
Sutoyo turut diseret
Malam menelan nama
Negara kehilangan
Nasution lolos malam
Tembok menjadi penyelamat
Tendean disangka Nasution
Gelap mengubah sasaran
Nasib pun berpindah
Ade Irma tertembak
Anak kecil menanggung
Peluru orang dewasa
Rumah menjadi makam
Tangis belum selesai
Karel Sadsuitubun gugur
Menjaga rumah tetangga
Albert Naiborhu menyusul
Darah melewati pintu
Malam semakin pekat
Tujuh nama dibawa
Menuju Lubang Buaya
Sumur menunggu gelap
Jenazah kemudian ditemukan
Sejarah membuka luka
Namun pagi datang
Radio mulai berbicara
Komando mulai bergeser
Jakarta mencari kendali
Negara menahan panik
Nama G30S bergema
PKI kemudian dituding
Narasi menjadi sejarah
Sejarah menjadi perdebatan
Arsip terus membuka
Satu malam berdarah
Mengubah wajah Indonesia
Kekuasaan bergeser
Ketakutan meluas
Pembantaian menyusul
Bukan hanya jenderal
Menjadi korban terkapar
Ribuan nama kemudian
Hilang dalam kekerasan
Negeri menanggung luka
Tiga lewat seperempat
Jam seolah membeku
Sejarah mulai berdetak
Dari rumah-rumah
Menuju kekuasaan
Siapa memberi perintah?
Siapa menggerakkan pasukan?
Siapa menyusun malam?
Pertanyaan belum selesai
Arsip terus bersuara
Jangan jadikan korban
Sekadar angka sejarah
Mereka punya keluarga
Mereka punya nama
Mereka pernah hidup
Pukul tiga lewat
Bukan sekadar angka
Ia pintu gelap
Menuju Indonesia baru
Dengan harga darah
Jogjakarta, 1 Oktober 2026
Advertisement










