Oleh: Ariyo Bimmo

Ada yang menarik perhatian saya ketika membaca berita mengenai rencana Gubernur Jakarta, Pramono Anung, merevitalisasi sejumlah kawasan ikonik ibu kota. Salah satunya adalah gagasan mengembangkan Pasar Baru menjadi semacam Myeongdong, kawasan perdagangan, kuliner, dan hiburan yang terkenal di Seoul, Korea Selatan.

Gagasan itu menggelitik ingatan saya. Bukan karena saya menganggap Jakarta harus menyerupai Seoul, melainkan karena saya pernah menyaksikan sendiri bagaimana ibu kota Korea Selatan tersebut berkembang menjadi salah satu metropolitan paling menarik di dunia.

Saya pertama kali datang ke Korea Selatan sekitar tahun 2000 untuk mengikuti tugas belajar. Jadi, keberadaan saya di sana bukan sekadar sebagai wisatawan. Saya mempunyai kesempatan mengamati kehidupan sehari-hari masyarakatnya, menggunakan transportasi publik, mengunjungi pusat-pusat kegiatan ekonomi, dan berdiskusi dengan teman-teman Korea tentang perkembangan negara mereka.

Saya kembali mengunjungi Korea pada 2008 dan 2017. Perubahan yang saya saksikan dalam rentang waktu tersebut sungguh mengesankan.

Namun, sebelum bercerita lebih jauh tentang Seoul, saya ingin mengapresiasi terlebih dahulu apa yang sedang dilakukan Pramono Anung di Jakarta.

Membangun Kota dengan Melanjutkan yang Baik

Satu hal yang menurut saya patut diapresiasi dari kepemimpinan Pramono Anung adalah kesediaannya melanjutkan berbagai inisiatif pembangunan yang sudah berjalan baik.

Dalam praktik pemerintahan, keberlanjutan kebijakan sering kali menjadi tantangan tersendiri. Pergantian kepemimpinan tidak jarang diikuti perubahan prioritas, bahkan penghentian program yang sesungguhnya masih relevan dan bermanfaat.
Pramono tampaknya memilih pendekatan yang berbeda.

Infrastruktur transportasi massal yang telah dirintis pendahulunya terus dilanjutkan.

Perluasan LRT Jakarta hingga Manggarai, misalnya, telah diresmikan pada September 2026. Pembangunan MRT fase kedua menuju kawasan Kota juga terus berlangsung, sementara persiapan jalur timur-barat mencakup penetapan trase dan pengadaan tanah.

Advertisement

Modernisasi Stasiun Tanah Abang merupakan contoh lain dari pembenahan transportasi metropolitan. Proyek yang melibatkan pemerintah pusat dan PT KAI tersebut memperlihatkan pentingnya kesinambungan pembangunan serta koordinasi antarlembaga.

Tentu tidak semua keberhasilan tersebut dapat diklaim sebagai hasil kerja seorang gubernur. Sebagian telah direncanakan dan dikerjakan sejak pemerintahan sebelumnya. Tetapi justru di situlah letak apresiasi saya: pembangunan kota tidak semestinya berhenti atau berganti arah hanya karena pergantian pemimpin.

Sebagai orang yang juga menggunakan sepeda untuk mobilitas sehari-hari, saya sempat pesimistis terhadap masa depan jalur sepeda Jakarta. Namun, keputusan Pemprov DKI untuk mempertahankan fasilitas tersebut, sambil mengevaluasi ruas-ruas yang perlu diperbaiki, merupakan perkembangan yang menggembirakan.

Transportasi perkotaan harus dikembangkan sebagai suatu ekosistem. MRT, LRT, KRL, bus, jalur pedestrian, dan sepeda bukanlah moda yang saling bersaing, melainkan saling melengkapi.

Dalam konteks inilah rencana revitalisasi Blok M, Pasar Baru, Glodok, hingga Kota Tua menjadi semakin menarik. Pramono tidak sekadar membayangkan kawasan wisata baru, melainkan mulai menghubungkan penataan kawasan dengan pengembangan transportasi publik.

Pendekatan tersebut mengingatkan saya pada apa yang pernah saya saksikan di Seoul.

Menyaksikan Lompatan Korea Selatan

Korea Selatan mempunyai sejarah yang menarik jika dibandingkan dengan Indonesia. Korea terbebas dari penjajahan Jepang pada 15 Agustus 1945, hanya dua hari sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.

Perjalanan kedua bangsa tentu berbeda. Korea kemudian mengalami perang yang menghancurkan sebagian besar infrastruktur dan perekonomiannya. Namun, dalam beberapa dekade, Korea Selatan berhasil bertransformasi menjadi negara industri maju.

Ketika saya berada di sana pada awal 2000-an, hasil pembangunan panjang itu semakin terasa dalam kehidupan masyarakat.
Seoul sudah memiliki jaringan kereta bawah tanah yang luas.

Kawasan perdagangan seperti Namdaemun, Dongdaemun, dan Myeongdong terhubung dengan sistem transportasi publik. Demikian pula kawasan bersejarah, termasuk Istana Gyeongbokgung.

Mobilitas masyarakat tidak semata bergantung pada kendaraan pribadi. Kereta bawah tanah dan bus memungkinkan warga berpindah dari kawasan permukiman menuju tempat kerja, pusat perdagangan, maupun destinasi wisata dengan relatif mudah.

Korea sebenarnya telah membangun kereta bawah tanah sejak 1974. Olimpiade Seoul 1988 menjadi salah satu momentum penting modernisasi kotanya, disusul penyelenggaraan Piala Dunia 2002 bersama Jepang. Reformasi sistem bus pada 2004 semakin memperkuat integrasi angkutan umum.

Dengan demikian, kemajuan Seoul bukanlah hasil sebuah proyek besar yang berdiri sendiri, melainkan akumulasi pembangunan yang berlangsung selama puluhan tahun.

Saya melihat perubahan itu bukan hanya pada infrastrukturnya, tetapi juga pada masyarakatnya.

Ketika pertama kali datang, kemampuan berbahasa Inggris belum terlalu umum dalam pergaulan sehari-hari yang saya temui. Namun, pada kunjungan-kunjungan berikutnya, saya menjumpai semakin banyak petunjuk berbahasa Inggris, aktivitas bisnis yang berorientasi internasional, serta masyarakat yang semakin terbiasa berinteraksi dengan orang asing.

Tentu itu merupakan pengamatan pribadi, bukan ukuran statistik nasional. Tetapi kesan yang saya peroleh sangat kuat: Korea Selatan sedang mengalami transformasi yang tidak hanya bersifat fisik, melainkan juga sosial dan kultural.

Rahasia Korea: Membangun Kemampuan Bangsanya

Salah satu cerita yang saya ingat dari teman-teman Korea adalah bagaimana pemerintah dan masyarakat mereka memberikan perhatian besar pada pendidikan, termasuk mendorong warganya memperoleh pengetahuan dan pengalaman dari luar negeri.
Korea kemudian membangun institusi penelitian, universitas teknologi, dan industri yang mampu memanfaatkan kemampuan sumber daya manusia tersebut.

Itulah bagian penting dari strategi pembangunan mereka.

Korea tidak sekadar menghasilkan lulusan yang pintar, tetapi juga membangun industri yang membutuhkan kepintaran mereka.

Saya pernah berkesempatan mengunjungi sebuah pabrik baja di Korea. Skala dan teknologi industrinya sangat mengesankan.

Padahal Korea Selatan bukan negara yang memiliki kelimpahan sumber daya mineral seperti Indonesia.

Mereka membangun keunggulan dengan menguasai teknologi, proses produksi, manajemen, serta jaringan perdagangan internasional.

Pengalaman lain yang tidak kalah membekas justru datang dari kehidupan sehari-hari.

Pada masa itu, industri otomotif Korea sedang berkembang pesat. Hyundai dan Kia semakin menonjol. Di jalan-jalan, saya melihat dominasi kendaraan produksi Korea sendiri.

Saya pernah bertanya kepada seorang teman Korea yang sebenarnya mempunyai kemampuan finansial untuk membeli Mercedes-Benz atau BMW. Mengapa ia tetap memilih mobil Korea?

Jawabannya menarik. Kurang lebih ia balik bertanya, memangnya mobil Jerman lebih bagus daripada mobil Korea?

Tentu kita bisa memperdebatkan kualitas, harga, maupun teknologi masing-masing kendaraan. Tetapi bagi saya, jawaban tersebut mencerminkan sesuatu yang lebih mendasar: kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan bangsanya sendiri.

Dan kepercayaan itu bukan tumbuh dari slogan semata. Ia dibangun melalui kemampuan industri menghasilkan produk yang semakin baik.

Inilah bentuk nasionalisme ekonomi yang produktif. Masyarakat bangga menggunakan produk dalam negeri karena industrinya mampu menghasilkan barang yang layak dibanggakan.

Ketika Kebudayaan Menjadi Kekuatan Ekonomi


Hal lain yang saya amati adalah tumbuhnya budaya populer Korea.

Di kawasan seperti Myeongdong, pada akhir pekan sering terdapat keramaian dan pertunjukan anak muda. Saya masih mengingat penampilan kelompok-kelompok tari yang diiringi musik populer, terkadang dengan gaya lip-sync.

Saat itu, K-pop belum menjadi fenomena global sebesar sekarang, meskipun industrinya telah berkembang sejak 1990-an.

Belakangan kita menyaksikan bagaimana musik, drama, film, fesyen, kosmetik, dan kuliner Korea menjadi bagian dari industri budaya yang mendunia.

Fenomena tersebut memperlihatkan bagaimana pembangunan ekonomi dan kebudayaan dapat saling memperkuat.

Industri yang berkembang menciptakan kemakmuran dan pasar domestik. Infrastruktur yang baik mempertemukan masyarakat dengan pusat-pusat kegiatan. Industri kreatif menghadirkan aktivitas ekonomi baru, sekaligus memperkenalkan identitas bangsa kepada dunia.

Myeongdong kemudian menjadi salah satu tempat bertemunya berbagai proses tersebut.

Karena itulah saya berpendapat bahwa keberhasilan Myeongdong tidak dapat dipisahkan dari keberhasilan pembangunan Korea Selatan secara keseluruhan.

Jakarta Tidak Harus Menjadi Seoul

Kembali kepada gagasan Pramono Anung, saya melihat rencana mengembangkan Pasar Baru menjadi Myeongdong-nya Jakarta sebagai inspirasi yang positif.

Pasar Baru mempunyai sejarah panjang sebagai salah satu pusat perdagangan tertua di Jakarta. Kawasan ini tumbuh sejak 1820 dan memiliki kekayaan arsitektur, tradisi perdagangan, serta percampuran budaya masyarakat Tionghoa, India, Eropa, dan Nusantara.

Dengan modal sejarah tersebut, Pasar Baru sesungguhnya mempunyai identitas yang kuat.

Maka, ketika kita berbicara tentang Myeongdong, yang perlu dipelajari bukan semata tampilan toko, papan reklame, atau keramaian kulinernya. Yang lebih penting adalah bagaimana sebuah kawasan perdagangan menjadi hidup karena mudah diakses, nyaman, aman, dan memiliki kegiatan ekonomi yang berkelanjutan.
Kawasan itu harus memberikan manfaat kepada pedagang lama, UMKM, pelaku industri kreatif, sekaligus masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Demikian pula Kota Tua. Revitalisasi idealnya bukan sekadar mempercantik bangunan bersejarah, melainkan menghidupkan kembali kegiatan sosial, ekonomi, dan kebudayaan di dalamnya.

Saya justru melihat potensi besar apabila kawasan-kawasan tersebut dihubungkan melalui transportasi publik yang semakin terintegrasi.
Bayangkan wisatawan atau warga Jakarta dapat mengunjungi Blok M, melanjutkan perjalanan ke Pasar Baru, menikmati kuliner Glodok, lalu menelusuri Kota Tua tanpa harus bergantung pada mobil pribadi.

Tentu jaringan dan fasilitas pendukungnya masih perlu terus dibangun. Namun, arah kebijakan yang menyatukan transportasi dan pengembangan kawasan seperti inilah yang patut didukung.

Pelajaran untuk Indonesia


Pengalaman Korea Selatan juga memberikan pelajaran yang lebih luas bagi pembangunan Indonesia.

Setiap bangsa mempunyai keunggulan komparatif yang berbeda. Korea membangun kekuatan pada industri manufaktur, teknologi, otomotif, elektronik, dan kebudayaan. Indonesia mempunyai kekayaan sumber daya alam, keanekaragaman hayati, pasar domestik yang besar, serta potensi industri kreatif yang tidak kalah menjanjikan.

Karena itu, saya termasuk yang mendukung kebijakan hilirisasi, sepanjang dilaksanakan dengan benar, memperhatikan keberlanjutan lingkungan, dan sungguh-sungguh meningkatkan kemampuan industri nasional.

Hilirisasi tidak boleh berhenti pada pengolahan bahan mentah. Kita harus bergerak menuju penguasaan teknologi, produksi barang jadi, inovasi, dan pengembangan industri pendukung.

Dalam industri kendaraan listrik, misalnya, nilai tambah tidak berhenti pada nikel atau pengolahan material baterai. Kita harus berani mengembangkan kemampuan pada seluruh rantai industri, termasuk rekayasa, manufaktur, dan teknologi.

Korea Selatan mengajarkan bahwa keunggulan suatu bangsa tidak selalu ditentukan oleh apa yang dimilikinya sejak awal, melainkan juga oleh kemampuan membangun keunggulan baru.

Semua itu membutuhkan konsistensi kebijakan, pendidikan yang berkualitas, kemampuan birokrasi, dan keberanian membangun dalam jangka panjang.

Dalam skala perkotaan, saya melihat semangat tersebut mulai tercermin dari upaya Jakarta melanjutkan pembangunan transportasi massal sekaligus menata kembali kawasan-kawasan bersejarahnya.

Tentu masih banyak persoalan Jakarta yang belum terselesaikan. Namun, pembangunan kota memang merupakan perjalanan panjang yang tidak mungkin diselesaikan oleh satu gubernur dalam satu masa jabatan.

Justru karena itulah kesinambungan kebijakan menjadi sangat penting.

Saya berharap inisiatif Pramono Anung dapat menjadi bagian dari proses panjang menjadikan Jakarta semakin nyaman dihuni, mudah diakses, produktif secara ekonomi, dan membanggakan secara kultural.

Pada akhirnya, pelajaran terpenting dari Korea Selatan bukanlah bagaimana membangun Myeongdong, melainkan bagaimana membangun sebuah bangsa yang percaya pada kemampuannya sendiri.

Seoul tidak menjadi kota dunia dengan berubah menjadi Tokyo, London, atau New York. Seoul menjadi kota dunia karena berhasil mengembangkan kekuatan dan identitasnya sendiri.

Begitu pula Jakarta.

Kita boleh belajar dari mana saja. Tetapi untuk menjadi kota dunia, Jakarta tidak perlu menjadi Seoul. Jakarta harus menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.

Advertisement

Tinggalkan Komentar