Puisi Joko Pranoto

dingin masih membungkus pagi dan tetes embun di ujung daun belum jatuh

drupadi bersama pandawa beranjak menuju puncak nirmala

sang penyabar, yudistira,
menuntun dalam ikhlas yang utuh

saatnya meninggalkan
keindahan yang menipu

merajut mahkota untuk penerus

membingkai kenangan tentang baratayudha

peperangan suci, mempertemukan takdir:
hidup dan mati

peperangan yang memberi kemenangan semu

dan

luka yang nyata

ketika matahari meninggi

drupadi gugur:

teruslah berjalan duhai kekasihku, pandawa

jangan menangis bima, relakan kepergianku

aku berterima kasih, kau telah membalaskan perihku dipermalukan kurawa

maafkan aku suamiku,
aku telah berlaku tidak adil

cintaku pada arjuna melebihi cintaku padamu yudistira, bima, nakula dan kau sadewa

cinta adalah rasa yang tak mungkin terbagi sempurna
pada titik ini, aku kalah

himalaya kian sunyi

bilangan hari belum membawa pergi semua luka

sadewa meregang nyawa

yudistira memandangi adiknya

aku mengerti adikku, tidak ada inginmu untuk pamer pintar,
tapi pujian telah membuat benih angkuh tumbuh

tenangkan jiwamu pergilah dengan lembut

nakula meratap kembaran berpulang

entah karena duka, lelah atau batinnya yang tidak sepenuhnya putih

nakula pun gugur

kali ini yudistira tak mampu menahan air mata, ia ucapkan perlahan

berbaringlah nakula,
malam dan bidadari akan menemanimu

tapi jangan kau rayu, karena ketampanan sudah tidak berguna

tangis bima memecah sunyi

sedih dan amarah memenuhi dada

yudistira memeluknya

bima, amarah seharusnya sudah kau tinggalkan di hastinapura

bersihkan kembali niatmu

perjalanan kita hanya sepertiga waktu lagi

bima berhenti menjerit

perjalanan selanjutnya adalah langkah duka dan dada sesak menahan agar air mata tak tumpah

angin memberi gigil
sunyi memberi cemas

ketika puncak abadi telah terlihat, arjuna jatuh

kegagahan sirna

sang pemanah tumbang

di tangan semesta, ketangguhan menjadi kerdil

kesombongan seperti uap air

kesaktian menjadi serpihan

bima tak lagi mampu menahan duka

kekuatannya runtuh

yudistira memapah bima

buanglah amarahmu bima

buanglah

amarah hanya membebani pikiran

dalam kepedihan, bima memegang erat tangan yudistira

aku tak bisa sesabarmu duhai kakakku

hatimu bening

penghambaanmu utuh

yudistira tiba di puncak

dan

moksa memilih siapa?

Palembang I Indonesia
17 Oktober 2026

Advertisement

Tinggalkan Komentar