Oleh : Agus Syihabuddin


Allah SWT, melalui firmanNya dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183, telah mewajibkan puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan. Kewajiban ini, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah SAW, merupakan salah satu rukun Islam. Konsekuensinya, keislaman seseorang tidaklah sempurna hingga ia menunaikan ibadah puasa sebagaimana yang telah diperintahkan.

Puasa memiliki hikmah yang bernilai dalam membentuk ketaatan kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an: “la‘allakum tattaqūn”—agar kalian bertakwa.

Allah SWT berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Al-Baqarah: 183). Puasa diwujudkan dalam bentuk imsak dari makan, minum, dan hubungan suami istri. Namun, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 186, hakikat puasa adalah sarana untuk membangun kesadaran spiritual bahwa Allah selalu dekat dengan hamba-Nya.

Advertisement

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۭ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Artinya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”

Di surat Ar-Rad ayat 28, Allah SWT berfirman mengenai ketenangan hati yang diperoleh karena zikir:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ
Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram”.

Ayat-ayat ini memberikan pesan bahwa puasa yang dijalankan dengan penuh kesungguhan akan mengokohkan keyakinan terhadap kehadiran Allah yang selalu dekat, sehingga menumbuhkan ketenangan jiwa, kejernihan hati, serta ketabahan yang semakin kokoh dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Kedekatan seorang mukmin dengan Allah SWT melahirkan ketenteraman batin, karena ia senantiasa merasakan kasih sayang, perlindungan, dan pertolongan-Nya dalam setiap aspek kehidupan. Dengan demikian, puasa bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan juga perjalanan spiritual yang mempererat hubungan seorang hamba dengan Tuhannya, membentuk pribadi yang lebih sabar, tawakal, tulus, dan peduli terhadap sesama.

Puasa dan Kesucian Rezeki

Puasa mengajarkan kita untuk menaati perintah Allah SWT dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Saat berpuasa, kita meninggalkan makanan dan minuman yang halal semata-mata karena kepatuhan terhadap perintah-Nya. Jika sesuatu yang halal saja kita tinggalkan karena Allah, maka tentu kita harus lebih menjauhi hal-hal yang diharamkan, termasuk dalam aspek harta.

Islam sangat menekankan pentingnya kebersihan harta, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 188:
وَلَا تَاۡكُلُوۡٓا اَمۡوَالَـكُمۡ بَيۡنَكُمۡ بِالۡبَاطِلِ وَتُدۡلُوۡا بِهَآ اِلَى الۡحُـکَّامِ لِتَاۡکُلُوۡا فَرِيۡقًا مِّنۡ اَمۡوَالِ النَّاسِ بِالۡاِثۡمِ وَاَنۡـتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ
Artinya: “Dan janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta orang lain dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.”

Ayat yang merupakan penutup dari rangkaian firman-Nya yang membahas shaum Ramadhan ini mengingatkan agar tidak memperoleh harta dengan cara yang batil, seperti riba, penipuan, suap, atau mengambil hak orang lain secara tidak adil. Dengan demikian, puasa menjadi sarana penyucian diri, baik secara spiritual maupun dalam menjaga kehalalan dan keberkahan harta.

Seseorang yang menyadari hakikat puasa akan lebih berhati-hati dalam memperoleh dan membelanjakan harta. Ia akan memastikan bahwa setiap rupiah yang diperolehnya berasal dari sumber yang halal, sehingga rezekinya penuh keberkahan. Dengan demikian, puasa bukan sekadar ibadah jasmani, tetapi juga bentuk penguatan moral dan kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan harta dalam kehidupan sehari-hari.

Puasa menjadikan kita lebih jujur dalam bekerja, lebih adil dalam berdagang, dan menjauhkan diri dari praktik-praktik yang merugikan hak orang lain. Selanjutnya, harta yang diperoleh dari hasil kerja atau perdagangan wajib segera disucikan dengan zakat, dan disempurnakan dengan infaq shadaqah sebagai wujud kepedulian terhadap sesama

Puasa dan Kepedulian Sosial

Puasa memberikan pengalaman langsung tentang bagaimana rasanya hidup dalam keterbatasan, meskipun hanya untuk waktu tertentu. Pengalaman ini menumbuhkan kesadaran bahwa banyak orang di sekitar kita yang menghadapi kesulitan serupa, bukan karena pilihan, melainkan karena keadaan ekonomi yang tidak mendukung. Kesadaran ini diharapkan menjadi pemicu bagi kita untuk lebih peduli dan aktif membantu mereka yang membutuhkan.

Berpuasa bertujuan menjadikan jiwa kita bertakwa. Allah SWT dalam firman-Nya di Surah Ali Imran ayat 134 menggambarkan karakteristik takwa dengan tiga ciri utama, salah satunya adalah senantiasa berbagi dengan hartanya, baik dalam keadaan lapang maupun sempit.

Dalam Islam, kepedulian terhadap sesama merupakan salah satu pilar keimanan. Nabi Muhammad SAW bersabda:
ما آمن بي من بات شبعانَ و جارُه جائعٌ إلى جنبِه و هو يعلم به
Artinya: “Tidaklah beriman seseorang yang tidur dalam keadaan kenyang sementara ia mengetahui ada tetangga di sampingnya yang kelaparan.” (HR. Al-Thabrani: 1/259) Sabda Nabi Muhammad SAW ini menegaskan bahwa iman seseorang tidak hanya diukur dari ibadah personal, tetapi juga dari kepeduliannya terhadap orang lain. Puasa melatih kita untuk tidak bersikap individualis, melainkan menjadikan kepekaan sosial sebagai bagian dari karakter sejati. Puasa mengajarkan bahwa harta yang kita miliki bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga sebagai sarana untuk membantu sesama. Dengan berbagi, kita tidak hanya meringankan beban orang lain, tetapi juga membersihkan hati dari sifat kikir serta menumbuhkan rasa empati yang lebih mendalam.

Amal sosial yang dilakukan dengan harta di jalan yang diridhai Allah SWT mendapatkan apresiasi yang besar dari-Nya. Allah SWT menjanjikan pahala yang berlipat ganda hingga 700 kali lipat, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Baqarah ayat 261:
مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنۢبُلَةٍۢ مِّا۟ئَةُ حَبَّةٍۢ ۗ وَٱللَّهُ يُضَـٰعِفُ لِمَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ
Artinya: “Bandingan (derma) orang-orang yang membelanjakan hartanya pada jalan Allah, ialah sama seperti sebiji benih yang tumbuh menerbitkan tujuh tangkai; tiap-tiap tangkai itu pula mengandungi seratus biji. Dan (ingatlah), Allah akan melipatgandakan pahala bagi sesiapa yang dikehendakiNya, dan Allah Maha Luas (rahmat) kurniaNya, lagi Meliputi ilmu pengetahuanNya”.

Dengan demikian, puasa bukan hanya sarana mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga membentuk pribadi yang lebih sabar sekaligus dermawan. Ibadah ini melatih keteguhan jiwa, kepekaan hati, dan memperkuat solidaritas dalam kehidupan bermasyarakat.

Khatimah

Puasa di bulan Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi sebuah perjalanan spiritual yang menyucikan diri, membersihkan rezeki, dan memperkuat kepedulian sosial. Ia mengajarkan kita untuk lebih jujur dalam mencari nafkah, lebih adil dalam membelanjakan harta, serta lebih dermawan dalam membantu sesama. Melalui puasa, kita ditempa untuk hidup lebih bersih, lebih adil, dan lebih penuh empati, sehingga keberkahan dunia dan akhirat semakin dekat dengan kita.

Mari jadikan Ramadan sebagai momentum untuk memperbaiki diri, menyucikan hati, dan menanamkan nilai-nilai ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga ibadah puasa yang kita jalani tidak sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi benar-benar membentuk pribadi yang lebih baik, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Allah SWT. Aamiin aamiin yaa robbal ‘aalamiin

* Associate Professor Dr. Drs. Agus Syihabudin, MA. Dosen Agama dan Etika Islam di Institut Teknologi Bandung (ITB). Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bandung. Da’i MUI Pusat. Tlp: (022) 2500595. HP: 0816.618.315. Email: a.syihab60@gmail.com / a_syihab@itb.ac.id.

Advertisement

Tinggalkan Komentar