puisi marlin dinamikanto

wajah yang kuyup
kumal berdaki
sekejap saja mampir
ke bilik ingatan
sudah itu lupa
siapa dia?
aku tak bertanya
karena aku merasa
sudah kenal lama
namanya Indonesia

tapi buku milik P dan K
yang ada kalimat
tidak diperjualbelikan bilang
Indonesia elok
ramah. Murah senyum
tubuhnya bercahaya
terbuat dari manik-manik
mas picis rajabrana
perangainya teduh
tata titi tentrem kartaraharja
bukan bulukan dan berisik
seperti kereta babaranjang

Indonesia yang aku kenal
beda dengan yang aku baca
mungkin penulisnya hanya mimpi
sekedar lamunan
atau angan-angan
entah lah,
tiba-tiba saja
kaki bergerak sendiri
mencari Indonesia yang asli
seperti kisah wayang kulit
bikinan sang dalang
Antasena mencari bapaknya

Indonesia kah dia?
kataku saat tiba
di sebuah gang perkotaan
oh, bukan dia
ini lebih mirip drama korea
wajahnya kuyup sembab
air mata terus mengalir
laksana butiran hujan
menggenang pipinya

kadang-kadang pula
saat bertemu orang berseragam
Indonesia lebih mirip
patung-patung yang berjemur
di lembah ribuan gunung
berjajar laksana serdadu
dari kerajaan purba
entah dari abad ke berapa
mbak Meta diam saja

kaki bergerak sendiri
ikuti jalan berkelok
kadang menapak curam
tanjakan tajam
truk batu merintih
kaki bolduser kesemutan
tapi tetap saja
saat tiba aku lupa
berpikir untuk apa
mencari Indonesia

Pegangsaan , 16 Agustus 2025
Advertisement

Tinggalkan Komentar