
Puisi Akbar AP
Aku hidup dengan bernapas.
Kamu pun bernapas.
Lantas apa yang perlu tergesa ditanya?
Lantaran kita sama, bukan berarti akhirnya bermuara sama.
Inovasi landasannya dari teori.
Lahir dari kesunyian bahasa pikiran.
Dinalar matang oleh pertukaran intuisi.
Dikoridori pribudi sutra perasaan.
Boleh jadi,
Asal kita dari Sabang.
Namun, Merauke tidak serta mencipta jarak.
Sekalipun dalam lingkaran interaksi nanti,
Ada adicipta, bahkan adu domba,
Sebab egosentris,
Semoga tidak berbuah garis.
Tahun baru, jiwa baru.
Bangunlah jiwanya, bangunlah bangsanya.
Aku secepat-cepatnya beranjak,
Dari Desember,
Dari suara masa silam yang sember.
Agar Januari mekar berseri.
Kendati resolusi tidak selalu,
Tercapai,
Masih terpagari,
Andai.
Tapi aku percaya.
Tuhan, senantiasa.
Menemani diri, mengawani darmabakti.
Menjauhkan aku dari segala bala bencana.
Sekarang ini, tahun ini.
“Setia sampai akhir dalam keyakinan.”
warisan ujaran Robert Wolter Mongisidi, hampir seabad lalu.
Namun, syaratnya kita harus,
“Merdeka seratus persen!”
Tuturan bernas tanpa logika mistika, Datuk Tan Malaka.
Supaya kita sanggup,
“Sakti tanpa otot, menang tanpa mengalahkan.”
Sosro Kartono, menyajikan lukisan zaman,
Pada kita untuk memilih dan berpijak.
Menuju akhir tahun dengan menghimpun,
Tertib pikiran, tertata sanubari.
Resolusi tidak jauh lagi.
Mari kita berseru!
Bantul, 1 Januari 2026











